April 23

Berpetualang Mencari Pokemon di Estadio Santiago Bernabeu, Madrid

Setelah sekian lama main Pokemon Go hanya di sekitaran Jakarta, Bogor, dan Depok, kemarin terlintas di pikiran gue kira-kira Pokemon macam apa aja ya yang banyak tersebar di luar negeri?

Gue lumayan bosan gitu dengan terlalu banyaknya Pidgey, Rattata, Spinarak, Krabby, Evee, Psyduck, dan pokemon sejenisnya yang gue dapatkan. Tapi karena terlalu banyak Pokeball dan tidak ada pilihan lain untuk menambah stardust selain menangkap pokemon-pokemon itu, ya mau enggak mau akhirnya gue tetap tangkap pokemon sejuta umat itu.

 

Sampai akhirnya, gue memutuskan untuk mencoba mencari Pokemon di luar Indonesia. Penasaran aja gitu kira-kira bakal ada Pokemon jenis apa aja di sana. WKWKWKK.

 

Tempat pertama yang gue putuskan untuk kunjungi adalah Estadio Santiago Bernabeu, Madrid. Gue mau tahu apakah mungkin di sana bakal ada Pokemon yang jago main bola kayak Cristiano Ronaldo, atau justru bakal ada pokemon yang ngasih gue stardust sekaligus banyak karena mereka di sana terlalu kaya.

Dugaan gue ternyata benar.

Di sekitaran Stadion Santiago Bernabeu, ada banyak banget Pokemon liar yang lumayan jarang gue temui di Jakarta/Depok/Bogor.

Berikut beberapa Pokemon yang lumayan banyak gue temui di Madrid:

  • HOUNDOUR

Pokemon berbentuk anjing. Tipe dark and fire. Salah satu pokemon yang paling ganteng dan memiliki profesi sampingan sebagai Sheriff di serial TV Teenwolf.

Iya. Kalau di Teenwolf, namanya Hellhound.

Pokemon yang bertubuh agak gelap dan berasal dari neraka. Mungkin itulah kenapa dia memiliki tipe “dark”, and “fire”.

ya Allah maafkan gue kok jadi rasis gitu ya. (._.)

  • SNUBBULL

Pokemon tipe fairy yang satu ini belum pernah gue temui ketika masih di Indonesia. Pokemon yang lucunya mengingatkan gue akan bentuk muka seseorang ketika foto mukanya tersebar di social media.

Mulai dari mulutnya yang sama-sama besar, padahal kalau sengaja ngelawan pasti dia bakal mudah dikalahkan. Persis banget lah pokoknya.

  • Mankey


Pokemon berbentuk monyet yang kalau udah evolusi dan besar jadi makin suka ninju.

Nah, persis nih kayak dia juga. Karena udah merasa besar, jadi suka dan merasa berhak ngehajar siapa aja yang dia suka. #eh

 

Sebenarnya masih ada banyak pokemon lain yang lumayan susah ditemui di Indonesia, tapi mudah didapatkan di Madrid. Cuma karena gue belum terlalu lama menjelajah, gue belum bisa ngasih informasi terlalu banyak lagi.

 

Ditambah lagi, gue udah ketahuan sama server Pokemon kalau gue pakai fake GPS. WKWKWKKWKKK.

 

Seperti apa sih ciri-ciri kalau kita udah ketahuan pakai Fake GPS sama server Pokemon Go?

  1. Kalau kita udah dekat Poke Stop, lalu kita coba spin, tapi enggak keluar item apa-apa, berarti kita udah ketahuan.
  2. Kalau kita lagi mau dapetin Pokemon baru yang Combat Power (CP)-nya kecil, lalu kita udah kasihin Pinap Berry dan coba tangkap pakai Ultra Ball, tapi selalu gagal. Lalu Pokemon selalu kabur, setelah kita gagal di lemparan pertama. Nah berarti itu juga karena kita udah “ditandai” sama server Pokemon Go.

 

Sejauh ini sih gue baru tahu itu doang tanda-tanda kita udah ketahuan pakai fake GPS, kalau mau menambahkan, silakan isi aja di tab comment ya.

Terus kalau udah ketahuan gitu, daripada coba maksain diri mainan Pokemon Go lagi di posisi asli kita berada, mending tunggu sekian jam kemudian baru main lagi. Ya, sama kayak kalau kita lagi berantem sama pacar aja lah. Biarin dulu aja servernya sampai dia gak ngambek lagi karena abis kita “tipu”. Biasanya cukup beberapa jam, nanti dia udah balik lagi nerima kita dan ngebiarin kita mainan lagi kok. WKWKKWKKK.

 

Dan untuk kamu yang penasaran harus pakai aplikasi apa biar bisa mainan Pokemon Go dan jalan ke mana-mana padahal aslinya kamu lagi gegoleran manja di kasur aja, kamu cari tahu sendiri aja. Soalnya gue gak mau ngasih tahu. WKWKWKKK.

Yang pasti, aplikasi Fake GPS yang gue pakai itu gratis, dan ada di Google Playstore. Dari sekian banyak aplikasi Fake GPS yang gue pakai, baru yang satu ini soalnya yang “tembus” dan belum diblokir sama server Pokemon Go, kalau yang lainnya kebanyakan udah diblokir semua. HAHAHAHA.

 

Ya udah.

Intinya cuma mau cerita soal itu aja.

Next time gue lanjut lagi soal petualangan gue cari Pokemon di…

 

Ya udahlah pokoknya tunggu aja tulisan gue berikutnya!

December 21

Di Singapura, Jalan Kaki Aja Bangga

Iya. Itu yang gue rasakan setiap kali sedang berada di Singapura. Asik aja gitu jalan kaki ke mana-mana juga kalau kaki enggak bengkak atau sakit.

Di Singapura, pejalan kaki enggak perlu merasa kesusahan ketika mau menyeberang jalan saat lampu merah, karena hampir enggak ada kendaraan, entah itu mobil atau motor, yang berhenti di zebra cross.



Di Singapura, pejalan kaki enggak perlu takut untuk ditabrak dari pengendara motor yang naik ke trotoar yang nyaman untuk jalan kaki sambil rangkul-rangkulan atau bergandengan tangan dengan kesayangan (meski ini tidak disarankan karena sering kali mengganggu pengguna jalan yang lain. Bayangkan jika mereka sedang terburu-buru tapi tidak bisa lewat karena kita, atau bayangkan jika mereka tidak memiliki pasangan).

Ketakutan-ketakutan seperti akan ditabrak ketika menyeberang lampu merah karena mereka yang menggunakan kendaraan sedang dikejar-kejar oleh malaikat pencabut nyawa hingga tidak mau menunggu sekian menit sampai lampu hijau juga enggak ada.

Pengguna kendaraan dan pejalan kaki di Singapura sepertinya tahu bagaimana caranya “bekerjasama”, membuat satu sama lainnya tetap merasa nyaman dengan pilihan menuju ke satu tempat dengan cara masing-masing. Entah itu jalan kaki, menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, mereka sepertinya tahu kalau mengambil hak orang lain dan menggunakan jalan yang tidak disediakan untuknya adalah kesalahan.

Itu yang gue rasakan di sana. Itu yang membuat gue sering kali merasa menjadi seseorang yang baru setiap kali berada di Singapura. Karena harus gue akui, jalan kaki di beberapa kota besar Indonesia seperti Jakarta atau Depok, masih belum bisa menjadi pilihan utama yang nyaman untuk gue.

Iya, Jakarta dan Depok memang sudah lumayan lebih baik saat ini.

Trotoar di Jakarta (di beberapa tempat) sudah lebih nyaman untuk digunakan untuk jalan kaki, meski kadang masih banyak pengendara motor bodoh dan tidak bertanggung jawab yang memaksakan diri merebut hal itu.

Depok pun di akhir tahun 2015 ini sudah mulai membaik. Pada akhirnya, setelah 3 tahun lebih tinggal di sini, akhirnya Margonda Raya (jalan utama di Depok) memiliki trotoar yang gue perkirakan akan sulit untuk dinaiki pengendara motor. Meski sampai saat tulisan ini dibuat, trotoar itu masih belum sepenuhnya selesai, dan gue masih belum yakin kapan trotoar itu akan selesai.

Bukan tidak mungkin jika trotoar di Indonesia akan sepenuhnya hanya untuk mereka yang berjalan kaki. Semua masih mungkin, meski akan membutuhkan waktu yang lama untuk membuat sekian banyak pengendara (motor) sadar dan tidak terus naik trotoar hanya untuk mempercepat laju mereka ketika sedang berada dalam kemacetan.

 

Kalau trotoar di kotamu, bagaimana? Nyamankah untuk pejalan kaki?

Silakan cerita di tab comment kalau punya cerita tentang jalan kaki yang nyaman untukmu itu bagaimana dan baru kamu rasakan ketika ada di mana.

 

 

Salam,

Herrommy Dimas Alamsyah