February 23

Review TV Series: The Magician Season 1

Awalnya gue enggak mau nonton serial TV yang satu ini. Tapi karena terlalu sering muncul di rekomendasi yang harus ditonton di iFlix, akhirnya gue memutuskan untuk nonton.

By the way, gue baru nonton The Magician yang season 1 aja. Gue belum terlalu minat nonton season 2 karena sepanjang season 1 pun gue udah agak males nontonnya.

 

Padahal ini serial yang ada sihir-sihirannya, dan biasanya film atau serial sejenis ini yang bakal gue tonton berulang-ulang sampai benar-benar bosan. Tapi khusus untuk The Magician, satu kali nonton pun cukup.

Berikut beberapa alasannya:

  1. Gue enggak tahan sama bawelnya Quentin.

Quentin ini karakter utama di serial ini. Cowok. Suka baca buku. Bawelnya minta ampun. Mau ngejelasin hal sederhana pun dibuat jadi panjang lebar seperti menceritakan dulu asal mulanya kenapa bisa jadi seperti itu tuh gimana.

OKAY… Gue tahu ini Quentin kayak gitu untuk ngasih tahu cerita yang enggak dijelasin dari awal, untuk ngejelasin cerita yang ada di buku yang hanya dia yang tahu.

Quentin Coldwater

TAPI KAN KESEL YA NGELIHATNYA… HRRRR

  1. Gue enggak tahan sama enggak jelasnya Alice Quinn.

Di awal, Alice ini digambarkan sebagai murid baru Brakebills University (nama sekolah yang khusus ngajarin soal sihir) yang kelihatan pintar. Tapi pas menjelang akhir, dia malah kayak orang paling bingung mau ngapain, bahkan enggak jelas banget dia bisanya apa.

GEMES… Hrrr

Alice Quinn
Quentin and Alice Quinn

 

  1. Gue sebel banget sama Julia.

Julia ini sahabat baiknya Quentin. Dari kecil sering main bareng, tapi pas gede, pas Quentin baper dan beneran suka sama dia, Julia lebih suka anggap Quentin teman dekat dan milih pacaran sama yang lain. Julia ini juga diundang ikut tes masuk Brakebills University, tapi gagal. Jadi terpisah deh sama Quentin.

Lalu menyebalkannya di bagian mana?

Julia and Quentin

Julia ini awalnya kelihatan kayak cewek yang tahu maunya apa. Lalu mendadak gila karena ditolak masuk ke Brakebills sampai coba belajar sihir sama perkumpulan demi perkumpulan. Lalu baik lagi. Lalu pas akhir…. ANJIIIIIR NGESELIIIIIN…

 

  1. Elliot dan Margo itu…

Gue sempat bingung sama kedua karakter ini. Jadi ceritanya bestfriend gitu karena udah sekolah di Brakebills beberapa tahun. Awalnya ditunjukin kalau mereka itu cuma suka pesta doang, gak jelas bisanya apa, lalu mendadak jadi tahu sekian banyak sihir, lalu pas menjelang akhir season jadi kayak gak bisa apa-apa lagi.

Elliot, Quentin, Margo

APAAN KAGAK JELAS… HRRRRR

 

5. Penny

Ini karakter juga awalnya kelihatan menjanjikan.

Sama-sama sebal sama kelakuan Quentin lagi.

Udah cocok deh tuh sama gue.

Penny

Tapi setelah tahu kemampuannya apa, lalu dia belajar cara mengendalikannya gimana, eh pas di akhir dia malah jadi karakter yang gak tahu deh dia bisanya apa.

 

Oke. Segitu aja gue ngomel dan keselnya sama The Magician ini.

 

Kalau dilihat dari segi cerita sih masih lumayan bisa dinikmati dari awal.

Pasti greget aja sama kelakuan demi kelakuan karakter yang ada di sini.

Tapi gue benar-benar kecewa sama beberapa episode menjelang akhir season… Mungkin karena memang sudah pasti akan diperpanjang sampai akhirnya season 1 dibuat seperti itu.

Tapi sumpah ngeselin luar biasa.

Beberapa episode awal yang kelihatan menjanjikan bakal seru, lalu episode-episode selanjutnya malah buat ngantuk karena gak jelas ceritanya akan dibawa ke mana.

 

Pokoknya gue gak terlalu suka serial TV The Magician Season 1 ini… BYE!!

 

By the way, kalau kamu mau coba nonton, gapapa. Nanti kasih aja komentar di blog ini gimana menurutmu soal serial itu.

Kan gak adil ya kalau cuma dengar katanya aja lalu ikutan mikir serialnya gak asik. Kali aja kita berbeda selera. 😀

cpalead-327f6742c56e80f10d4082b3f66a1b1d.html.txt

February 12

Review Film Indonesia: London Love Story (2016)

Gue baru nonton film ini minggu lalu. Bukan nonton film dari DVD bajakan, tapi gue nonton di handphone gue, dari iFlix. Kebetulan film London Love Story nongol terus di bagian film Indonesia yang (kata iFlix sih) harus ditonton.

Akhirnya tergoda lah gue untuk nonton film ini.

Padahal tadinya males banget sumpah lihat film ini. Alasannya jelas, karena di situ ada Dimas Anggara, dan gue gak mau baper karena nonton film dia. I love him that much till I have no idea what to says everytime I see him on movie, music video, or etc.

 

Oke. Hentikan curhatnya soal Dimas. Sekarang fokus bahas filmnya.

 

Awal dari film ini, gue cuma bisa bilang, “Lumayan okelah untuk pengenalan karakter di bagian awal karena udah ngasih tahu kemungkinan jalan ceritanya bakal gimana.”

Ditambah lagi, siapa sih yang enggak terhibur sama pemandangan yang ada di kota London? Iya, kan. Yang belum pernah ke sana sih pasti bahagia banget ketika lihat seperti apa itu London, yang kebetulan bukan cuma jadi judul, tapi juga jadi set utama film ini.

London Love Story ini ceritanya tentang Dave (Dimas Anggara) yang gagal move on setelah merasa menemukan cinta sejatinya saat dia sedang berlibur dan Caramel (Michelle Ziu) yang menghindar dari orang yang pernah membuatnya bahagia namun akhirnya malah membuatnya menjadi orang yang terluka karena sudah dihancurkan hatinya. Dan London menjadi tempat yang dipilih oleh mereka untuk melakukan pelarian.

Di London, Caramel berteman baik dengan Bima (Dion Wiyoko) yang kebetulan sangat menginginkan dirinya untuk menjadi kekasihnya. Sayangnya Caramel yang entah karena masih belum siap, belum move on, atau menganggap Bima terlalu baik hingga lebih nyaman dijadikan teman.

Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, Dave bertemu dengan Adelle (Adila Fitri) yang mencoba untuk bunuh diri di London Bridge, akhirnya Dave harus direpotkan oleh Adelle yang tidak tahu harus tinggal di mana.

Dan ternyata itu semua bukanlah kebetulan. Karena Adelle adalah teman Bima, lalu juga menjadi teman Caramel setelah dikenalkan oleh Bima. Lalu, ternyata yang menjadi alasan mengapa Caramel tidak mau membuka hatinya untuk Bima adalah…

 

Kayaknya mending tonton langsung aja deh filmnya ya daripada gue cerita panjang lebar. Udah mulai rawan spoiler dan bisa menghilangkan kejutan yang enggak terlalu mengejutkan kalau lanjut diceritain.

 

Overall, film ini cukup asik dinikmati dan bisa buat penonton bertanya-tanya dan geregetan karena banyak banget yang sengaja disembunyikan dari awal lalu muncul di akhir ceritanya.

 

Cuma kalau boleh jujur… ada beberapa bagian dari film ini yang buat gue bingung juga kesel sedikit:

  1. Dave kerjanya apa sih di London? Kenapa dia punya mobil, apartemen, uang juga kelihatannya ada terus, tapi gak sedikit pun dibahas pekerjaannya apa? Gue bingung di situ.
  2. Kenapa lagi-lagi Dimas Anggara harus sekarat? Gue udah cukup males lihat dia sakit di film Magic Hour, terus di sini dia mau mati lagi? JANGAN GITU DONG, DIMS. KAN KITA BELUM KENALAN DAN NGOBROL LANGSUNG! (dih gitu)

 

Oh iya… One more thing about Dave.

I think he’s almost be the bravest man on the earth cause he’s almost blame the girl when she left him.

ALMOST.

 

Udah ah.

Yang pasti sekarang gue lagi nungguin film London Love Story 2 karena gue masih mau lihat film Dimas Anggara sukses dan ditonton banyak orang.

Ada yang gak sabar nunggu bulan Maret biar bisa nonton film itu juga?