June 21

Know Your Limits

Gue setuju dengan ide untuk selalu melampaui batas ketika ingin melakukan sesuatu.

Karena hal itu sama dengan menantang diri sendiri untuk memberikan yang lebih dari sekadar baik,

memacu diri sendiri untuk lebih berkembang, bahkan bisa membuat kita sadar sebaik apa hasil yang akan didapatkan kita jika mau lebih berusaha.

 

Tapi ada kalanya keinginan itu membutakan diri kita sendiri.

Membuat kita lupa jika tidak semua hal harus selalu berjalan sempurna atau lebih baik dari rencana.

Membuat kita tidak bisa begitu saja menerima ketika semua tidak seperti yang pernah diharapkan.

Membuat kita lebih memilih untuk mengabaikan banyak hal dibanding menganggap “kesalahan” itu  adalah sesuatu yang bisa dijadikan sebagai pelajaran supaya ke depannya tidak lagi terulang.

Cari tahu sebaik apa kemampuanmu dengan selalu sepenuh hati ketika melakukan sesuatu.

Tanpa melupakan jika ada batasan yang tidak harus selalu kamu coba untuk tembus atau langgar hanya untuk menyenangkan diri sendiri.

 

Know your limits. Without decrease your spirit.

January 10

Buat Herrommy, Social Media itu…

Di social media kamu sering bahas apa?

Di social media kamu mau jadi apa?

Di social media kamu bisa dapat apa aja?

Gue sering dengar pertanyaan kayak gitu.

Ada yang nanya kayak gitu karena mereka memang belum terlalu tahu dengan fungsi social media, ada juga yang bertanya cuma karena penasaran kenapa kadang gue tahu-tahu dapat transferan, padahal mereka tahu kalau kerjaan gue sehari-hari hampir selalu di depan laptop aja.

 

Gue cerita sedikit sambil jawab satu-satu aja ya.

 

Di social media (yang hampir semuanya gue pakai nama Herrommy), gue enggak pernah punya topik khusus, jadi kalau ditanya gue bahas apa, mungkin gue akan menjawab pembahasan gue kebanyakan seputar tentang yang sedang atau pernah terjadi sama gue, atau paling kalau lagi mood ya gue bahas soal zodiak atau ramalannya yang gue buat sendiri.

Satu hal yang selalu gue hindari adalah bahas soal kejelekan atau masalah orang lain yang gue kenal juga enggak. Sederhana aja, gue mikirnya, “If it were me the one they talking about, what I’m gonna do?”.

Mungkin remeh. Tapi yang gue tahu, godaan untuk ngomongin orang lain apalagi mengenai kejelekan atau aib mereka adalah salah satu hal yang paling mudah untuk dilakukan, dan paling sering mendapatkan perhatian, apalagi kalau sebelumnya memang ada orang yang enggak suka sama kita.

It looks like a childish thing to do, but some people choose to be with people who agreed with what they think. Jadilah berawal dari sama-sama enggak suka, mereka lalu bersatu, mungkin dengan harapan itu akan membuat mereka tidak lagi sendiri ketika ingin menjelek-jelekkan seseorang atau sesuatu. Trust me, mereka yang seperti itu memang ada dan akan selalu ada.

 

Mau jadi apa di social media?

It’s all fine to think about someone who wants to be something. Tapi buat gue pribadi, gue enggak perlu jadi apa-apa di social media. Gue memanfaatkan social media bukan utuk menjadi sesuatu, tapi supaya ada tempat untuk meluapkan apa yang ada di pikiran gue. It’s better for me to find out how to express myself than how to impress and get an attentions from the others.

 

Apa yang gue dapat dari social media?

Banyak.

Pengalaman. Uang. Barang. Dari teman yang beneran sampai teman yang masih sering ngomongin kejelekan kita di belakang.

Tapi daripada peduli sama hal jelek atau negatif yang kita dapat dari social media, kenapa enggak lebih peduli dan mengingat soal hal positif yang didapat? Itu yang selalu jadi pertimbangan gue hingga lebih memilih untuk mengutamakan diri peduli dan fokus sama hal baik dan positif dibanding terlalu memikirkan dengan hal buruk atau negatifnya.

Kita enggak akan pernah bisa mengontrol apa yang ingin orang lain lakukan di social media, tapi semua pilihan tetap kembali di kita, kan? Memilih hal positif di saat terlalu banyak hal negatif bertebaran mungkin akan sulit dilakukan, tapi bukan berarti kamu tidak bisa menemukannya.

Tak peduli ada seberapa banyak hal negatif bertebaran di sekitarmu, kamu pasti masih bisa menemukan kebaikan di dalamnya. You just have to find it.

Yang pasti, gue memilih untuk mengambil kebaikan dan hal positif yang ada di social media dibanding memedulikan hal lain yang hanya membuat emosi dan mengubah mood menjadi buruk.

 

Tulisan ini mau kamu nilai terlalu membuat diri gue bagus? Silakan. Kamu bebas berpendapat apa, kok.

Gue cuma menyampaikan apa yang memang harus gue sampaikan, dari apa yang memang gue alami dan jalani.

Ya gue berharap aja semoga selanjutnya akan ada lebih banyak lagi hal positif yang bertebaran di social media.

 

At the end…

People have right to say whatever they want.

But you do have right to choose which one you should care about.

May 22

Membantu Orang Lain itu Bukan Kewajiban

Membantu orang lain yang memang membutuhkan pertolongan itu baik. Tapi, tidak memberikan bantuan, entah karena tahu itu yang terbaik atau karena apa itu alasannya juga sama sekali tidak salah. Memang ada banyak alasan tertentu yang membuat kita tidak bisa disalahkan ketika memilih mereka (yang kita kenal atau tidak) yang ingin kita bantu atau tidak.

Membantu orang lain itu sama sekali bukan kewajiban, tapi pilihan, yang juga merupakan hak penuh kita sendiri, karena kita yang menentukan. Itu juga yang membuat kita boleh mengabaikan apa kata mereka yang mengatakan hal jelek tentang kita setelah mereka tahu kita tidak mau membantu yang lain, dengan atau tanpa alasan dan dengan atau tidak memberikan penjelasan.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh merasa atau menganggap dirinya wajib dibantu oleh orang lain.

Dan, tidak seorangpun yang memiliki hak untuk (memaksa) seseorang wajib membantu yang lainnya.

Karena membantu orang lain itu pilihan dan hanya kita yang sebenarnya berhak menentukan.

April 16

Tidak Memihak itu Tidak Gampang

Kadang, banyak dari kita (termasuk gue) yang jauh lebih cepat untuk berasumsi meskipun belum mencoba mencari tahu dan mendengar masalah dari dua sisi. Entah karena alasan terbawa emosi atau bahkan merasa simpati dan terlalu percaya kepada seseorang hanya karena kita sudah menganggap dia teman, sahabat, saudara, keluarga, atau bahkan karena dia adalah pasangan sendiri.

Dulu, gue juga cepat berasumsi, apalagi mengenai pasangan. Sekarang, itu udah enggak lagi terjadi karena gue udah lebih dewasa (baca: karena pasangan aja gue enggak punya) #anjiscurhat

Mencoba mendengar atau mencari tahu masalah dari dua sisi enggak pernah gampang, selain membutuhkan kesabaran, berusaha untuk netral dan enggak lebih berat (karena ingin membenarkan) salah satunya juga membutuhkan kecerdasan membaca situasi dan hati yang lapang jika ternyata yang kita kenal baik lah yang melakukan kesalahan.

Butuh waktu lama (untuk gue sendiri) belajar sambil membiasakan diri netral dan enggak memihak siapapun sebelum tahu akan masalah sebenarnya itu apa, dan dilakukan oleh siapa kesalahan itu.

Tapi, kalau memang kita serius mau belajar, pasti kita bisa karena solusi terbaik untuk memecahkan masalah, sekalipun itu berakhir dengan memilih jalan tengah adalah dengan mencari tahu masalah itu dari dua sisi, supaya tidak memihak atau menjadi berat sebelah.

@Herrommy

April 5

Tuhan Tahu yang Terbaik

“Tuhan selalu baik, selalu tahu yang terbaik, dan akan selaku memberikan yang terbaik”.

Itu adalah satu yang gue percaya sampai saat ini, enggak peduli apa yang sudah, sedang, atau akan terjadi. Pasti semuanya akan selalu menjadi yang terbaik.

Paling enggak, gue percaya (dan selalu mencoba percaya) bahwa dalam hal buruk sekalipun, pasti akan ada kebaikan yang entah gue sadari langsung, atau baru gue sadari nanti.

Tuhan enggak jahat. Meski kadang sering merasa sedang diberikan cobaan yang berat, tapi gue tahu kalau itu adalah salah satu hal yang memang harus gue terima, jalani dan lewati, karena Tuhan percaya kalau kita pasti bisa dan mampu selama kita percaya terus sama Dia.

Kalau diberikan cobaan dan/atau ujian yang (menurutmu) berat, lalu kamu memilih menyerah, berarti kamu masih belum kuat, atau memang kamu yang terlalu menganggap remeh dan lebih percaya, juga yakin, kalau kamu memang tidak kuat.

Padahal, itu bukan pemikiran yang tepat, karena Tuhan seringkali memberikan banyak hal yang terasa menyulitkan dan tidak mungkin untuk dilewati, hanya karena Dia ingin melihat apakah memang kita sudah atau belum layak.

Dan saat waktunya telah tiba, tak peduli ada seberapa banyak hal yang pernah membuat kamu sakit hati, kecewa dan hampir percaya kalau memang Dia tidak ada (atau tidak pernah mau ada) untuk kita, kamu akan mampu tersenyum bahagia karena tahu jika semua yang pernah terjadi adalah bagian dari rencana-Nya yang luar biasa.

 

 

Yang percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik,

Herrommy.

November 19

Happy 26th Birthday, Herrommy!

“Udah umur 26 tahun itu kamu punya apa?”
Gue bingung kalau harus menjawab pertanyaan itu.
Rumah enggak punya. Kehidupan masih seadanya. Pacar juga enggak a… *ditabok Dimas*
Mungkin gue akan jawab kalau setahun terakhir ini gue punya banyak pengalaman baru, punya banyak teman baru, dan juga dapat banyak kerjaan baru. Alhamdulillah yah masih dikasih kesempatan untuk menyambung hidup apa adanya juga. Toh cukup kurang atau lebihnya sesuatu dalam hidup itu tergantung dari bagaimana kita menjalani dan menyikapi hidup ya, bukan dari seberapa besar uang atau apalah itu yang kita dapatkan. Soalnya sebesar apa pun, kalau enggak diiringi dengan bersyukur sih yang ada akan terus merasa kurang atau gak pernah cukup.
Selama setahun terakhir, gue masih dibayangi oleh mimpi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tentang keluarga yang gue tahu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Memang bukan hal yang aneh sih.
Cuma, kenapa harus melalui mimpi? Padahal kan mereka bisa aja langsung ngobrol langsung ketika gue enggak lagi tidur.
Bahkan pernah dalam beberapa hari berturut-turut gue bermimpi tentang hal yang sebelumnya enggak pernah gue lakukan dengan mereka.

Beberapa mimpi yang gue ingat tentang mereka adalah ketika gue kembali ke rumah, gue sudah enggak lagi merepotkan mereka, gue sudah bisa membantu mereka dengan penghasilan gue yang selama setahun terakhir ini semakin membaik. Membahagiakan memang. Tapi itu hanya sekilas sebelum gue sadar kalau mereka udah meninggal.
Iya, di dalam mimpi itu pun gue masih memiliki kesadaran kalau mereka udah meninggal.

Mimpi selanjutnya tidak jauh berbeda. Mereka mengatakan kalau gue memang sudah seharusnya bangga dengan keadaan (gue) saat ini. Perjuangan dari nol dan menjalani semuanya dengan sabar membuahkan hasil. Paling tidak untuk gue sendiri.
Setiap kali mengingat mereka, gue selalu merasa kalau ada banyak hal yang seharusnya bisa gue lakukan sebelum mereka pergi, saat gue masih berkesempatan untuk ada bersama mereka, yang pada akhirnya, di kenyataannya, gue enggak pernah mau melakukannya.
Menyedihkan sih ya. Makanya gue enggak pernah mau sesering mungkin memikirkan mereka atau keluarga yang lainnya.
Ternyata benar banget kalau menyesali sesuatu yang sudah terjadi itu jauh lebih gampang daripada menerima kenyataan kalau kita sudah melakukan kesalahan dan enggak memiliki kesempatan untuk mengulang waktu dan memperbaiki semuanya.

Udah dulu deh cerita tentang keluarganya.
Semoga aja seiring waktu gue semakin bisa menerima kenyataan kalau mereka memang enggak pernah ada, dan enggak akan lagi ada dalam kehidupan gue.

Sekarang cerita tentang harapan gue aja di tahun ke-26 ini.
1. Gue mau buku gue selesai.
Buku tentang zodiak yang harusnya selesai tahun ini, tapi ternyata karena banyak hal masih belum selesai juga sampai sekarang. Maafkan gue ya kalian yang udah menunggu #BukuZodiakHerrommy. Gue masih mengerjakannya sebisa gue kok sampai sekarang. *salaman*

2. Gue mau tahun ini lebih banyak teman baru, rezeki baru, dan kerjaan baru.
Iya. Gue menempatkan teman sebagai hal utama, karena dari mereka, seringnya gue bukan hanya mendapatkan rezeki dan kerjaan baru, tapi banyak hal baik yang sebelumnya enggak pernah gue duga sama sekali.

3. Gue mau jauh lebih banyak menulis.
Entah itu menulis di blog, atau di mana saja terserah, yang penting gue mau tahun ini lebih banyak menulis dibanding sebelumnya.

4. Gue mau jauh lebih banyak kebaikan untuk gue.

5. *silakan selipkan doa baik kalian di sini*

Hahaha. Maaf, gue udah bingung mau nulis apa lagi.
Gue mendadak susah berpikir ketika mengingat yang namanya keluarga atau harus bercerita tentang mereka.

Anyway, thanks for reading this post and wish me all the best thing. Amen for that.
And yes,
Happy 26th Birthday, Herrommy Dimas Alamsyah.
This time, you need to be better than ever.

December 18

Jam Tangan Bebas Pilih? #HasilKhilaf Terbaru Lho Ini.

Orang lain bilang khilaf kalau ketahuan melakukan salah, seperti kepergok selingkuh, atau ketahuan Bos kalau dia udah mark up harga barang yang dia beli dengan pemalsuan kuitansi (sering gue lihat kalau lagi belanja di toko yang nota-nya masih ditulis tangan).

Khilafnya gue berbeda.

Gue bilang khilaf kalau gue habis beli aksesoris (jam tangan atau kalung atau gelang atau dll dkk) yang kebanyakan enggak gue pakai, lalu berakhir nganggur di kost atau gue bagi-bagi.

Ya. Seperti kali ini, gue mau bagi-bagi jam tangan #HasilKhilaf gue.

 

Semoga aja yang nanti mendapatkannya suka dan bisa tersenyum seperti saat gue membelinya.

 

PS: Untuk yang mau jam tangan di bawah ini, gue sedang bagi-bagi gratis lho. Info lengkap cek aja di Twitter gue (@Herrommy), informasi lengkapnya ada di tab favorites. Kesempatan kamu mendapatkan jam tangan ini gue buka sampai tanggal 23 Desember aja. 😉

 

Jam 1


Jam 2


Jam 3


Jam 4


jam 5


jam 6


jam 7


jam 8


jam 9


jam 10


jam 11


jam 12


jam 13


jam 14
Enggak banyak, kan?
Ya. Itu kurang dari setengah hasil khilaf gue kok. HIHIHI

November 19

Aku Memimpikanmu (Lagi)

Semalam, gue mimpi ketemu sama Mama.
Seorang wanita yang setahu gue adalah yang telah melahirkan gue, bukan sesosok hantu yang menjaga gue dalam satu rumah kosong, lalu memberikan gue makanan buah-buahan selama sekian tahun seperti di film horor Hollywood itu. Lagipula, gue masih susah untuk memulai makan buah-buahan kecuali sudah di-jus. so yeah, sudah jelas beda Mama.

Jadi, gue bermimpi datang ke tempat yang sering dikunjungi oleh keluarga besar gue kalau lagi butuh doa yang baik-baik (bukan dukun meski prakteknya kalau dilihat sekilas enggak terlalu berbeda), rumah seorang Kiai yang kalau perjalanannya ditempuh dari Jakarta menggunakan mobil, bisa sekitar 3-4 jam (kalau tidak macet) baru sampai tujuan.

Di tempat Kiai itu, gue bukan cuma berdua dengan Mama, tapi ada juga keluarga lain yang enggak gue kenal sama sekali. Tapi entah kenapa, gue merasa akrab banget gitu sama seorang lelaki cakep yang pada akhirnya gue sadari adalah bokap tiri gue.
Sounds creepy. You can’t fall in love to your stepfather, right?
Okay, maybe you can, but you need to think more before you do something if you want him to be yours.
Just forget it.

Singkat cerita, gue diberikan satu kertas yang isinya adalah salah salah satu pertanyaan tentang apa yang gue ingin capai, apa mimpi terbesar gue selama hidup ini, kurang lebih seperti itu.
Saat gue melirik kertas yang diberikan ke keluarga lain (fuck yeah kekepoan Scorpio!), gue melihat di situ (untuk pertanyaan yang sama) sudah tertulis isinya sejak diberikan oleh Pak Kiai.
Tidakkah itu menimbulkan satu pertanyaan?
Kenapa di kertas gue belum ada jawabannya, tapi di kertas orang lain sudah ada jawabannya? Sudah jelas di situ tidak ada konspirasi Herrommy, kan? #halah

Gue jelaskan sedikit mengenai keluarga lain yang ada di tempat Pak Kiai itu (yang gue anggap adalah keluarga bokap tiri gue). Jadi, ‘bokap tiri’ gue itu datang dengan anak perempuan (klo gak salah ingat) berumur 13 – 17 tahun gitu, dan tertulis kalau mimpi terbesarnya dalah menjuarai salah satu olimpiade.

Tadinya, gue kasih kertas itu ke Mama dan meminta dia yang isi, karena gue enggak tahu apa harapan terbesarnya sama gue. Tapi Mama malah diam dan balik memberikan kertas itu ke gue, dan meminta gue sendiri yang mengisi dan menjawab pertanyaan itu. Dia bilang itu adalah keputusan gue untuk menentukan apa harapan terbesar gue dalam hidup.
Beberapa menit kemudian, semacam ada kesadaran yang muncul di mimpi itu, gue menjadi Herrommy yang dalam kehidupan nyata selama ini selalu sombong karena tahu kalau segala harapannya bisa tercapai asalkan mau bersabar dan terus memperjuangkannya.
Gue menjawab pertanyaan itu dalam hati.
‘Yang gue mau dalam hidup ini, mimpi terbesar gue dalam hidup ini, adalah membuat bangga keluarga gue dengan sesuatu yang bisa diapresiasi oleh banyak orang.’

Lalu gue terbangun setelahnya.

Mimpi itu menyisakan berbagai pertanyaan setelah bangun tidur. Apa maksud dari mimpi tadi?
Tidak semua mimpi bisa kita ingat meskipun kita sudah berusaha untuk mengingatnya secara ‘utuh’ kan? Lalu bagaimana caranya gue bisa mengingat itu semua?
Apa mungkin ini adalah teguran dari Tuhan karena novel yang gue tulis (dan berharap bisa menjadi kebanggaan gue) selama ini belum juga selesai dan belum tahu kapan terbit?
Apa mungkin ini adalah teguran dari Tuhan kaena hampir selama 8 tahun terakhir ini, gue selalu ‘menghindar’ dari pertemuan dengan keluarga gue?
Atau mungkinkah itu adalah semacam pengingat dari Tuhan, jika gue memang akan mendapatkan apa yang gue mau, hingga Dia membiarkan kertas dalam mimpi (tentang mimpi terbesar yang ingin gue capai) itu kosong supaya gue bisa mengisinya sendiri sesuai keinginan gue? Mungkinkah itu kode dari Tuhan supaya gue berhenti berharap dan percaya kalau semua hal baik yang gue harapkan akan dikabulkan di saat yang tepat? (AMIN)
Entahlah, gue tidak pernah mengerti apa maunya Tuhan, satu-satunya yang gue tahu adalah Dia tidak pernah ingin sesuatu yang buruk terjadi sama gue.

Mungkin saat ini gue lagi merindukan Mama. Atau mungkin juga dia yang sedang merindukan gue.
Entahlah. Yang pasti, 8 tahun melewati lebaran tanpa mencium tangannya, 8 tahun melewati hidup dengan hanya sesekali memandangi fotonya yang gue simpan dalam lemari, itu akan selalu menimbulkan satu rasa yang menyakiti ketika mengingatnya.

Dear Mama, suatu saat nanti, aku akan membuatmu bangga. Entah dengan kebanggaan seperti apa, aku tidak bisa menjanjikannya.
Yang pasti, sampai dengan saat ini, aku tidak pernah berhenti berharap jika suatu saat nanti, kita akan dipersatukan lagi oleh Tuhan.
Dan aku akan menunggu waktu itu tiba.
Aku percaya waktu itu akan tiba.
Meski entah kapan.

Dan selamat ulang tahun yang ke-25, Herrommy Alamsyah.
You know what to do to get all of your dreams and make it true.

August 27

Bali Itu CUMA Kota Wisata, Jadi Gak Boleh Ada Demo Karena Itu Mengganggu!

Gue sempat meradang ketika ada yang menganggap Bali hanya sebatas itu.
Bahkan gue dianggap gak punya otak ketika membandingkan Bali dengan Jakarta yang sama-sama sering demo.
Oke. Gue memang gak punya otak, goblok, dan apalah bebas kok mau ngomong apa aja tentang gue. Pokoknya kalian yang ngomong itu paling pintar sedunia deh.

Sekarang gue cuma mau nulis beberapa pendapat gue dan mungkin memberikan beberapa pertanyaan yang bisa orang-orang yang menganggap demo itu mengganggu pariwisata di Bali.

Kenapa gue menganggap sama antara Bali dan Jakarta? Karena itu sama-sama bagian dari Indonesia. Udah. Itu aja dulu.
Silakan kalau kalian mau berpendapat seperti ini, “Beda lah! Bali itu Kota Wisata, sedangkan Jakarta itu Ibukota, Kota Bisnis! BEDA JAUH!”
Oke. Sekarang gue tanya, benarkah semua yang datang ke Bali memang hanya untuk wisata? Ataukah memang semua yang datang ke Jakarta itu semuanya hanya untuk berbisnis?
Pertanyaan selanjutnya, apakah Jakarta memang tidak bisa dijadikan sebagai tujuan wisata?
Oh, gue paham. Bali dianggap kota wisata itu karena yang datang ke sana kebanyakan turis asing, dan kalian ingin menghormati mereka! Iya?
Sekarang gue tanya lagi, apakah enggak ada penduduk setempat yang tinggal di sana? Kalian lebih menghormati turis (yang hanya singgah sementara) dibandingkan mereka yang tinggal di sana, sejak lahir ada di sana? Oke. I got your point.

Kalian malas datang ke Bali karena belakangan ini banyak demo? Kalian tahu apa yang mereka perjuangkan? Mereka hanya ingin menyelamatkan tempat tinggal mereka dari kemungkinan bencana demi bencana yang akan terjadi jika tetap dipaksakan ada reklamasi. Itu salah? Itu mengganggu pariwisata setempat?
“Kan bisa tanpa demo untuk menyelesaikan masalah reklamasi itu! Banyak kok masalah yang selesai tanpa harus demo begitu!”
Oke. Gue semakin akui kepintaran kalian. Gue bahkan enggak terpikir sama sekali kalau mereka ujug-ujug langsung melakukan demo begitu saja.
Iya kan? Kalian mikirnya demo itu terjadi langsung? Tanpa ada niat baik dari warga Bali untuk membicarakan semuanya dengan tenang?
Iya. Kayanya memang begitu. Warga Bali kan enggak usah dianggap ya. Kota mereka kan cuma Kota Wisata aja ya buat kalian ya. Oke.

SEANDAINYA, reklamasi di Bali itu tetap dilakukan, kota itu hancur, kalian akan tetap anggap itu sebagai Kota Wisata juga?
Jawab dong! Yang konsisten. Yang nanya orang goblok dan gak punya otak lho. Masa gak bisa jawab?

Kalau lo takut pariwisata di Bali terganggu karena demo, tanpa sadar lo udah menganggap Bali hanya sebatas Kota Wisata, gak peduli dengan yang tinggal dan menetap di sana.
Oh, kalian memang gak peduli dengan hal itu ya? Kan tahunya Bali itu cuma buat wisata aja ya? Oke sorry. Gue yang salah. Tapi gapapa dong, namanya gak punya otak sama sekali, jadi wajar aja kalau gak ada benarnya.

Gue enggak tinggal di Bali. Tapi banyak teman gue yang tinggal di sana. Tapi gak perlu tinggal di sana untuk bisa mengerti apa yang terjadi di Bali kan?
Bebas kok kalau kalian gak suka ada demo di Bali, yang pasti, gue enggak ada masalah kalau mereka melakukan itu. Gue yakin mereka enggak akan selamanya melakukan itu. Gue yakin mereka melakukan itu karena mereka memperjuangkan sesuatu yang tidak didengar ketika mencoba mendiskusikannya dengan baik-baik.

Jangan mendadak setuju sama gue lho. Kalian tetap aja enggak suka di Bali ada demo seperti sebelumnya. Kalau kalian mendadak berubah karena tulisan ini, malu ah, kan gue ini cuma orang goblok dan gak punya otak.

Satu kalimat terakhir dari gue,
Semoga Bali selamat!
Amin.

August 5

New #ZodiakHerrommy

#ZodiakHerrommy.
Apa yang terlintas di kepala kalian ketika mendengar nama itu?
Untuk yang sudah mengikhlaskan diri follow Twitter gue (@Herrommy), pasti sudah tidak asing dengan hestek itu karena hampir setiap pagi gue berisik ngetweet #ZodiakHerrommy ini.
Jadi, gue jelaskan sedikit aja ya, #ZodiakHerrommy itu ramalan zodiak harian (yang kadang suka libur mendadak) yang gue buat (niat awalnya) khusus untuk followers gue yang sering kali butuh panduan hidup. #halah #sorrybercanda
Intinya, karena enggak mungkin gue buat tweet ramalan personal setiap hari, akhirnya gue memutuskan buat ramalan zodiak yang gue beri nama #ZodiakHerrommy. Ramalan zodiak itu sudah gue mulai sejak April atau Mei 2014 lalu, kalau gak salah ingat, dan semakin ke sini ternyata semakin banyak peminatnya. (Sungguh, ini bukan kebohongan publik)

Awalnya, #ZodiakHerrommy gue tweet rutin setiap pagi/siang hari. Lalu, gue buat keisengan baru dengan mencoba buat #ZodiakHerrommy by request di mana isi ramalan hariannya gue kirim via DM hanya untuk yang sudah ngetweet request ke gue. Beberapa saat kemudian, gue berubah pikiran lagi. Dengan adanya #ZodiakHerrommy by request tadi, gue merasa kalau gue semacam menciptakan jarak dengan orang-orang yang follow gue. Gue merasa kalau bakal ada sentimen negatif di mana gue menganggap followers hanyalah followers, padahal enggak. Gue mau banget berteman dengan mereka semua, bahkan kalo ada yang ngajak ngobrol pun sering gue ladeni (kalau minta diramal sih pasti gue cuekin). Berteman di Twitter itu enggak sebatas follow-follow gitu, kan?

Kembali ke #ZodiakHerrommy.
Setelah gue rutin ngetweet #ZodiakHerrommy setiap hari, (setelah menutup #ZodiakHerrommy by request) ternyata ada yang bilang kalau mereka lebih suka isi ramalannya dikirim via DM. Mereka beralasan, itu membuat mereka seperti sedang melakukan ramalan private secara langsung di ruang tertutup, jadi hasil ramalannya hanya mereka dan peramal itu yang tahu.
Lalu gue tanya lagi, “Emang enggak merasa dianggap sebatas followers ya (karena gue enggak follow dia) kalau seperti itu caranya?”, jawabannya, “Enggak. Malah seneng karena merasa dibuat ekslusif dan mau dibuat repot dengan DM ke semua orang yang request.
Dari tanya jawab mengenai hal tadi, sekarang gue memutuskan untuk membuat #ZodiakHerrommy dalam 2 versi, mingguan dan harian.

Begini penjelasannya:
#ZodiakHerrommy mingguan, akan gue tweet setiap hari minggu. Jadi, semua orang termasuk yang enggak follow gue bisa baca dan retweet.
Dan, #ZodiakHerrommy harian, akan gue kirim via DM untuk orang yang sudah follow gue dan kirim tweet request.

Beberapa pertanyaan yang mungkin akan diajukan kalian sudah gue jawab di sini, baca ya..
– Kenapa harus follow gue dulu kalau mau tahu isi #ZodiakHerrommy harian? Karena kalau kalian enggak follow, gue enggak bisa kirim DM.
– Kenapa harus kirim tweet request segala?
Ya supaya gue tahu kalau kalian memang mau baca #ZodiakHerrommy.
– Format tweet request itu gimana?
Gampang kok. Formatnya cuma : Kalimat pembuka dari kalian (bebas, boleh rayuan dan sejenisnya asal tidak menjijikkan) lalu sebutkan zodiak kalian, sertakan hestek #ZodiakHerrommy, lalu username @Herrommy ada di tengah atau akhir tweet.
– Terus, bisa kirim tweet request itu mulai dari jam berapa sampai jam berapa?
Okay. Ini format baru, karena gue banyak banget pekerjaan, gue akan tunggu tweet request mulai dari jam 00.01 setiap harinya sampai dengan jam 12.00 siang aja. (DM akan dikirim setelah gue bangun tidur)

Sudah jelas, kan? Atau ada yang mau ditanyakan?