April 26

Movie Review: Max Steel (2016)

Sepertinya gue pernah nonton trailernya, dan pernah berpikir (juga berkomentar) kalau film ini pasti bakalan mirip sama Tron Legacy. Mengingat “kostum”nya, gue memang langsung teringat dengan Tron. Terlebih dengan lampu yang ada di kostum itu, putih dan merah. Persis seperti yang ada di  film Tron Legacy.

Gue juga pernah berpikir ini akan jadi film sejenis Power Ranger, di mana nanti karakter utamanya berubah lalu mendadak berkostum.Tapi karena dia sendirian aja, mungkin namanya Power Ranger Alone  atau Alone Power Ranger? Ranger Dengan Tenaga Kesendirian. Ranger Jomblo. Pas juga sih. Soalnya karakter utama di film ini memang jomblo yang sudah terbiasa dengan kesendirian, karena cuma punya ibu, dan mereka terlalu sering pindah dari satu kota ke kota lain.


 

Kalau biasanya ketika nonton film sejenis ini, di mana ada yang berkostum keren kayak Power Rangers, Tron Legacy, atau The Avengers dkk kayak gitu gue pasti melek terus sepanjang film karena terlalu bahagia menanti seperti apa si jagoan akan beraksi, ketika nonton Max Steel ini, gue lumayan ngantuk.

Entah karena gue belum tidur, atau gue udah terlalu lama enggak ditidurin, yang pasti gue enggak terlalu bersemangat seperti biasanya. Mungkin juga itu karena karakter utamanya, Max, enggak seperti mereka yang biasa buat gue betah ngelihat dan maksain diri buat melek terus. Bisa jadi.

 

Max Steel ini bercerita tentang cowok yang balik lagi ke tempat kelahirannya setelah sekian belas tahun pindah-pindah enggak menentu. Tempat di mana ayah Max meninggal karena kecelakaan di salah satu laboratorium yang dikelola olehnya.

Kembalinya Max ke kota itu memicu bangunnya Steel, salah satu robot alien yang berisiknya minta ampun. Ketika Max masih belum tahu mengenai apa yang sebenarnya dia mampu lakukan, Max menganggap berbagai kejadian hanyalah sebuah keanehan. Sampai akhirnya, dia bertemu dengan Steel, yang sedikit demi sedikit memberitahukan apa saja yang mungkin dilakukan Max dengan kekuatannya itu.

Kenapa Steel memberikan informasi soal kekuatan Max sedikit demi sedikit? Jelas aja supaya durasi lebih panjang. #eh

Steel ngasih tahu informasi secara terbatas karena memang ingatan dia juga belum sepenuhnya pulih. Jadi Steel cuma bisa mengandalkan cuplikan demi cuplikan memori yang datang seiring waktu. Karena semakin lama dia dekat dengan Max, semakin dia sadar jika ada benih-benih asmara tumbuh di antara keduanya. #astaga #kokgini

 

Terlepas dari jalan cerita yang sepertinya terlalu dipaksakan untuk menjadi misteri dan kejutan, padahal ya udah hampir bisa ditebak kalau memperhatikan cerita baik-baik dari awal, film ini masih lumayan bisa diterima meskipun endingnya hanya seperti itu saja, dan cerita puncaknya juga cuma kayak gitu doang.

April 21

Movie Review: I Fine… Thank You Love You (2014)

Poster I Fine..Thank You Love You (I Fai Thank You Love You)

Pendapat ini mungkin saja karena gue belum terlalu banyak menonton film Thailand, tapi gue tetap mau bilang kalau film I FINE THANK YOU I LOVE YOU adalah salah satu film komedi romantis yang keren banget.

Udah pada tahu ya? Ya udah gapapa. Gue baru nonton filmnya kemarin dan akan ngasih review seperti biasa di blog ini.


Film ini mengisahkan tentang Pleng, guru les bahasa inggris, yang dimintai tolong oleh Kaya, salah satu muridnya yang berasal dari Jepang, yang kebetulan diterima bekerja di Amerika setelah ikut les bahasa inggris. Dengan bayaran tas Luis Vuitton, Pleng menerima tawaran untuk membantu Kaya putus dari pacar Thailand-nya yang bernama Yim (atau Gym ya?).

Awalnya, tidak ada masalah apa-apa. Termasuk ketika Pleng mencoba untuk menjelaskan pesan terakhir Kaya kepada Gym, yang intinya ingin hubungannya berakhir.

Tidak terima diputusin begitu aja, Gym akhirnya mengancam Pleng untuk mengajarinya bahasa inggris supaya dia bisa pergi bekerja di Amerika dan menyusul Kaya. Karena berada di bawah tekanan, akhirnya Pleng mau tidak mau harus bersedia mengajarkan bahasa inggris kepada Gym secara private.

Dengan sisa waktu 2 bulan sebelum perusahaannya mengirimkan orang baru ke Amerika, Gym mencoba belajar serius supaya berhasil lulus tes dan berangkat ke Amerika, juga berhasil mendapatkan Kaya kembali. Padahal, Kaya sudah tidak terlalu peduli dengan Gym, bahkan berharap Gym tidak akan berhasil berangkat ke Amerika.

Di saat kedekatannya dengan Gym karena les private, ada satu murid Pleng yang menyukai Pleng. Cakep, lucu, kaya, bahkan sengaja mengikuti les hanya untuk bisa bertemu dan mengenal Pleng.

Awalnya, Pleng mengira jika yang dirinya inginkan adalah muridnya itu. Sampai akhirnya Pleng menyadari apa yang sebenarnya dia inginkan.

 

Terlepas dari beberapa adegan menjijikkan dan mengganggu (buat gue sih gitu) yang mungkin buat orang lain adalah adegan lucu, gue suka dengan keseluruhan ceritanya.

Ditambah lagi, Gym itu cakepnya SUBHANALLAH banget yaaa. Wkwkwkwk.

 

Dan gue juga suka sama musik penutup film ini. Keren. HAHAHAHA.

Gym
April 11

Review Film Indonesia: Di Balik 98 (atau ‘Dibalik 98’ ya?)

Gue cuma tahu kalau di film ini akan ada demo dan kerusuhan. Seperti apa yang selama ini orang-orang katakan mengenai apa yang terjadi di Jakarta pada bulan Mei 1998.
Iya, gue enggak tahu apa yang terjadi saat itu, dan gue enggak mengerti sama sekali kondisi Indonesia saat itu bagaimana. Selain karena gue masih berumur kurang dari 10 tahun, gue juga enggak ada di Jakarta. Dan entah karena di umur segitu gue enggak mau nonton TV, atau terlalu banyak main dingdong di bioskop sebelah rumah, intinya gue gak tahu apa-apa soal peristiwa 1998.
Awalnya, gue kesal melihat film ini. Mungkin karena gue memang gak suka dengan demo atau keramaian, melihat apa yang dilakukan sama Chelsea Islan dan Boy William di film ini buat gue ikut emosi luar dalam.
Tapi seiring gue memaksakan diri untuk mengikuti film ini sampai dengan ceritanya berakhir, dengan gambaran yang beberapa teman pernah ceritakan soal kerusuhan Mei 1998, gue bisa bilang kalau film ini sangat bagus dari segi cerita.
Gue enggak mau berkomentar apa-apa soal tokoh politik yang ada di film ini dan memang ada di realita. Tapi karakter lain, gue enggak tahu itu fiksi atau bukan, yang ada di film ini, lebih dari cukup untuk membangun cerita dan membuat film ini tidak hanya membahas mengenai demo dan kerusuhan 1998 saja.
Salah satu pesan yang gue tangkap dari film Di Balik 98 ini adalah perjuangan kita untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik masih belum selesai. Perjalanan masih panjang, dan semuanya tidak boleh berhenti di kita.
Overall, terlepas dari lebih ramainya pembahasan penulisan judul (ketika film ini masih tayang di bioskop) antara Dibalik 98 dan Di Balik 98 manakah yang lebih benar menurut KBBI, film ini cukup untuk memberikan sedikit gambaran mengenai salah satu waktu bersejarah di Indonesia yang tidak mau diketahui oleh banyak generasi muda.
March 27

Review Film: POWER RANGERS (2017)



Bermodal tanpa ekspektasi berlebihan ketika mau nonton Power Rangers (2017), dan hal itu berakhir dengan rasa puas setelah keluar dari bioskop.

Iya, gue nonton trailernya yang menunjukkan kalau film ini mungkin akan busuk (seperti kata beberapa orang), tapi hal itu tetap enggak bisa mengurangi minat gue untuk nonton film yang gue tonton rutin setiap minggu sampai dengan gue lulus SMP dulu.

Mulai dari TV series Power Rangers yang ada di TV setiap hari Minggu, lalu Power Rangers Mighty Morphins The Movie, sampai dengan sewa VCD hanya untuk nonton Power Rangers Turbo, gue sudah melakukannya.

 

Mari bercerita sedikit tentang Power Rangers (2017).

 

Awalnya, gue sempat berpikir kalau film ini akan seperti film-film sebelumnya di mana Jason, Kimberly, Billy, Triny, dan Zack sudah menjadi orang terpilih begitu saja untuk menjadi Power Rangers. Kalau dari film Power Rangers sebelum-sebelumnya kan (hampir) semuanya selalu seperti itu ya. Ternyata gue salah besar.

Di film ini, ada cerita atau latar belakang setiap karakter, dan bagaimana akhirnya mereka bisa bertemu lalu terpilih menjadi Power Rangers. Dan hal itu buat gue sangat menyegarkan bayangan gue tentang Power Rangers.

Kalau dulu, gue langsung tahu kalau gimana pun caranya, siapa pun musuhnya, pasti musuhnya tahu-tahu kalah. Entah karena ada bala bantuan entah dari mana, atau karena  tahu-tahu Power Rangers punya rencana baru untuk menghancurkan musuhnya.

Di film ini, pemikiran gue yang seperti itu dihilangkan.

5 Anggota Power Rangers (2017)

Gue menikmati pengenalan setiap karakter, gue menikmati perjuangan yang harus mereka lakukan untuk menjadi Power Rangers, dan gue merasa baru kali ini gue merasa Power Rangers sangat berbeda dan menyenangkan.

Ya Allah itu rambutnya buat pengin acak-acak aja. <3




Ah iya!

Kalau sebelumnya kita cuma tahu kalau Zordon itu sebentuk kepala dalam tabung yang dihormati oleh Power Rangers, di film baru ini ada cerita tentang siapa itu Zordon.

Begitu juga dengan Rita Repulsa yang sebelumnya kita tahu selalu memakai topi dengan dua ujung lancip dan terlihat seperti nenek sihir jahat, yang suka menciptakan monster tanpa ada tujuan untuk apa selain untuk dihancurkan oleh Power Rangers berulang kali. Kali ini pun ada cerita tentang siapa itu Rita Repulsa.

 

Terlepas dari banyak hal yang mungkin untuk beberapa orang menjengkelkan, gue merasa Power Rangers (2017) ini adalah film yang sangat-sangat gue nikmati. Bukan hanya untuk mengenang masa kecil gue, tapi juga menyegarkan ingatan gue tentang Power Rangers.

 

Zack lucu.

Kimberly cantik.

Jason rambutnya ngegemesin (dan badannya bagus).

Trini dan Billy adalah karakter yang berbeda dari gambaran di Power Rangers sebelumnya. Dan itu lumayan menarik gue ketika melihat sisi lain Trini dan Billy.

 

Kalau ada yang mau bayarin gue nonton Power Rangers lagi, gue pasti gak akan mikir dua kali untuk bilang iya.

March 18

Review Film Indonesia: LONDON LOVE STORY 2 (2017)

Sebelumnya, gue gak ada niat untuk nonton film ini di bioskop. Alasannya sederhana, bukan karena gue gak mau lihat Dimas Anggara, tapi lebih karena gue udah tahu akan seperti apa ceritanya nanti.

Ya. Gue tadinya mau aja gitu sabar nunggu di layanan streaming film (kayak iFlix, Mox, atau Hooq) baru nonton, tapi ternyata karena ada ajakan yang enggak bisa gue tolak, akhirnya malam Minggu itu gue nonton film London Love Story 2 di Margo Platinum (sekarang udah jadi Margo Platinum XXI), Margo City.

 

Film London Love Story 2 ini sendiri sebenarnya kelanjutan dari London Love Story. Udah tahu ya? Ya udah kali aja belum makanya gue kasih tahu.

Ceritanya masih antara Dave dan Caramel. Pemainnya pun masih Dimas Anggara sama Michelle Ziu. Udah tahu? Oke gapapa.

Di film London Love Story 2 ini ada karakter baru, Gilang. Diperankan sama Rizky Nazar. Jadi ini kayak kombinasi film Magic Hour gitu, Dimas Anggara, Rizky Nazar, sama Michelle Ziu. Udah tahu juga? Ya Allah terus gue harus ngasih tahu apaan kalau udah tahu semua?

Seperti yang sudah beredar di trailer filmnya, (videonya ada di instagram.com/herrommy lho, coba deh cek), di film ini, Dave sama Caramel akhirnya berantem. Alasannya, karena Dave punya cowok lain.

Eh bohong ding.

Alasannya, karena Dave tahu rahasia yang disembunyikan sama Caramel. Dave merasa sudah dikhianati oleh Caramel karena hal itu. Padahal Caramel udah mau ngasih tahu rahasia itu, cuma karena ini film, jadi ya harus ada berantem dulu gitu biar durasi lebih panjang dan kelihatan seru. *ditabok Dimas*

 

Ketika di postingan review film London Love Story gue bilang gini,

One more thing about Dave.

I think he’s almost be the bravest man on the earth cause he’s almost blame the girl when she left him.

ALMOST.”

Di film London love Story 2 ini, Dave benar-benar berani menyalahkan Caramel. NOW HE’S THE BRAVEST MAN ON THE EARTH. For a while.

 

By the way, sekalipun judulnya tetap London Love Story 2, kebanyakan set di film ini tuh ada di Swiss. Tapi gapapa lah. Gak usah dibahas kenapa filmnya enggak ganti judul jadi Swiss Love Story ya.

 

Cerita di London Love Story 2 ini sebenarnya sangat sederhana. Penyelesaian konfliknya pun buat gue terlalu singkat. Kalau dibandingkan sama penyampaian cerita London Love Story sebelumnya, gue lebih suka yang dulu dibanding yang ini.

 

Yang menolong banget di film ini, selain dari set-nya yang keren, buat gue sih, akting Dimas Anggara.

Terlepas dari gue suka banget sama dia, baru di film ini gue harus mengakui kalau ketika Dimas (Dave) nakal dan genit itu keren banget. Dimas benar-benar jadi cowok yang sangat-sangat menggemaskan di film ini.

There I admit it, Dimas.

 

Gue enggak mau bilang film ini bagus atau jelek banget, gue cuma bisa bilang film ini masih bisa dinikmati meski enggak terlalu memorable.

February 23

Review TV Series: The Magician Season 1

Awalnya gue enggak mau nonton serial TV yang satu ini. Tapi karena terlalu sering muncul di rekomendasi yang harus ditonton di iFlix, akhirnya gue memutuskan untuk nonton.

By the way, gue baru nonton The Magician yang season 1 aja. Gue belum terlalu minat nonton season 2 karena sepanjang season 1 pun gue udah agak males nontonnya.

 

Padahal ini serial yang ada sihir-sihirannya, dan biasanya film atau serial sejenis ini yang bakal gue tonton berulang-ulang sampai benar-benar bosan. Tapi khusus untuk The Magician, satu kali nonton pun cukup.

Berikut beberapa alasannya:

  1. Gue enggak tahan sama bawelnya Quentin.

Quentin ini karakter utama di serial ini. Cowok. Suka baca buku. Bawelnya minta ampun. Mau ngejelasin hal sederhana pun dibuat jadi panjang lebar seperti menceritakan dulu asal mulanya kenapa bisa jadi seperti itu tuh gimana.

OKAY… Gue tahu ini Quentin kayak gitu untuk ngasih tahu cerita yang enggak dijelasin dari awal, untuk ngejelasin cerita yang ada di buku yang hanya dia yang tahu.

Quentin Coldwater

TAPI KAN KESEL YA NGELIHATNYA… HRRRR

  1. Gue enggak tahan sama enggak jelasnya Alice Quinn.

Di awal, Alice ini digambarkan sebagai murid baru Brakebills University (nama sekolah yang khusus ngajarin soal sihir) yang kelihatan pintar. Tapi pas menjelang akhir, dia malah kayak orang paling bingung mau ngapain, bahkan enggak jelas banget dia bisanya apa.

GEMES… Hrrr

Alice Quinn
Quentin and Alice Quinn

 

  1. Gue sebel banget sama Julia.

Julia ini sahabat baiknya Quentin. Dari kecil sering main bareng, tapi pas gede, pas Quentin baper dan beneran suka sama dia, Julia lebih suka anggap Quentin teman dekat dan milih pacaran sama yang lain. Julia ini juga diundang ikut tes masuk Brakebills University, tapi gagal. Jadi terpisah deh sama Quentin.

Lalu menyebalkannya di bagian mana?

Julia and Quentin

Julia ini awalnya kelihatan kayak cewek yang tahu maunya apa. Lalu mendadak gila karena ditolak masuk ke Brakebills sampai coba belajar sihir sama perkumpulan demi perkumpulan. Lalu baik lagi. Lalu pas akhir…. ANJIIIIIR NGESELIIIIIN…

 

  1. Elliot dan Margo itu…

Gue sempat bingung sama kedua karakter ini. Jadi ceritanya bestfriend gitu karena udah sekolah di Brakebills beberapa tahun. Awalnya ditunjukin kalau mereka itu cuma suka pesta doang, gak jelas bisanya apa, lalu mendadak jadi tahu sekian banyak sihir, lalu pas menjelang akhir season jadi kayak gak bisa apa-apa lagi.

Elliot, Quentin, Margo

APAAN KAGAK JELAS… HRRRRR

 

5. Penny

Ini karakter juga awalnya kelihatan menjanjikan.

Sama-sama sebal sama kelakuan Quentin lagi.

Udah cocok deh tuh sama gue.

Penny

Tapi setelah tahu kemampuannya apa, lalu dia belajar cara mengendalikannya gimana, eh pas di akhir dia malah jadi karakter yang gak tahu deh dia bisanya apa.

 

Oke. Segitu aja gue ngomel dan keselnya sama The Magician ini.

 

Kalau dilihat dari segi cerita sih masih lumayan bisa dinikmati dari awal.

Pasti greget aja sama kelakuan demi kelakuan karakter yang ada di sini.

Tapi gue benar-benar kecewa sama beberapa episode menjelang akhir season… Mungkin karena memang sudah pasti akan diperpanjang sampai akhirnya season 1 dibuat seperti itu.

Tapi sumpah ngeselin luar biasa.

Beberapa episode awal yang kelihatan menjanjikan bakal seru, lalu episode-episode selanjutnya malah buat ngantuk karena gak jelas ceritanya akan dibawa ke mana.

 

Pokoknya gue gak terlalu suka serial TV The Magician Season 1 ini… BYE!!

 

By the way, kalau kamu mau coba nonton, gapapa. Nanti kasih aja komentar di blog ini gimana menurutmu soal serial itu.

Kan gak adil ya kalau cuma dengar katanya aja lalu ikutan mikir serialnya gak asik. Kali aja kita berbeda selera. 😀

cpalead-327f6742c56e80f10d4082b3f66a1b1d.html.txt

February 12

Review Film Indonesia: London Love Story (2016)

Gue baru nonton film ini minggu lalu. Bukan nonton film dari DVD bajakan, tapi gue nonton di handphone gue, dari iFlix. Kebetulan film London Love Story nongol terus di bagian film Indonesia yang (kata iFlix sih) harus ditonton.

Akhirnya tergoda lah gue untuk nonton film ini.

Padahal tadinya males banget sumpah lihat film ini. Alasannya jelas, karena di situ ada Dimas Anggara, dan gue gak mau baper karena nonton film dia. I love him that much till I have no idea what to says everytime I see him on movie, music video, or etc.

 

Oke. Hentikan curhatnya soal Dimas. Sekarang fokus bahas filmnya.

 

Awal dari film ini, gue cuma bisa bilang, “Lumayan okelah untuk pengenalan karakter di bagian awal karena udah ngasih tahu kemungkinan jalan ceritanya bakal gimana.”

Ditambah lagi, siapa sih yang enggak terhibur sama pemandangan yang ada di kota London? Iya, kan. Yang belum pernah ke sana sih pasti bahagia banget ketika lihat seperti apa itu London, yang kebetulan bukan cuma jadi judul, tapi juga jadi set utama film ini.

London Love Story ini ceritanya tentang Dave (Dimas Anggara) yang gagal move on setelah merasa menemukan cinta sejatinya saat dia sedang berlibur dan Caramel (Michelle Ziu) yang menghindar dari orang yang pernah membuatnya bahagia namun akhirnya malah membuatnya menjadi orang yang terluka karena sudah dihancurkan hatinya. Dan London menjadi tempat yang dipilih oleh mereka untuk melakukan pelarian.

Di London, Caramel berteman baik dengan Bima (Dion Wiyoko) yang kebetulan sangat menginginkan dirinya untuk menjadi kekasihnya. Sayangnya Caramel yang entah karena masih belum siap, belum move on, atau menganggap Bima terlalu baik hingga lebih nyaman dijadikan teman.

Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, Dave bertemu dengan Adelle (Adila Fitri) yang mencoba untuk bunuh diri di London Bridge, akhirnya Dave harus direpotkan oleh Adelle yang tidak tahu harus tinggal di mana.

Dan ternyata itu semua bukanlah kebetulan. Karena Adelle adalah teman Bima, lalu juga menjadi teman Caramel setelah dikenalkan oleh Bima. Lalu, ternyata yang menjadi alasan mengapa Caramel tidak mau membuka hatinya untuk Bima adalah…

 

Kayaknya mending tonton langsung aja deh filmnya ya daripada gue cerita panjang lebar. Udah mulai rawan spoiler dan bisa menghilangkan kejutan yang enggak terlalu mengejutkan kalau lanjut diceritain.

 

Overall, film ini cukup asik dinikmati dan bisa buat penonton bertanya-tanya dan geregetan karena banyak banget yang sengaja disembunyikan dari awal lalu muncul di akhir ceritanya.

 

Cuma kalau boleh jujur… ada beberapa bagian dari film ini yang buat gue bingung juga kesel sedikit:

  1. Dave kerjanya apa sih di London? Kenapa dia punya mobil, apartemen, uang juga kelihatannya ada terus, tapi gak sedikit pun dibahas pekerjaannya apa? Gue bingung di situ.
  2. Kenapa lagi-lagi Dimas Anggara harus sekarat? Gue udah cukup males lihat dia sakit di film Magic Hour, terus di sini dia mau mati lagi? JANGAN GITU DONG, DIMS. KAN KITA BELUM KENALAN DAN NGOBROL LANGSUNG! (dih gitu)

 

Oh iya… One more thing about Dave.

I think he’s almost be the bravest man on the earth cause he’s almost blame the girl when she left him.

ALMOST.

 

Udah ah.

Yang pasti sekarang gue lagi nungguin film London Love Story 2 karena gue masih mau lihat film Dimas Anggara sukses dan ditonton banyak orang.

Ada yang gak sabar nunggu bulan Maret biar bisa nonton film itu juga?

March 3

Review Film: Stay With Me

 

Awalnya, gue agak sebal ketika film baru main, karena gue merasa kamera goyang-goyang hingga gambarnya terasa sedikit mengganggu. Tapi setelah beberapa menit kemudian, akhirnya gue malah dipaksa untuk menahan air mata karena awal mula drama dari cerita ini sudah dimulai.

 

Jujur aja, awalnya gue nonton film Stay With Me ini karena katanya ada adegan mandi Boy William. Di trailer pun ada, meski kalau dilihat lebih teliti, Boy William gak beneran telanjang. *sad*

Tapi ternyata gue tetap nonton juga film ini. ?

 

Boy William di film Stay With Me memerankan tokoh Boy Dimas. Dipanggilnya Boy. Soalnya kalau dipanggilnya Dimas, nanti kesayangan gue yang nengok. *digetok*

Sampai dengan akhir film, gue yakin kalau karakter Boy Dimas ini zodiaknya Scorpio.

Bodoh dalam masalah cinta, suka ngambek kalau gak dikasih “jatah” sama pasangan, tapi gak mau begitu aja pergi meninggalkan pasangannya meski jelas dia udah sakit hati sama kelakuannya.

 

Pasangan Boy Dimas di film ini adalah Deyna yang diperankan sama Ully Triani. Mengejutkan sih buat gue kalau harus komentar soal akting Ully Triani di film ini. Dikenalkan di awal film (juga di poster) sampai menggunakan “introducing”, tapi ternyata aktingnya gak kalah keren dari Boy William.

Kalau harus bahas zodiak Deyna di film ini, gue yakinnya sih dia itu Pisces. Banyak alasan yang membuat gue yakin dengan itu, tapi gak akan gue tulis lengkap di sini, nanti aja buat buku gue, #BukuZodiakHerrommy. Huahahaha.

 

Meski ada bagian dari cerita yang mengganggu banget buat gue karena gak ada penjelasan kenapa dan untuk apa yang sebelumnya dijanjikan Boy ketika ingin menikahi Deyna, tapi masih banyak hal lain yang membuat cerita di film ini enggak kehilangan banyak momen yang cukup mengaduk-aduk emosi.

Kesal. Sedih. Lucu. Gemas. Bahagia. Prihatin. Mau nahan nangis. Mau nahan ketawa. Komplit. Ada semua di film ini.

 

Buat kamu yang gampang nangis, atau sedang ada dalam fase ingin balikan sama mantan tapi terhalang karena dia sudah punya pasangan, gue sarankan untuk bawa tisu saat nonton film ini. Kalau bisa, duduk di lokasi yang bisa buat kamu lebih leluasa nangis tanpa harus mengganggu yang lain, atau membuatmu merasa malu karena harus nangis.

 

Oh satu lagi, product placement di film ini juga keren. Biar itu buat satu adegan kayak cuma buat nambah durasi aja, tapi cara memasukan produk sponsor di film ini masih bisa dimaklumi dan enggak sampai mengganggu banget.

 

Tonton film ini.

Mari baper bersama karena mantan (jauh lebih buat bahagia dibanding pasangan baru kita).
– Herrommy –

Poster film Stay With Me
February 23

Movie Review: Pride and Prejudice and Zombies

Yang pertama kali terlintas di pikiran gue saat membaca judulnya dan melihat poster filmnya adalah “Ini film apaan sih?”

Gue cuma yakin kalau di film ini bakal ada zombie. Udah. Gue gak memikirkan atau memperkirakan apa-apa lagi selain itu.

Gue sengaja enggak berharap banyak karena film ini memang enggak banyak dibicarakan. Jangankan dapat respon positif, tahu ada teman yang mau nonton film ini aja enggak.

 

Gue cerita sedikit ya.

Pride and Prejudice and Zombies ini ceritanya berlatar belakang tentang Inggris beberapa ratus tahun yang lalu (sekitar tahun 1800, CMIIW). Gampangnya, (buat gue yang enggak tahu sejarah aslinya bagaimana), film ini menceritakan tentang Inggris di masa itu, dengan twist (baca: plot tambahan) ada wabah zombie.

 

Setiap kali menonton film yang ada zombie, beberapa orang (seperti gue) mungkin akan secara otomatis (tanpa sadar) membandingkannya dengan serial The Walking Dead yang sudah gue tinggalkan sejak season 3. Dan film ini, harus gue akui sangat keren. Bahkan termasuk yang paling berhasil membuat gambaran gue tentang zombie tidak berguna di The Walking Dead itu hilang.

Film ini berhasil memberikan gambaran baru tentang zombie. Zombie menye-menye kayak anak galau habis putus cinta lalu enggak mau makan dan mandi di serial The Walking Dead itu gak ada. Gak sebanyak di The Walking Dead maksudnya.

 

Selain dari zombie, yang tidak kalah menarik dari film Pride and Prejudice and Zombies adalah karakter (manusia) lainnya (yang bukan zombie). Entah gue yang masih kurang referensi film sejenis ini, atau memang film ini terlalu hebat dalam menyusun cerita, gue kebanyakan bengong dan hampir tepuk tangan di dalam bioskop. Jalan cerita sekaligus dialognya enggak terduga. Ketika sudah berpikir “Oh pasti begini”, ternyata yang terjadi adalah hal lainnya.

 

Buat gue, film ini sangat menghibur dari segi cerita, apalagi untuk mereka yang suka film zombie.

 

P.S: “Kalau kamu kagetan, gampang jijik, juga gampang baper, jangan memaksakan diri nonton film ini. Kasihan kamunya.”

 

Berikut foto beberapa cast film Pride and Prejudice and Zombies yang mungkin bisa jadi pertimbangan kamu akan nonton atau enggak:



February 13

Deadpool itu Film Sampah

Entah gue yang enggak terlalu memperhatikan cara promosi film Hollywood selama ini, atau memang baru kali ini ada film yang promosinya gila-gilaan seperti Deadpool.

Promosi yang dilakukan jauh-jauh hari yang salah satunya dengan menjadikan film orang lain sebagai salah satu sumber bercandaan adalah salah satu yang dilakukan oleh Deadpool. Itu sempat membuat gue mengurangi ekspektasi gue untuk film Deadpool.

 

Gue enggak yakin filmnya akan bagaimana karena promosi yang digunakan sempat gue anggap terlalu memaksa.

 

Lanjut bahas filmnya…

Sampai akhirnya waktu yang ditunggu itu tiba, Deadpool resmi tayang di bioskop Indonesia. Gue nonton langsung di hari pertama tayang.

Sejak lampu dalam bioskop mati, ternyata banyak hal yang langsung disuguhkan oleh Deadpool. Gue udah hampir cekikikan ketika melihat tulisan-tulisan apalah itu yang ada di layar.

“Sepertinya film ini akan jadi film superhero paling sampah yang pernah gue tonton,” ucap gue dalam hati.

DAN TERNYATA BENAR AJA DONG. Deadpool adalah film superhero paling sampah yang pernah gue tonton. Gue pun akhirnya mengerti dengan sendirinya kenapa promosi dari jauh-jauh hari film Deadpool ini sampai segitunya. Karena memang isi filmnya pun bisa dibilang hampir membahas semua hal dan “menyerang” semua orang atau film termasuk Ryan Reynolds dan film yang sebelumnya dia perankan sendiri.

 

“SUPERB! HILARIOUS!”

Mungkin itu testimoni gue soal Deadpool jika harus dipersingkat.

Kalau harus dibandingkan kompleksitas dan lucunya film ini mirip dengan film apa, gue akan memilih untuk membandingkan film Deadpool dengan Kingsman: Secret Service, tapi Deadpool ini dapat rasa superhero. Itu aja bedanya.

Mungkin gue akan nonton film ini lagi dalam waktu dekat karena keren dan menghiburnya sudah masuk ke level luar biasa versi gue.

 

Dan karena ini adalah film yang sangat vulgar dan dapat rate Dewasa, tolong untuk orangtua yang ingin mengajak anaknya yang masih di bawah umur menonton film ini, pikir-pikir lagi. Ini berbeda dengan film superhero lainnya. Bukan hanya dialognya yang tidak cocok, tapi juga ada banyak adegan yang kasihan banget kalau harus ditonton anaknya.

Iya, film ini mungkin sangat menghibur untuk orang dewasa, tapi tidak terlalu cocok untuk ditonton oleh anak-anak.

Jangan juga sampai memaksakan anaknya ikut nonton film Deadpool ini, lalu setelah selesai malah ngomel. Kasihan kakak gue, Ryan Reynolds, nanti bisa-bisa film ini gak akan ada lagi kelanjutannya kalau terlalu banyak respon negatif yang jelas-jelas karena kesalahan orangtua bodoh yang tadi.

Be a smart parents, please.

Love greetings from Deadpool.

 

Sorry #TeamCap and #TeamIronMan on Civil War, I’m #TeamDeadpool.”