April 11

Review Film Indonesia: Di Balik 98 (atau ‘Dibalik 98’ ya?)

Gue cuma tahu kalau di film ini akan ada demo dan kerusuhan. Seperti apa yang selama ini orang-orang katakan mengenai apa yang terjadi di Jakarta pada bulan Mei 1998.
Iya, gue enggak tahu apa yang terjadi saat itu, dan gue enggak mengerti sama sekali kondisi Indonesia saat itu bagaimana. Selain karena gue masih berumur kurang dari 10 tahun, gue juga enggak ada di Jakarta. Dan entah karena di umur segitu gue enggak mau nonton TV, atau terlalu banyak main dingdong di bioskop sebelah rumah, intinya gue gak tahu apa-apa soal peristiwa 1998.
Awalnya, gue kesal melihat film ini. Mungkin karena gue memang gak suka dengan demo atau keramaian, melihat apa yang dilakukan sama Chelsea Islan dan Boy William di film ini buat gue ikut emosi luar dalam.
Tapi seiring gue memaksakan diri untuk mengikuti film ini sampai dengan ceritanya berakhir, dengan gambaran yang beberapa teman pernah ceritakan soal kerusuhan Mei 1998, gue bisa bilang kalau film ini sangat bagus dari segi cerita.
Gue enggak mau berkomentar apa-apa soal tokoh politik yang ada di film ini dan memang ada di realita. Tapi karakter lain, gue enggak tahu itu fiksi atau bukan, yang ada di film ini, lebih dari cukup untuk membangun cerita dan membuat film ini tidak hanya membahas mengenai demo dan kerusuhan 1998 saja.
Salah satu pesan yang gue tangkap dari film Di Balik 98 ini adalah perjuangan kita untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik masih belum selesai. Perjalanan masih panjang, dan semuanya tidak boleh berhenti di kita.
Overall, terlepas dari lebih ramainya pembahasan penulisan judul (ketika film ini masih tayang di bioskop) antara Dibalik 98 dan Di Balik 98 manakah yang lebih benar menurut KBBI, film ini cukup untuk memberikan sedikit gambaran mengenai salah satu waktu bersejarah di Indonesia yang tidak mau diketahui oleh banyak generasi muda.
March 18

Review Film Indonesia: LONDON LOVE STORY 2 (2017)

Sebelumnya, gue gak ada niat untuk nonton film ini di bioskop. Alasannya sederhana, bukan karena gue gak mau lihat Dimas Anggara, tapi lebih karena gue udah tahu akan seperti apa ceritanya nanti.

Ya. Gue tadinya mau aja gitu sabar nunggu di layanan streaming film (kayak iFlix, Mox, atau Hooq) baru nonton, tapi ternyata karena ada ajakan yang enggak bisa gue tolak, akhirnya malam Minggu itu gue nonton film London Love Story 2 di Margo Platinum (sekarang udah jadi Margo Platinum XXI), Margo City.

 

Film London Love Story 2 ini sendiri sebenarnya kelanjutan dari London Love Story. Udah tahu ya? Ya udah kali aja belum makanya gue kasih tahu.

Ceritanya masih antara Dave dan Caramel. Pemainnya pun masih Dimas Anggara sama Michelle Ziu. Udah tahu? Oke gapapa.

Di film London Love Story 2 ini ada karakter baru, Gilang. Diperankan sama Rizky Nazar. Jadi ini kayak kombinasi film Magic Hour gitu, Dimas Anggara, Rizky Nazar, sama Michelle Ziu. Udah tahu juga? Ya Allah terus gue harus ngasih tahu apaan kalau udah tahu semua?

Seperti yang sudah beredar di trailer filmnya, (videonya ada di instagram.com/herrommy lho, coba deh cek), di film ini, Dave sama Caramel akhirnya berantem. Alasannya, karena Dave punya cowok lain.

Eh bohong ding.

Alasannya, karena Dave tahu rahasia yang disembunyikan sama Caramel. Dave merasa sudah dikhianati oleh Caramel karena hal itu. Padahal Caramel udah mau ngasih tahu rahasia itu, cuma karena ini film, jadi ya harus ada berantem dulu gitu biar durasi lebih panjang dan kelihatan seru. *ditabok Dimas*

 

Ketika di postingan review film London Love Story gue bilang gini,

One more thing about Dave.

I think he’s almost be the bravest man on the earth cause he’s almost blame the girl when she left him.

ALMOST.”

Di film London love Story 2 ini, Dave benar-benar berani menyalahkan Caramel. NOW HE’S THE BRAVEST MAN ON THE EARTH. For a while.

 

By the way, sekalipun judulnya tetap London Love Story 2, kebanyakan set di film ini tuh ada di Swiss. Tapi gapapa lah. Gak usah dibahas kenapa filmnya enggak ganti judul jadi Swiss Love Story ya.

 

Cerita di London Love Story 2 ini sebenarnya sangat sederhana. Penyelesaian konfliknya pun buat gue terlalu singkat. Kalau dibandingkan sama penyampaian cerita London Love Story sebelumnya, gue lebih suka yang dulu dibanding yang ini.

 

Yang menolong banget di film ini, selain dari set-nya yang keren, buat gue sih, akting Dimas Anggara.

Terlepas dari gue suka banget sama dia, baru di film ini gue harus mengakui kalau ketika Dimas (Dave) nakal dan genit itu keren banget. Dimas benar-benar jadi cowok yang sangat-sangat menggemaskan di film ini.

There I admit it, Dimas.

 

Gue enggak mau bilang film ini bagus atau jelek banget, gue cuma bisa bilang film ini masih bisa dinikmati meski enggak terlalu memorable.

February 12

Review Film Indonesia: London Love Story (2016)

Gue baru nonton film ini minggu lalu. Bukan nonton film dari DVD bajakan, tapi gue nonton di handphone gue, dari iFlix. Kebetulan film London Love Story nongol terus di bagian film Indonesia yang (kata iFlix sih) harus ditonton.

Akhirnya tergoda lah gue untuk nonton film ini.

Padahal tadinya males banget sumpah lihat film ini. Alasannya jelas, karena di situ ada Dimas Anggara, dan gue gak mau baper karena nonton film dia. I love him that much till I have no idea what to says everytime I see him on movie, music video, or etc.

 

Oke. Hentikan curhatnya soal Dimas. Sekarang fokus bahas filmnya.

 

Awal dari film ini, gue cuma bisa bilang, “Lumayan okelah untuk pengenalan karakter di bagian awal karena udah ngasih tahu kemungkinan jalan ceritanya bakal gimana.”

Ditambah lagi, siapa sih yang enggak terhibur sama pemandangan yang ada di kota London? Iya, kan. Yang belum pernah ke sana sih pasti bahagia banget ketika lihat seperti apa itu London, yang kebetulan bukan cuma jadi judul, tapi juga jadi set utama film ini.

London Love Story ini ceritanya tentang Dave (Dimas Anggara) yang gagal move on setelah merasa menemukan cinta sejatinya saat dia sedang berlibur dan Caramel (Michelle Ziu) yang menghindar dari orang yang pernah membuatnya bahagia namun akhirnya malah membuatnya menjadi orang yang terluka karena sudah dihancurkan hatinya. Dan London menjadi tempat yang dipilih oleh mereka untuk melakukan pelarian.

Di London, Caramel berteman baik dengan Bima (Dion Wiyoko) yang kebetulan sangat menginginkan dirinya untuk menjadi kekasihnya. Sayangnya Caramel yang entah karena masih belum siap, belum move on, atau menganggap Bima terlalu baik hingga lebih nyaman dijadikan teman.

Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, Dave bertemu dengan Adelle (Adila Fitri) yang mencoba untuk bunuh diri di London Bridge, akhirnya Dave harus direpotkan oleh Adelle yang tidak tahu harus tinggal di mana.

Dan ternyata itu semua bukanlah kebetulan. Karena Adelle adalah teman Bima, lalu juga menjadi teman Caramel setelah dikenalkan oleh Bima. Lalu, ternyata yang menjadi alasan mengapa Caramel tidak mau membuka hatinya untuk Bima adalah…

 

Kayaknya mending tonton langsung aja deh filmnya ya daripada gue cerita panjang lebar. Udah mulai rawan spoiler dan bisa menghilangkan kejutan yang enggak terlalu mengejutkan kalau lanjut diceritain.

 

Overall, film ini cukup asik dinikmati dan bisa buat penonton bertanya-tanya dan geregetan karena banyak banget yang sengaja disembunyikan dari awal lalu muncul di akhir ceritanya.

 

Cuma kalau boleh jujur… ada beberapa bagian dari film ini yang buat gue bingung juga kesel sedikit:

  1. Dave kerjanya apa sih di London? Kenapa dia punya mobil, apartemen, uang juga kelihatannya ada terus, tapi gak sedikit pun dibahas pekerjaannya apa? Gue bingung di situ.
  2. Kenapa lagi-lagi Dimas Anggara harus sekarat? Gue udah cukup males lihat dia sakit di film Magic Hour, terus di sini dia mau mati lagi? JANGAN GITU DONG, DIMS. KAN KITA BELUM KENALAN DAN NGOBROL LANGSUNG! (dih gitu)

 

Oh iya… One more thing about Dave.

I think he’s almost be the bravest man on the earth cause he’s almost blame the girl when she left him.

ALMOST.

 

Udah ah.

Yang pasti sekarang gue lagi nungguin film London Love Story 2 karena gue masih mau lihat film Dimas Anggara sukses dan ditonton banyak orang.

Ada yang gak sabar nunggu bulan Maret biar bisa nonton film itu juga?

February 3

Review Film Indonesia: “From London To Bali”

Awalnya, gue ngerasa jalan cerita film ini tuh terlalu cepat dan sempat buat gue sampai bertanya-tanya, “Really? This fast?”

Tapi gue tahu mempertanyakan seperti itu di dalam hati ketika melanjutkan nonton hanya akan membuat gue enggak bisa menikmati filmnya, akhirnya gue memutuskan untuk melihat dan mencoba menikmati meskipun perasaan yang ada di awal tadi kadang masih mengganggu.

Berbekal dari judul dan trailer filmnya yang pernah gue tonton, gue menunggu scene demi scene yang ada di trailer. Karena jujur aja, dari trailer itu gue tertarik untuk tahu lebih jauh akan seperti apa jalan cerita dari film ini.

 

Jadi kurang lebih seperti ini ceritanya…

Lukman (diperankan oleh Ricky Harun) ceritanya adalah lelaki muda yang meskipun sudah memiliki muka cakep dan lucu tetap bisa menjadi korban keganasan LDR. Kisah percintaan di masa SMA antara Lukman dengan Dewi (diperankan oleh Jessica Mila) harus berakhir ketika Dewi yang sedang kuliah di London menemukan tambatan hati baru.

Sebelum putus, Lukman dan Dewi aktif berkomunikasi melalui WhatsApp (Iya. Kalau gak salah itu whatsapp deh). Sampai akhirnya, kesetiaan Dewi harus terguncang ketika melihat Suzan (diperankan oleh Kimberly Ryder) yang bukan hanya mudah berganti pasangan, tapi juga mengingatkannya jika saat ini dirinya berada di London, yang membuatnya bisa lebih bebas melakukan apa yang dia mau, tidak seperti jika dia berada di Indonesia.

Kebodohan pertama yang dilakukan Lukman adalah ketika dia memutuskan untuk pergi ke Bali demi pekerjaan yang dia tidak tahu itu apa. Tapi namanya juga anak muda yang sedang dimabuk cinta dan ingin segera mengumpulkan uang supaya bisa mengunjungi pacarnya di London, akhirnya Lukman pun menerima pekerjaan sebagai Escort.

(Tolong jangan tanya gue apa itu escort di Bali, kalau memang mau tahu banget, silakan cari tonton dulu filmnya, baru cari tahu di Google. Tonton filmnya, baru cari tahu di Google. Jangan sampai terbalik.)

Lukman tidak sendiri ketika mulai merintis “karir”nya sebagai escort. Ada juga Bambang (diperankan oleh Fico Fachriza) dan Sodikin (diperankan oleh Muhadkly Acho), yang kebetulan sama-sama baru datang dari luar kota. Di sinilah cerita Lukman dan kawan-kawan dimulai, tentang bagaimana mereka menghadapi permintaan klien demi klien yang kebetulan sungguh luar biasa anehnya.

Perjalanan Lukman sebagai escort akhirnya diwarnai dengan pertemuan yang tidak disengaja dengan Putu (diperankan oleh Nikita Willy), gadis asal Bali yang cantiknya subhanallah. Pertemuan yang akhirnya membuat Lukman dan Putu menjadi akrab.

Sampai akhirnya, hal buruk terjadi ketika Lukman berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai escort. Tidak berakhir sampai di situ, Lukman pun harus memutuskan untuk memilih siapa yang sebenarnya dia inginkan untuk menemani hidupnya, apakah Dewi yang pernah menjadi alasannya hingga dia memilih untuk pergi dan bekerja sebagai escort di Bali, atau justru dia memilih Putu yang mengajarkannya tentang banyak hal mengenai hidup yang saat ini dia jalani?

 

Itu cerita singkat dari gue mengenai film From London To Bali.

Kesimpulannya, terlepas dari beberapa scene yang menurut gue agak janggal untuk terjadi di dunia nyata, jalan cerita dari film ini sangat bisa dinikmati dan sangat menghibur untuk ditonton.

 

Sebelum tulisan ini berakhir, gue mau ngasih tahu beberapa hal mengenai film ini:

  1. Kimberly Ryder di film From London To Bali ini sangat-sangat… BEUGH! Gue menjura sama kecantikan dan aktingnya. I REALLY LOVE YOU, GIRL!
  2. Nikita Willy berkebaya Bali itu cantiknya subhanallah. Gue kembali sadar kalau Nikita Willy itu cantik banget ya karena film ini.
  3. Muhadkly Acho… gue bingung sama dia, mau dapat peran apa aja, enggak peduli lama atau sebentar scene-nya, tetap aja berhasil mencuri perhatian penonton. Penjiwaan aktingnya selalu TOTALITAS. *tepuk tangan*

 

Akhir kata, gue cuma mau berpesan sama semuanya, “Gak peduli lo secantik atau secakep apa, kalau bisa, (gue ulangi ya, KALAU BISA), apa pun alasannya, JANGAN PERNAH MAU LDR.”

SAY NO TO LONG DISTANCE RELATIONSHIP!”

Sekian.

March 3

Review Film: Stay With Me

 

Awalnya, gue agak sebal ketika film baru main, karena gue merasa kamera goyang-goyang hingga gambarnya terasa sedikit mengganggu. Tapi setelah beberapa menit kemudian, akhirnya gue malah dipaksa untuk menahan air mata karena awal mula drama dari cerita ini sudah dimulai.

 

Jujur aja, awalnya gue nonton film Stay With Me ini karena katanya ada adegan mandi Boy William. Di trailer pun ada, meski kalau dilihat lebih teliti, Boy William gak beneran telanjang. *sad*

Tapi ternyata gue tetap nonton juga film ini. ?

 

Boy William di film Stay With Me memerankan tokoh Boy Dimas. Dipanggilnya Boy. Soalnya kalau dipanggilnya Dimas, nanti kesayangan gue yang nengok. *digetok*

Sampai dengan akhir film, gue yakin kalau karakter Boy Dimas ini zodiaknya Scorpio.

Bodoh dalam masalah cinta, suka ngambek kalau gak dikasih “jatah” sama pasangan, tapi gak mau begitu aja pergi meninggalkan pasangannya meski jelas dia udah sakit hati sama kelakuannya.

 

Pasangan Boy Dimas di film ini adalah Deyna yang diperankan sama Ully Triani. Mengejutkan sih buat gue kalau harus komentar soal akting Ully Triani di film ini. Dikenalkan di awal film (juga di poster) sampai menggunakan “introducing”, tapi ternyata aktingnya gak kalah keren dari Boy William.

Kalau harus bahas zodiak Deyna di film ini, gue yakinnya sih dia itu Pisces. Banyak alasan yang membuat gue yakin dengan itu, tapi gak akan gue tulis lengkap di sini, nanti aja buat buku gue, #BukuZodiakHerrommy. Huahahaha.

 

Meski ada bagian dari cerita yang mengganggu banget buat gue karena gak ada penjelasan kenapa dan untuk apa yang sebelumnya dijanjikan Boy ketika ingin menikahi Deyna, tapi masih banyak hal lain yang membuat cerita di film ini enggak kehilangan banyak momen yang cukup mengaduk-aduk emosi.

Kesal. Sedih. Lucu. Gemas. Bahagia. Prihatin. Mau nahan nangis. Mau nahan ketawa. Komplit. Ada semua di film ini.

 

Buat kamu yang gampang nangis, atau sedang ada dalam fase ingin balikan sama mantan tapi terhalang karena dia sudah punya pasangan, gue sarankan untuk bawa tisu saat nonton film ini. Kalau bisa, duduk di lokasi yang bisa buat kamu lebih leluasa nangis tanpa harus mengganggu yang lain, atau membuatmu merasa malu karena harus nangis.

 

Oh satu lagi, product placement di film ini juga keren. Biar itu buat satu adegan kayak cuma buat nambah durasi aja, tapi cara memasukan produk sponsor di film ini masih bisa dimaklumi dan enggak sampai mengganggu banget.

 

Tonton film ini.

Mari baper bersama karena mantan (jauh lebih buat bahagia dibanding pasangan baru kita).
– Herrommy –

Poster film Stay With Me
February 10

Talak 3 itu Film Baper Khusus Orang Dewasa

GUE YAKIN FILM TALAK 3 INI BISA BUAT BANYAK ORANG DEWASA BAPER!

Kenapa gue sebut orang dewasa? Karena film Talak 3 ini ceritanya memang bukan untuk abege galau menye-menye yang dikasih quotes apa gitu langsung “YA AMPUN”.

Awalnya gue malas nonton film ini ketika dilabelin “Komedi Romantis”. Berdasar pengalaman, ketika menonton film yang disebut begitu, jatuhnya komedi enggak, romantis apalagi. Tapi film Talak 3 ini mampu menyuguhkan keduanya sekaligus. Luar biasa!

Film Talak 3 ini bercerita tentang pasangan muda yang awalnya menikah, lalu bercerai dengan suaminya langsung menjatuhkan talak tiga, lalu mereka ingin rujuk kembali karena ada satu proyek yang memaksa mereka harus menikah lagi terlebih dulu baru proyek mereka disetujui.

Tapi masalah terjadi karena dalam hukum islam, suami yang sudah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya tidak bisa menikah lagi secara langsung, kecuali istrinya sudah pernah menikah lagi dengan lelaki lain.

Mereka berdua tidak pernah lelah untuk memperjuangkan kembali hubungan mereka meski ada banyak masalah yang hadir dan harus mereka selesaikan sebagai “syarat” sebelum mereka bisa bersama.

Akting Risa (Laudya Chintya Bella), Bagas (Vino G. Bastian), dan Bimo (Reza Rahadian) sudah lebih dari cukup untuk buat kita menikmati cerita sepanjang film.

 

Gue bisa bilang kalau banyak banget pesan yang bisa diambil dari pasangan dewasa yang baru (mau) menikah. Ada banyak hal yang harus mereka perhitungkan selain dari masalah resepsi yang konon katanya biayanya semakin tidak terkira mahalnya.

Harus belajar untuk mengerti pasangan, belajar mengerti orang lain di sekitar kita, sampai dengan harus belajar tentang arti pengorbanan yang kadang kita lupa atau abaikan karena merasa kita sudah memilih yang benar-benar baik untuk kita.

Untuk kamu yang cengeng atau sedang dalam masa galau menjelang pernikahan, coba bawa tisu saat menonton film ini. Gue yakin kalian yang sudah dewasa akan baper dengan sendirinya meskipun tidak ada banyak dialog puitis yang tanpa sadar akan kita “Apasih”-in seperti ketika menonton film galau yang marketnya adalah ABG.

 

Satu hal lagi, twist dan ending dari cerita ini KEREN BANGET.

December 3

SKAKMAT! Film Komedi Yang Jujur dan Menghibur


Kalau kata peribahasa sih, “Skakmat itu pangkal kaya.”

Entahlah. Yang pasti gue cuma bisa bilang kalau SKAKMAT ini adalah THE BEST ACTION COMEDY OF THE YEARS!

Masuk ke dalam bioskop tanpa berharap apa-apa, tapi saat di dalam bioskop, tanpa sadar gue banyak tertawa, bahkan beberapa kali mengeluarkan air mata. Dan semua itu terjadi karena dialog-dialog sederhana dengan sisipan jokes recehan, hasilnya terasa sangat nyata dan sungguh luar biasa. Kalau ada yang bisa menandingi lucunya dialog di film ini, untuk saat ini, pastilah itu cuma pertanyaan-pertanyaan dari anggota MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) kepada Sudirman Said di tanggal 2 Desember 2015 kemarin.

 

Sekarang gue cerita lebih mendalam sedikit tentang filmnya ya.

Jadi, SKAKMAT itu bercerita tentang 2 orang lelaki, yang satu berprofesi sebagai tukang ojek yang gak pintar-pintar amat tapi lumayan sotoy, yang satu lagi pernah berprofesi sebagai mantan pengedar narkoba yang kurang perawatan (di filmnya diomongin gitu, padahal dia cakep, eh tapi lebih lucu Ivan sih, eh, kok malah curhat sih? Aduh maaf.)

Tukang ojek itu sedang mencari jati dirinya, dia punya mimpi, tapi tidak tahu bagaimana cara memulai semua itu. Sampai akhirnya dia bertemu Ivan, lalu terjadilah cinta lokasi antara mereka. #ehsalah

Setelah bertemu Ivan yang kalau dilihat sekilas mirip banget sama Tom Hardy, tumbuhlah rasa cinta di hati tukang ojek itu. Bukan. Bukan sama Ivan. Gue yang jatuh cinta sama Ivan. #lah #malahcurhat.

Maafkan, sepertinya gue sudah mulai bingung mau cerita bagian mananya karena film ini jauh lebih enak untuk ditonton langsung daripada cuma baca review atau komentar-komentar tentangnya. Lagipula filmnya rawan spoiler jika diceritakan lebih jauh karena jalan ceritanya itu ya mengalir begitu saja. Benar-benar enggak dibuat mikir akan dibawa ke mana ceritanya, akan seperti apa akhir ceritanya, jadi benar-benar jaminan akan menikmati kalau fokus nonton tanpa mainan henpon.

 

Berikut ini gue mengutip beberapa pesan keren yang ada di film SKAKMAT:

  1. Semua mimpi bisa menjadi nyata kalau enggak berhenti percaya dan mau terus memperjuangkannya.
  2. Menjadi orangtua itu tidak mudah. Karena kadang kita merasa bisa mengerti seorang anak, padahal mengenal apa yang mereka bisa lakukan saja tidak.
  3. Jangan pernah melewatkan tumbuhnya seorang anak, karena mengetahui apa saja yang terjadi saat mereka tumbuh itu menyenangkan.
  4. Mau sejahat dan segarang apa pun dirimu, jangan pernah lupa perawatan tubuh.
  5. Fadi Gunawan yang jadi Ivan cakep kayak Tom Hardy. #teteup

 

Oke. Sepertinya itu aja review gue soal SKAKMAT. Kalau mau mengabaikan poin nomor 5, itu hak kalian.

Yang pasti, gue cuma mau bilang, “Kalau memang ada kesempatan untuk menonton SKAKMAT di bioskop terdekat, segeralah lakukan. Menunda menonton hanya akan membuatmu kehilangan kesempatan menikmati film keren yang jam tayangnya sudah semakin berkurang ini. Percayalah, kamu akan bangga kalau bisa menonton film ini.”