February 12

Review Film Indonesia: London Love Story (2016)

Gue baru nonton film ini minggu lalu. Bukan nonton film dari DVD bajakan, tapi gue nonton di handphone gue, dari iFlix. Kebetulan film London Love Story nongol terus di bagian film Indonesia yang (kata iFlix sih) harus ditonton.

Akhirnya tergoda lah gue untuk nonton film ini.

Padahal tadinya males banget sumpah lihat film ini. Alasannya jelas, karena di situ ada Dimas Anggara, dan gue gak mau baper karena nonton film dia. I love him that much till I have no idea what to says everytime I see him on movie, music video, or etc.

 

Oke. Hentikan curhatnya soal Dimas. Sekarang fokus bahas filmnya.

 

Awal dari film ini, gue cuma bisa bilang, “Lumayan okelah untuk pengenalan karakter di bagian awal karena udah ngasih tahu kemungkinan jalan ceritanya bakal gimana.”

Ditambah lagi, siapa sih yang enggak terhibur sama pemandangan yang ada di kota London? Iya, kan. Yang belum pernah ke sana sih pasti bahagia banget ketika lihat seperti apa itu London, yang kebetulan bukan cuma jadi judul, tapi juga jadi set utama film ini.

London Love Story ini ceritanya tentang Dave (Dimas Anggara) yang gagal move on setelah merasa menemukan cinta sejatinya saat dia sedang berlibur dan Caramel (Michelle Ziu) yang menghindar dari orang yang pernah membuatnya bahagia namun akhirnya malah membuatnya menjadi orang yang terluka karena sudah dihancurkan hatinya. Dan London menjadi tempat yang dipilih oleh mereka untuk melakukan pelarian.

Di London, Caramel berteman baik dengan Bima (Dion Wiyoko) yang kebetulan sangat menginginkan dirinya untuk menjadi kekasihnya. Sayangnya Caramel yang entah karena masih belum siap, belum move on, atau menganggap Bima terlalu baik hingga lebih nyaman dijadikan teman.

Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, Dave bertemu dengan Adelle (Adila Fitri) yang mencoba untuk bunuh diri di London Bridge, akhirnya Dave harus direpotkan oleh Adelle yang tidak tahu harus tinggal di mana.

Dan ternyata itu semua bukanlah kebetulan. Karena Adelle adalah teman Bima, lalu juga menjadi teman Caramel setelah dikenalkan oleh Bima. Lalu, ternyata yang menjadi alasan mengapa Caramel tidak mau membuka hatinya untuk Bima adalah…

 

Kayaknya mending tonton langsung aja deh filmnya ya daripada gue cerita panjang lebar. Udah mulai rawan spoiler dan bisa menghilangkan kejutan yang enggak terlalu mengejutkan kalau lanjut diceritain.

 

Overall, film ini cukup asik dinikmati dan bisa buat penonton bertanya-tanya dan geregetan karena banyak banget yang sengaja disembunyikan dari awal lalu muncul di akhir ceritanya.

 

Cuma kalau boleh jujur… ada beberapa bagian dari film ini yang buat gue bingung juga kesel sedikit:

  1. Dave kerjanya apa sih di London? Kenapa dia punya mobil, apartemen, uang juga kelihatannya ada terus, tapi gak sedikit pun dibahas pekerjaannya apa? Gue bingung di situ.
  2. Kenapa lagi-lagi Dimas Anggara harus sekarat? Gue udah cukup males lihat dia sakit di film Magic Hour, terus di sini dia mau mati lagi? JANGAN GITU DONG, DIMS. KAN KITA BELUM KENALAN DAN NGOBROL LANGSUNG! (dih gitu)

 

Oh iya… One more thing about Dave.

I think he’s almost be the bravest man on the earth cause he’s almost blame the girl when she left him.

ALMOST.

 

Udah ah.

Yang pasti sekarang gue lagi nungguin film London Love Story 2 karena gue masih mau lihat film Dimas Anggara sukses dan ditonton banyak orang.

Ada yang gak sabar nunggu bulan Maret biar bisa nonton film itu juga?

February 10

Talak 3 itu Film Baper Khusus Orang Dewasa

GUE YAKIN FILM TALAK 3 INI BISA BUAT BANYAK ORANG DEWASA BAPER!

Kenapa gue sebut orang dewasa? Karena film Talak 3 ini ceritanya memang bukan untuk abege galau menye-menye yang dikasih quotes apa gitu langsung “YA AMPUN”.

Awalnya gue malas nonton film ini ketika dilabelin “Komedi Romantis”. Berdasar pengalaman, ketika menonton film yang disebut begitu, jatuhnya komedi enggak, romantis apalagi. Tapi film Talak 3 ini mampu menyuguhkan keduanya sekaligus. Luar biasa!

Film Talak 3 ini bercerita tentang pasangan muda yang awalnya menikah, lalu bercerai dengan suaminya langsung menjatuhkan talak tiga, lalu mereka ingin rujuk kembali karena ada satu proyek yang memaksa mereka harus menikah lagi terlebih dulu baru proyek mereka disetujui.

Tapi masalah terjadi karena dalam hukum islam, suami yang sudah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya tidak bisa menikah lagi secara langsung, kecuali istrinya sudah pernah menikah lagi dengan lelaki lain.

Mereka berdua tidak pernah lelah untuk memperjuangkan kembali hubungan mereka meski ada banyak masalah yang hadir dan harus mereka selesaikan sebagai “syarat” sebelum mereka bisa bersama.

Akting Risa (Laudya Chintya Bella), Bagas (Vino G. Bastian), dan Bimo (Reza Rahadian) sudah lebih dari cukup untuk buat kita menikmati cerita sepanjang film.

 

Gue bisa bilang kalau banyak banget pesan yang bisa diambil dari pasangan dewasa yang baru (mau) menikah. Ada banyak hal yang harus mereka perhitungkan selain dari masalah resepsi yang konon katanya biayanya semakin tidak terkira mahalnya.

Harus belajar untuk mengerti pasangan, belajar mengerti orang lain di sekitar kita, sampai dengan harus belajar tentang arti pengorbanan yang kadang kita lupa atau abaikan karena merasa kita sudah memilih yang benar-benar baik untuk kita.

Untuk kamu yang cengeng atau sedang dalam masa galau menjelang pernikahan, coba bawa tisu saat menonton film ini. Gue yakin kalian yang sudah dewasa akan baper dengan sendirinya meskipun tidak ada banyak dialog puitis yang tanpa sadar akan kita “Apasih”-in seperti ketika menonton film galau yang marketnya adalah ABG.

 

Satu hal lagi, twist dan ending dari cerita ini KEREN BANGET.