April 20

Gara-Gara Menolak Ajakan Selfie, Netizen BANGSAT Kompak Menjadikan Dian Sastro Bahan Bully

foto ini sepertinya dari salah satu scene film GANGSTER (?)

 

Sepertinya, masih banyak orang yang beranggapan kalau artis itu harus memenuhi semua ekspektasi fans/penggemar. Jadilah ketika ada hal yang tidak diharapkan penggemar dilakukan oleh artis idolanya, mereka akan memutuskan untuk berhenti mengidolakan, dan mulai rajin mencibir setiap hal yang dilakukannya.

Seperti yang terjadi kepada Dian Sastrowardoyo. Keputusannya untuk menolak ajakan selfie dengan menepis tangan penggemar, membuatnya menerima banyak hujatan dan kritikan, bahkan tidak sedikit dari mereka mengancam tidak akan menonton film Kartini yang sedang tayang di bioskop saat ini, yang kebetulan diperankan oleh dirinya.
Hanung Bramantyo berinisiatif untuk meminta maaf atas nama Dian Sastro yang berperan dalam filmnya, tapi netijen bangsat masih menganggap hal itu kurang karena bukan Dian Sastro sendiri yang melakukan.
Gue menyayangkan sikap Hanung untuk meminta maaf seperti itu. Karena buat gue, hal itu hanya memunculkan perasaan “menang” di hati para netijen bodoh itu, jika yang mereka lakukan itu memang benar, bahkan sama sekali tidak menyalahi aturan.
Meskipun memang tidak ada pilihan lain yang lebih baik untuk dilakukan, mengingat Hanung (tentu saja) harus menyelamatkan filmnya dari ancaman sepi penonton karena ada banyak yang menganggap Dian Sastro in real life, tidak seperti sosok Kartini yang dia perankan, (dan katanya sih) yang selama ini netijen-netijen idolakan.
Yang gue bingung, apa iya ketika seorang aktor mendapatkan peran krusial (yang menggambarkan karakter seseorang) itu berarti dia harus selalu seperti itu juga di kehidupan nyata? Lalu bagaimana cara seorang aktor yang sudah memainkan banyak sekali peran untuk menerapkan kehidupan berbagai karakter itu dalam kehidupan nyata?

Kebodohan netijen berlanjut ketika Dian Sastro memberikan klarifikasi terhadap apa yang isinya:
“Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang . Tiada mendendam, itulah bahagia.” – R.A. Kartini.
Ini adalah kutipan dari Raden Ajeng Kartini yang sangat menginspirasi saya saat ini.
Penggemar.
Adalah elemen penting bagi karir saya, karena merekalah yang ikut menghidupkan industri film. Tanpa penonton, tanpa penggemar, saya dan kami semua dalam dunia film tak akan ada artinya.
Berfoto bersama.
Dian Sastro adalah sama seperti perempuan-perempuan lainnya.
Saya berusaha membagi waktu antara bekerja dan menjalani peran saya sebagai pribadi, istri, dan ibu anak-anak saya. Saat bekerja, saya mencoba total sebagai figur public, termasuk melayani permintaan foto. Sedangkan saat menjalani kehidupan pribadi, terutama saat bersama anak dan suami, saya pun mencoba mencurahkan perhatian saya sepenuhnya untuk mereka.
Saya pun melihat situasi, kalau memang saya sedang santai dan ada waktu, saya akan melayani permintaan foto.
Terkadang bila ada penggemar yang karena begitu bersemangat, sehingga lupa membedakan saya sedang bekerja atau sedang mengasuh anak-anak saya, dan minta foto ketika saya sedang bersama keluarga saya, maaf bila terpaksa saya tolak dengan sopan.
Saya paham itu risiko sebagai pekerja seni, tetapi saya juga mencoba sebisa saya mempunyai kehidupan pribadi, berkomitmen pada peran saya sebagai ibu dan seorang istri.
Mengenai insiden tempo hari, sejujurnya itu hal yang tidak disengaja. Ada seseorang dari belakang saya yang tiba-tiba memagang badan saya, dan karena saya kaget serta reflex, saya menepis dan menghindar. Saya tidak bermaksud tidak ramah atau tidak sopan. Memang video tersebut kemudian saya hapus agar tidak menimbulkan kesan yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya terjadi.
Saya dapat memahami semua respon dan bahwa di dunia social media ini benar adanya bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan atas apa yang terjadi. Apa yang bisa kita buat hanyalah bagaimana meresponnya di waktu yang tepat dan dengan cara yang baik.
Terima kasih buat semuanya.
Saya menerima semua kritik & dukungan dengan lapang dada.

 

Sudah memberikan klarifikasi tentang seberapa Dian Sastro hanya mencoba untuk membatasi kehidupan pribadi di mana dia tidak sedang bekerja pun, masih ada saja netijen tolol yang memberikan komentar seolah Dian Sastro memang melakukan kesalahan besar hingga perlu melakukan klarifikasi serta meminta maaf.

 

Beberapa komentar yang sempat gue baca di http://instagram.com/therealdisastr :
“Padahal gue ngefans banget sama doi. Paket lengkap dy, udah cantik, pinter, kaya, sukses, apalagi yaa. Kirain juga ramah. Jadi ilfeel lah liat nya. Iya padahal itu lg kerja kan, bkn ngasuh anak, hahaha”
“minta maaf aja susah, minta maaf dong dian, jgn so gengsiiiii, mas hanung aja mnta maaf sbgai sutradara, nah ini anak buah nya ko gede gengsi.”
“jadi males nonton kartini artisny jijikan.”
“dian katro.”
“KECEWA!! Saya pikir dian sastro itu figure wanita Indonesia yg anggun baik cantik menghargai orng lain. Tapi tidak, ternyata khidupan aslinya kelihatan begitu angkuhnya dan sangat berbeda apa yg ditampilkan d publik slama ini. Sprit sangat jijik mlhat orang yg pdahal sngt mencinttainya. Apapun aasannya, wlupun tdk lg bekerja tpi attitude itu no.1.”
“Sama ky raisa, masih mending inces klo.ktmu.”
“Kok ga ada kata maaf nya yah?namanya artis resiko donk klo ada fans, di foto khan ga nyampe 5 menit mba,klo lg sm klrga gam au diganggu fans ksh pengumuman aja biar fans dan org2 pd ngerti.”

Itu adalah beberapa komentar yang masuk di comment post IG Dian Sastro saat dia memberikan klarifikasi. Intinya, ada terlalu banyak dari mereka yang ingin Dian Sastro meminta maaf karena menganggap itu tidak mencerminkan apa yang seharusnya ditunjukkan publik figur. (?)
Gue enggak tahu, ada berapa orang dari mereka yang memang mengerti seperti apa rasanya ketika yang namanya privasi sudah terlalu diusik. Bahkan, gue lebih yakin mereka memang tidak mengerti sama sekali kalau ada artis yang bukan hanya totalitas ketika sedang “bekerja”, tapi berusaha sebisa mungkin juga untuk tetap memiliki kehidupan pribadi yang tidak semua orang bisa masuki.
Gue tahu itu adalah risiko sebagai publik figur jika dia dikenal oleh banyak orang, atau bahkan dikagumi oleh banyak orang. Tapi gue enggak bisa membenarkan mereka yang menganggap sebagai artis, dia harus menuruti keinginan fans yang ingin mengabadikan momen bersamanya. Gue bahkan enggak akan bisa menerima sekalipun alasan penggemar itu karena dia ingin pamer karena pernah foto dengan artis, jika itu sampai harus melanggar yang namanya privasi atau batasan yang udah dibuat si artis.
Gue mencoba paham kalau enggak ada di antara mereka yang memang mengerti rasanya menjadi publik figur, atau pernah dekat dengan publik figur. Karena mereka lebih suka menganggap apa yang mereka inginkan dari idolanya adalah salah satu kewajiban yang tidak boleh diabaikan.
WHO THE HELL THEY THINK THEY ARE?
Damn it.

Sejak kapan fans punya kuasa penuh untuk menentukan hidup artis idolanya?
Sejak kapan fans memiliki hak untuk mengatur idolanya sesuka hati melakukan apa saja yang mereka mau?
Siapa yang membudayakan kebiasaan fans menjadi sebangsat dan sebajingan itu sampai merasa sah jika harus melanggar privasi orang lain (sekalipun dia berprofesi sebagai artis)?

Terlepas dari semuanya, terlepas dari apa penilaian kalian mengenai Dian Sastro, gue cuma mau bilang kalau apa yang dia lakukan saat ini, buat gue sendiri, sama sekali enggak salah. Jadi memang Dian Sastro gak perlu minta maaf sama sekali.

Dan mengenai film Kartini, kalau kalian semua enggak mau nonton karena merasa Dian Sastro in real life enggak seperti Kartini yang sedang dia perankan dan enggak memenuhi harapan kalian akan Dian Sastro, it’s all your choice. One thing for sure, it’s your loss too if you don’t watch the movie because of that. At least I knew what kind of people you are.

 

 

(*note: postingan klarifikasi Dian Sastro dan komentar yang gue rangkum di sini kata-katanya insya Allah sesuai dengan yang ada di aslinya. Gue gak edit sama sekali. Alasan kenapa gue gak mau menyertakan username yang memberi komentar semata karena gue enggak mau memberikan panggung kepada mereka yang dengan sengaja dan dengan bangga menyebarkan kebodohan.)

Sekian.