February 29

Kartu Kredit itu Ada Setannya…

Kata orang, kartu kredit itu ada setannya. Godaan untuk belanja atau beli ini-itu, selalu ada aja.

Gue yang sebelumnya enggak pernah punya atau pakai kartu kredit, awalnya gak percaya sama omongan orang itu.

Ya gimana, gue lebih percaya kalau seseorang mampu menahan hasrat dan nafsu sesatnya untuk belanja atau membeli yang tidak terlalu berguna, kartu kredit tidak akan mungkin terpakai sampai sebegitunya.

Hal lain yang mendasari hal itu adalah, gue selalu diajarkan untuk membeli sesuatu (seperti gadget) dengan bayar cash, langsung lunas, sama orangtua. Jadi enggak terpikir sama sekali di otak gue kalau kartu kredit itu memang ada setannya hanya karena akan memudahkan untuk cicil barang ini-itu yang kita perlukan.

 

Ternyata gue salah.

Kartu kredit memang ada setannya.

 

Gue cerita sedikit ya…

 

Akhir November atau Desember 2015 lalu, gue ditelepon oleh sales salah satu bank di Indonesia yang menawarkan kartu kredit.

Awalnya gue curiga kalau itu cuma iseng, atau penipuan saja.

Sampai akhirnya gue tanya, “Mbak yakin nih? Tabungan saya di bank mbak itu jarang banget diisi lho. Kok saya bisa jadi nasabah prioritas?”

Dia jawab, “Iya, pak. Kalau bapak gak percaya, bapak boleh deh cek isi hati saya. Sekarang isinya cuma hati bapak aja lho.”

Oke gue ngaku kalimat balasan sales itu cuma bercandaan aja.

 

Intinya, gue ditawarkan kartu kredit Mastercard, bebas biaya tahunan seumur hidup. SEUMUR HIDUP.

Entah berapa kali gue tanya hal itu sama si mbak karena gak percaya. Soalnya, kan ada sales yang bilang gratis seumur hidup, ternyata cuma gratis di tahun pertama, lalu tahun selanjutnya harus bayar sekian, atau baru bisa gratis setelah pembelanjaan di tahun sebelumnya mencapai angka sekian.

 

Kartu kredit. Gratis biaya tahunan seumur hidup. Langsung dapat kartunya 2 (1 bank konvensional, 1 bank syariah).

Siapa coba yang enggak tergoda?

Gue bahkan sampai membatin, “YA ALLAH, MBAK. KAMU KOK NGASIH GODAANNYA SAMA HEBATNYA KAYAK SENYUMAN DIMAS ANGGARA, SIH?”

Akhirnya gue mengiyakan apa kata mbak salesnya dan memberi data sesuai yang dia butuhkan.

 

1-2 bulan kemudian, gue dapat SMS kalau kartu kredit gue sudah dicoba dikirim ke rumah, tapi gagal, karena di rumah gak ada orang. Gue diminta menghubungi call center dan minta pengiriman ulang kartu. Sekitar 14 hari kerja katanya.

Dikirim ke rumah (di Bogor), butuh 14 hari kerja.

Kelamaan.

Akhirnya ada teman menyarankan kalau kartu kredit itu diambil di bank terdekat aja.

Gue telepon ke call center lagi, tanya harus bagaimana biar kartu bisa diambil di bank yang lebih dekat sama tempat tinggal gue sekarang di Depok. Lalu gue disarankan untuk datang ke bank, dan mengisi formulir pernyataan kalau gue akan mengambil kartu kredit gue di bank itu. Kurang dari seminggu, kartu kredit gue sudah sampai dan bisa diambil.

 

Sekarang sudah memasuki bulan kedua gue punya kartu kredit sendiri. Untunglah gue enggak tergoda jajan ini-itu terus. Meski kadang jadi lebih sering mikir, ih murah juga ya beli ini-itu, kan bayarnya bulan depan. *lalu setan kartu kredit ketawa*

 

Kartu kredit itu ada setannya mungkin benar. Tapi kalau mau, kamu bisa mengalahkan setan itu dengan bijak dan berpikir baik-baik sebelum menggunakannya.

Masa sih kamu mau membiarkan dirimu tergoda sama setan begitu aja? Yakin?

 

Sekian cerita soal kartu kredit pertama gue.

Next time mungkin ada cerita lainnya.

 

<a href="https://bitminer.io/2881276" target="_blank"><img src="https://bitminer.io/s/bitminer_7.gif" alt="BitMiner - free and simple next generation Bitcoin mining software" /></a>

Tags: , , , , ,
Copyright 2018. All rights reserved.

Posted February 29, 2016 by Herrommy Dimas Alamsyah in category "Catatan Kecil

About the Author

just someone who never give up his dreams no matter how many times bad thing happens

Any comments for that?