July 5

Mendapat Kesempatan Menjadi Buzzer itu Sebuah Kehormatan Yang Tidak Seharusnya Disia-siakan

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang (yang gue rasa enggak perlu banget disebutkan namanya di sini) di Twitter yang bilang, “Gue enggak akan mau jadi buzzer. Lebih baik cari uang dengan cara lain aja di luar dunia maya.”

 

Yang terlintas dalam pikiran gue karena tweet itu jadi banyak banget, berikut beberapa di antaranya:

  1. Memang ada ya agency yang mau atau pernah ngajakin kerjasama ke dia?
  2. Dia ngomong seperti itu tuh karena udah nolak berapa penawaran kerjasama?

 

Sebenarnya masih banyak pertanyaan lain yang ingin gue tanyakan, mungkin nantinya beberapa akan gue jelaskan juga di tulisan ini tentang alasan kenapa jadi buzzer (apalagi di Twitter) itu enak (dan enggak seharusnya ditolak).

 

Gue mau bahas secara rinci dari pemikiran gue untuk tweet yang gue sebut di atas lebih dulu.

Kalimat “Gue enggak mau jadi buzzer” itu bukan masalah besar. Itu memang hak setiap orang (termasuk yang enggak tahu apa itu buzzer, seperti apa pekerjaannya, dan berapakah bayarannya) untuk mau jadi apa di Twitter atau social media yang lain. Bebas.

Tapi, kalimat selanjutnya, “Lebih baik cari uang dengan cara lain aja di luar dunia maya” itu artinya (klo menurut gue) udah lebih ke arah menilai kalau menjadi buzzer itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya dipilih untuk menjadi salah satu penambah penghasilan, seolah itu adalah pekerjaan menjijikkan.

Tapi ada yang lebih menjijikkan lagi, di beberapa tweet selanjutnya, ada penjelasan atau sebutlah keinginan yang isinya begini, “Kalau gue jadi selebtweet, gue gak akan…”

Oke. Selesai. Gue udah mengerti alasan kenapa dia gak mau jadi buzzer, karena saat ini dia masih berharap (mungkin pakai banget) kalau dia masih berkesempatan menjadi selebtweet.

 

Kembali ke buzzer,,,

Yang salah dari menjadi buzzer itu apa? Gak ada.

Yang akan membuatmu rugi kalau seseorang (atau selebtweet) jadi buzzer itu apa? Gak ada.

Adakah orang cerdas yang menolak menjadi buzzer (selain karena alasan sudah terikat kontrak dengan yang lain, konten iklannya tidak sesuai dengan mereka atau nilai penawarannya tidak sesuai)? Gue rasa enggak ada.

Kenapa gue sebut orang cerdas enggak akan menolak jadi buzzer? Karena dengan ngebuzz, kita akan dapat uang. Dan kita bisa menyebut uang adalah sebagian dari rezeki. Nolak ngebuzz begitu aja, tanpa ada alasan yang jelas, buat gue enggak beda jauh dengan menolak rezeki.

Done.

 

Ini beberapa alasan menolak ngebuzz (khususnya di Twitter) yang menurut gue paling masuk akal:

  1. Sudah terikat kontrak dengan campaign dari produk lain yang sejenis,
  2. Isi konten tidak sesuai dengan materi tweet sehari-hari,
  3. Penawaran tidak sesuai dengan rate per tweet.

Gue enggak memasukkan “Sudah banyak banget uang yang tidak terpakai dari pekerjaan lainnya” sebagai alasan yang masuk akal untuk menolak ngebuzz, karena sekalipun mereka enggak butuh uang, invoice itu bisa aja dialihkan ke orang lain yang membutuhkan. It’s not a crime or bad thing at all. (FYI, gue enggak menolak kalau kalian yang ngebuzz tapi invoice dicairkan ke rekening gue).

 

Kembali ke buzzer,,,

Buat gue, menjadi buzzer itu seperti kehormatan. Siapa yang enggak bangga kalau menjadi salah satu yang terpilih (tentunya dari sekian banyak kandidat lain) untuk ikut mempromosikan satu brand atau satu kegiatan tertentu? Princess Herrommy sih bangga, enggak tahu deh kalau Princess Syahrini gimana.

Bahkan, buat gue, menjadi buzzer itu lebih dari sekadar mencari uang tambahan untuk jajan printilan-printilan, tapi seperti mendapatkan “keluarga” atau “saudara” baru yang satu profesi. Itu adalah kebahagiaan lain kalau buat gue sendiri.

 

Oh, by the way, gue buat tulisan ini bukan karena tersinggung dengan ucapan yang merendahkan buzzer. Cuma gue mau mengingatkan aja, kalau memang enggak ngerti sama sekali pekerjaan seseorang itu seperti apa, mendingan jangan komentar atau enggak usah komentar sekalian deh. Apalagi kalau ucapannya itu disebabkan oleh kesirikan tidak bisa menjadi salah satu dari mereka yang mendapatkan pekerjaan itu. Memalukan.

 

Intinya begini,,,

“Daripada kamu bilang enggak mau jadi buzzer, lebih baik bilang kamu enggak pernah ngebuzz.”

Ingat saja kalimat itu.

Paling tidak, itu bisa membuatmu terhindar dari menjilat ludah sendiri ketika kamu mendapatkan kesempatan untuk menjadi buzzer.

 

So, di sini ada yang mau jadi buzzer?

 


Tags: ,
Copyright 2017. All rights reserved.

Posted July 5, 2015 by Herrommy Dimas Alamsyah in category "Celoteh Herrommy

About the Author

just someone who never give up his dreams no matter how many times bad thing happens

2 COMMENTS :

  1. By Jefry F Sinaga on

    Menurut gue menjadi seorang Buzzer itu tidak gampang sih… Gue juga pernah dapat kesempatan 1 kali dan ternyata gak sebatas nulis tweet kemudian posting… Jadi pendapat gue tentang seseorang yang bilang kalo dia gak mau jadi Buzzer adalah dia kecewa karena gak ada yang menawarkan dia untuk menjadi seorang Buzzer sih…

    Reply
    1. By Herrommy Dimas Alamsyah (Post author) on

      Kalau jadi buzzer itu gampang, semua orang mau kali pas ngetweet dibayar. Wkkwkk

      Reply

Any comments for that?