May 1

Review TV Series Drama Korea: Oh My Ghostess

Dari ketidaksengajaan karena melihat ada foto Oppa cakep di timeline Twitter, akhirnya gue tahu itu dari serial apa.
Oh My Ghostess.
Setelah mencoba meluangkan waktu, akhirnya gue memaksakan diri untuk menikmati serial drama korea yang satu ini (setelah sebelumnya sudah nonton Goblin).

Episode pilot dari serial ini, entah kenapa, udah lebih dari cukup untuk membuat gue yakin harus banget gue nonton serial ini sampai selesai.
Memang banyak pertanyaan yang belum terjawab di beberapa episode awal, dan itu lebih dari cukup untuk buat penasaran.
Kenapa si hantu (Shin Soon Ae) meninggal? Sebenarnya dia itu siapa?
Lalu kenapa Na Bong Sun ngeselinnya separah itu?
Terus kenapa Chef Kang Sun Woo itu ngegemesin banget, charming banget, bahkan dia diam aja tanpa perlu ngomong apa-apa, termasuk tanpa buka baju, udah cukup nunjukin seberapa seksinya dia?
Hal lain yang buat gue suka adalah karakternya enggak nunjukin perubahan yang drastis begitu aja, setiap prosesnya ditunjukin, bahkan, sebelum serial TV ini berakhir, beberapa latar belakang karakter utamanya dijelaskan satu per satu.
Terlepas dari cakepnya Kang Sun Woo, gue juga suka karakternya dia yang selalu mencoba untuk menutupi kekurangan dengan membanggakan dirinya sendiri. Tapi jatuhnya tuh bukan narsis bikin najis, tapi malah bikin gemes setengah mati.
Lalu perubahan Na Bong Sun dari yang selalu minder, menutup diri, bahkan rajin banget minta maaf, sampai akhirnya punya kepercayaan diri sebegitu tinggi, prosesnya itu kelihatan dan bisa dipercaya. It’s possible to happens in real life.
AH! Shin Soon Ae, si hantu juga lucu. Berawal dari keyakinannya jika alasan dia belum bisa meninggalkan dunia karena dia masih perawan, hingga dia harus menemukan “man of vitality” untuk membuatnya tidak perawan lagi, bahkan ngejar-ngejar dan terus menggoda cowok itu… semuanya itu menggemaskan, dan ngeselin.
YA SIAPA COBA YANG GAK KESEL KALAU CHEF LUCU KANG SUN WOO DIPELUK-PELUK DAN DIGREPE-GREPE MULU KAYAK GITU?!

Salah satu pesan yang gue dapat dari serial ini:
“Gak peduli seberapa berat hidup yang kamu alami di masa lalu, itu tidak berarti hal itu tidak akan terlewati. Karena yang akan terjadi di masa depan itu kamu sendiri yang menentukan.”
April 26

Movie Review: Max Steel (2016)

Sepertinya gue pernah nonton trailernya, dan pernah berpikir (juga berkomentar) kalau film ini pasti bakalan mirip sama Tron Legacy. Mengingat “kostum”nya, gue memang langsung teringat dengan Tron. Terlebih dengan lampu yang ada di kostum itu, putih dan merah. Persis seperti yang ada di  film Tron Legacy.

Gue juga pernah berpikir ini akan jadi film sejenis Power Ranger, di mana nanti karakter utamanya berubah lalu mendadak berkostum.Tapi karena dia sendirian aja, mungkin namanya Power Ranger Alone  atau Alone Power Ranger? Ranger Dengan Tenaga Kesendirian. Ranger Jomblo. Pas juga sih. Soalnya karakter utama di film ini memang jomblo yang sudah terbiasa dengan kesendirian, karena cuma punya ibu, dan mereka terlalu sering pindah dari satu kota ke kota lain.


 

Kalau biasanya ketika nonton film sejenis ini, di mana ada yang berkostum keren kayak Power Rangers, Tron Legacy, atau The Avengers dkk kayak gitu gue pasti melek terus sepanjang film karena terlalu bahagia menanti seperti apa si jagoan akan beraksi, ketika nonton Max Steel ini, gue lumayan ngantuk.

Entah karena gue belum tidur, atau gue udah terlalu lama enggak ditidurin, yang pasti gue enggak terlalu bersemangat seperti biasanya. Mungkin juga itu karena karakter utamanya, Max, enggak seperti mereka yang biasa buat gue betah ngelihat dan maksain diri buat melek terus. Bisa jadi.

 

Max Steel ini bercerita tentang cowok yang balik lagi ke tempat kelahirannya setelah sekian belas tahun pindah-pindah enggak menentu. Tempat di mana ayah Max meninggal karena kecelakaan di salah satu laboratorium yang dikelola olehnya.

Kembalinya Max ke kota itu memicu bangunnya Steel, salah satu robot alien yang berisiknya minta ampun. Ketika Max masih belum tahu mengenai apa yang sebenarnya dia mampu lakukan, Max menganggap berbagai kejadian hanyalah sebuah keanehan. Sampai akhirnya, dia bertemu dengan Steel, yang sedikit demi sedikit memberitahukan apa saja yang mungkin dilakukan Max dengan kekuatannya itu.

Kenapa Steel memberikan informasi soal kekuatan Max sedikit demi sedikit? Jelas aja supaya durasi lebih panjang. #eh

Steel ngasih tahu informasi secara terbatas karena memang ingatan dia juga belum sepenuhnya pulih. Jadi Steel cuma bisa mengandalkan cuplikan demi cuplikan memori yang datang seiring waktu. Karena semakin lama dia dekat dengan Max, semakin dia sadar jika ada benih-benih asmara tumbuh di antara keduanya. #astaga #kokgini

 

Terlepas dari jalan cerita yang sepertinya terlalu dipaksakan untuk menjadi misteri dan kejutan, padahal ya udah hampir bisa ditebak kalau memperhatikan cerita baik-baik dari awal, film ini masih lumayan bisa diterima meskipun endingnya hanya seperti itu saja, dan cerita puncaknya juga cuma kayak gitu doang.

April 21

Movie Review: I Fine… Thank You Love You (2014)

Poster I Fine..Thank You Love You (I Fai Thank You Love You)

Pendapat ini mungkin saja karena gue belum terlalu banyak menonton film Thailand, tapi gue tetap mau bilang kalau film I FINE THANK YOU I LOVE YOU adalah salah satu film komedi romantis yang keren banget.

Udah pada tahu ya? Ya udah gapapa. Gue baru nonton filmnya kemarin dan akan ngasih review seperti biasa di blog ini.


Film ini mengisahkan tentang Pleng, guru les bahasa inggris, yang dimintai tolong oleh Kaya, salah satu muridnya yang berasal dari Jepang, yang kebetulan diterima bekerja di Amerika setelah ikut les bahasa inggris. Dengan bayaran tas Luis Vuitton, Pleng menerima tawaran untuk membantu Kaya putus dari pacar Thailand-nya yang bernama Yim (atau Gym ya?).

Awalnya, tidak ada masalah apa-apa. Termasuk ketika Pleng mencoba untuk menjelaskan pesan terakhir Kaya kepada Gym, yang intinya ingin hubungannya berakhir.

Tidak terima diputusin begitu aja, Gym akhirnya mengancam Pleng untuk mengajarinya bahasa inggris supaya dia bisa pergi bekerja di Amerika dan menyusul Kaya. Karena berada di bawah tekanan, akhirnya Pleng mau tidak mau harus bersedia mengajarkan bahasa inggris kepada Gym secara private.

Dengan sisa waktu 2 bulan sebelum perusahaannya mengirimkan orang baru ke Amerika, Gym mencoba belajar serius supaya berhasil lulus tes dan berangkat ke Amerika, juga berhasil mendapatkan Kaya kembali. Padahal, Kaya sudah tidak terlalu peduli dengan Gym, bahkan berharap Gym tidak akan berhasil berangkat ke Amerika.

Di saat kedekatannya dengan Gym karena les private, ada satu murid Pleng yang menyukai Pleng. Cakep, lucu, kaya, bahkan sengaja mengikuti les hanya untuk bisa bertemu dan mengenal Pleng.

Awalnya, Pleng mengira jika yang dirinya inginkan adalah muridnya itu. Sampai akhirnya Pleng menyadari apa yang sebenarnya dia inginkan.

 

Terlepas dari beberapa adegan menjijikkan dan mengganggu (buat gue sih gitu) yang mungkin buat orang lain adalah adegan lucu, gue suka dengan keseluruhan ceritanya.

Ditambah lagi, Gym itu cakepnya SUBHANALLAH banget yaaa. Wkwkwkwk.

 

Dan gue juga suka sama musik penutup film ini. Keren. HAHAHAHA.

Gym