February 23

Movie Review: Pride and Prejudice and Zombies

Yang pertama kali terlintas di pikiran gue saat membaca judulnya dan melihat poster filmnya adalah “Ini film apaan sih?”

Gue cuma yakin kalau di film ini bakal ada zombie. Udah. Gue gak memikirkan atau memperkirakan apa-apa lagi selain itu.

Gue sengaja enggak berharap banyak karena film ini memang enggak banyak dibicarakan. Jangankan dapat respon positif, tahu ada teman yang mau nonton film ini aja enggak.

 

Gue cerita sedikit ya.

Pride and Prejudice and Zombies ini ceritanya berlatar belakang tentang Inggris beberapa ratus tahun yang lalu (sekitar tahun 1800, CMIIW). Gampangnya, (buat gue yang enggak tahu sejarah aslinya bagaimana), film ini menceritakan tentang Inggris di masa itu, dengan twist (baca: plot tambahan) ada wabah zombie.

 

Setiap kali menonton film yang ada zombie, beberapa orang (seperti gue) mungkin akan secara otomatis (tanpa sadar) membandingkannya dengan serial The Walking Dead yang sudah gue tinggalkan sejak season 3. Dan film ini, harus gue akui sangat keren. Bahkan termasuk yang paling berhasil membuat gambaran gue tentang zombie tidak berguna di The Walking Dead itu hilang.

Film ini berhasil memberikan gambaran baru tentang zombie. Zombie menye-menye kayak anak galau habis putus cinta lalu enggak mau makan dan mandi di serial The Walking Dead itu gak ada. Gak sebanyak di The Walking Dead maksudnya.

 

Selain dari zombie, yang tidak kalah menarik dari film Pride and Prejudice and Zombies adalah karakter (manusia) lainnya (yang bukan zombie). Entah gue yang masih kurang referensi film sejenis ini, atau memang film ini terlalu hebat dalam menyusun cerita, gue kebanyakan bengong dan hampir tepuk tangan di dalam bioskop. Jalan cerita sekaligus dialognya enggak terduga. Ketika sudah berpikir “Oh pasti begini”, ternyata yang terjadi adalah hal lainnya.

 

Buat gue, film ini sangat menghibur dari segi cerita, apalagi untuk mereka yang suka film zombie.

 

P.S: “Kalau kamu kagetan, gampang jijik, juga gampang baper, jangan memaksakan diri nonton film ini. Kasihan kamunya.”

 

Berikut foto beberapa cast film Pride and Prejudice and Zombies yang mungkin bisa jadi pertimbangan kamu akan nonton atau enggak:



February 13

Deadpool itu Film Sampah

Entah gue yang enggak terlalu memperhatikan cara promosi film Hollywood selama ini, atau memang baru kali ini ada film yang promosinya gila-gilaan seperti Deadpool.

Promosi yang dilakukan jauh-jauh hari yang salah satunya dengan menjadikan film orang lain sebagai salah satu sumber bercandaan adalah salah satu yang dilakukan oleh Deadpool. Itu sempat membuat gue mengurangi ekspektasi gue untuk film Deadpool.

 

Gue enggak yakin filmnya akan bagaimana karena promosi yang digunakan sempat gue anggap terlalu memaksa.

 

Lanjut bahas filmnya…

Sampai akhirnya waktu yang ditunggu itu tiba, Deadpool resmi tayang di bioskop Indonesia. Gue nonton langsung di hari pertama tayang.

Sejak lampu dalam bioskop mati, ternyata banyak hal yang langsung disuguhkan oleh Deadpool. Gue udah hampir cekikikan ketika melihat tulisan-tulisan apalah itu yang ada di layar.

“Sepertinya film ini akan jadi film superhero paling sampah yang pernah gue tonton,” ucap gue dalam hati.

DAN TERNYATA BENAR AJA DONG. Deadpool adalah film superhero paling sampah yang pernah gue tonton. Gue pun akhirnya mengerti dengan sendirinya kenapa promosi dari jauh-jauh hari film Deadpool ini sampai segitunya. Karena memang isi filmnya pun bisa dibilang hampir membahas semua hal dan “menyerang” semua orang atau film termasuk Ryan Reynolds dan film yang sebelumnya dia perankan sendiri.

 

“SUPERB! HILARIOUS!”

Mungkin itu testimoni gue soal Deadpool jika harus dipersingkat.

Kalau harus dibandingkan kompleksitas dan lucunya film ini mirip dengan film apa, gue akan memilih untuk membandingkan film Deadpool dengan Kingsman: Secret Service, tapi Deadpool ini dapat rasa superhero. Itu aja bedanya.

Mungkin gue akan nonton film ini lagi dalam waktu dekat karena keren dan menghiburnya sudah masuk ke level luar biasa versi gue.

 

Dan karena ini adalah film yang sangat vulgar dan dapat rate Dewasa, tolong untuk orangtua yang ingin mengajak anaknya yang masih di bawah umur menonton film ini, pikir-pikir lagi. Ini berbeda dengan film superhero lainnya. Bukan hanya dialognya yang tidak cocok, tapi juga ada banyak adegan yang kasihan banget kalau harus ditonton anaknya.

Iya, film ini mungkin sangat menghibur untuk orang dewasa, tapi tidak terlalu cocok untuk ditonton oleh anak-anak.

Jangan juga sampai memaksakan anaknya ikut nonton film Deadpool ini, lalu setelah selesai malah ngomel. Kasihan kakak gue, Ryan Reynolds, nanti bisa-bisa film ini gak akan ada lagi kelanjutannya kalau terlalu banyak respon negatif yang jelas-jelas karena kesalahan orangtua bodoh yang tadi.

Be a smart parents, please.

Love greetings from Deadpool.

 

Sorry #TeamCap and #TeamIronMan on Civil War, I’m #TeamDeadpool.”

February 11

A Copy Of My Mind itu Film Apa Sih?

Kalau kamu awalnya berpikiran seperti itu, gapapa, gue juga berpikiran hal yang sama soalnya. Gue enggak tahu ini film apa, cuma dari awal udah suka aja lihat poster Chicco Jerikho sama Tara Basro berpelukan layaknya orang dewasa sedang dimabuk cinta. #halah

Saat ada Piala Citra FFI 2015 kemarin, film A Copy of My Mind ini jadi salah satu nominasi sebagai film terbaik. Dan beruntungnya gue dapat kesempatan untuk menonton film ini saat itu juga di Plaza Indonesia karena waktu itu ada penayangan secara terbatas.

Saat awal film dimulai, gue masih cuma bisa bertanya-tanya, “Ini film kok gini doang sih?”, “Kok Tara Basro lagi, Tara Basro lagi?”, sampai akhirnya gue mulai mengerti apa premis cerita ini, bagaimana permulaan hingga ada cerita ini, hingga alasan kenapa film ini bisa masuk ke nominasi film terbaik Piala Citra FFI 2015, juga festival film yang ada di luar negeri. Karena film ini memang sangat layak untuk ditonton oleh banyak orang di seluruh dunia.

Banyak dialog sederhana dari scene film A Copy of My Mind yang buat gue bengong, dan ngomong dalam hati, “Ini Joko Anwar kok kepikiran aja ya yang begituan? Gila nih orang”.

Gue salut sama Joko Anwar dan semua cast A Copy Of My Mind. Gue enggak tahu gimana perjuangan mereka hingga bisa dapat adegan seperti itu. ini lebih dari sekadar skenario, tapi juga cast yang jelas banget terlihat gak ada manja-manjanya sama sekali. Dan setelah kemarin dijelaskan oleh Joko Anwar sendiri di Twitter soal proses pembuatan A Copy Of My Mind, gue paham kenapa semua scene yang ada di film itu terasa luar biasa alami dan lekat dengan beberapa orang, khususnya mereka yang tinggal di Jakarta.

Gue enggak bisa cerita banyak soal isi filmnya, tapi gue bisa bilang kalau Sari (yang diperankan Tara Basro) dan Alek (yang diperankan Chicco Jerikho) saat berkeringat itu seksi. Eksotisnya kulit Tara Basro dan Chicco Jerikho, ditambah lagi dengan keringat yang bisa kamu lihat ketika nonton filmnya, itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk menonton film ini.

Sorry ya guys gak bisa cerita banyak soal film ini. Takut malah jadi spoiler.

Yang bisa gue bilang adalah film ini adalah salah satu film keren yang harus kamu tonton. Tonton segera di bioskop terdekat jika ada karena film ini sudah tayang mulai hari ini (11 Februari 2016). Gue yakin kalian gak akan merasa kecewa, cuma, untuk beberapa orang, mungkin film ini akan menghadirkan “efek trauma” karena ceritanya membangkitkan beberapa memori lama. Gue sempat merinding selama beberapa jam setelah selesai nonton, FYI aja.

Dan karena film A Copy of My Mind ini film dewasa, tolonglah kamu yang masih belum 17 tahun, atau kamu adalah orangtua yang ingin mengajak anaknya nonton di bioskop, jangan tonton film ini. Film ini sama sekali bukan untuk mereka.

 

 

Pesan terakhir dari gue, “Kak Tara Basro, kalau lain kali butuh dikipasin, panggil aku ya.”

February 10

Talak 3 itu Film Baper Khusus Orang Dewasa

GUE YAKIN FILM TALAK 3 INI BISA BUAT BANYAK ORANG DEWASA BAPER!

Kenapa gue sebut orang dewasa? Karena film Talak 3 ini ceritanya memang bukan untuk abege galau menye-menye yang dikasih quotes apa gitu langsung “YA AMPUN”.

Awalnya gue malas nonton film ini ketika dilabelin “Komedi Romantis”. Berdasar pengalaman, ketika menonton film yang disebut begitu, jatuhnya komedi enggak, romantis apalagi. Tapi film Talak 3 ini mampu menyuguhkan keduanya sekaligus. Luar biasa!

Film Talak 3 ini bercerita tentang pasangan muda yang awalnya menikah, lalu bercerai dengan suaminya langsung menjatuhkan talak tiga, lalu mereka ingin rujuk kembali karena ada satu proyek yang memaksa mereka harus menikah lagi terlebih dulu baru proyek mereka disetujui.

Tapi masalah terjadi karena dalam hukum islam, suami yang sudah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya tidak bisa menikah lagi secara langsung, kecuali istrinya sudah pernah menikah lagi dengan lelaki lain.

Mereka berdua tidak pernah lelah untuk memperjuangkan kembali hubungan mereka meski ada banyak masalah yang hadir dan harus mereka selesaikan sebagai “syarat” sebelum mereka bisa bersama.

Akting Risa (Laudya Chintya Bella), Bagas (Vino G. Bastian), dan Bimo (Reza Rahadian) sudah lebih dari cukup untuk buat kita menikmati cerita sepanjang film.

 

Gue bisa bilang kalau banyak banget pesan yang bisa diambil dari pasangan dewasa yang baru (mau) menikah. Ada banyak hal yang harus mereka perhitungkan selain dari masalah resepsi yang konon katanya biayanya semakin tidak terkira mahalnya.

Harus belajar untuk mengerti pasangan, belajar mengerti orang lain di sekitar kita, sampai dengan harus belajar tentang arti pengorbanan yang kadang kita lupa atau abaikan karena merasa kita sudah memilih yang benar-benar baik untuk kita.

Untuk kamu yang cengeng atau sedang dalam masa galau menjelang pernikahan, coba bawa tisu saat menonton film ini. Gue yakin kalian yang sudah dewasa akan baper dengan sendirinya meskipun tidak ada banyak dialog puitis yang tanpa sadar akan kita “Apasih”-in seperti ketika menonton film galau yang marketnya adalah ABG.

 

Satu hal lagi, twist dan ending dari cerita ini KEREN BANGET.

February 9

Sekilas Tentang Film SITI

Awalnya, gue sempat gak percaya ketika film ini jadi pemenang FFI (Festival Film Indonesia) 2015 sebagai film terbaik. Kenapa? Jelas aja dong. Filmnya belum tayang. Pemainnya juga enggak tahu siapa. Gak ada “gaung” atau promosi apa gitu di social media, eh tahu-tahu jadi juara. Kaget dong?

Saat Piala Citra kemarin menayangkan beberapa calon film terbaik, gue cuma nonton A Copy Of My Mind – Joko Anwar. Dan itu bagus banget. Gue pikir film itu yang akan jadi juara, eh ternyata enggak. Hahaha.

Setelah menonton filmnya, gue tahu alasannya kenapa film itu bisa menjadi juara FFI 2015, mungkin karena film dengan cerita sederhana, mungkin juga dengan budget seadanya, tapi bisa membuat film itu tidak kehilangan keistimewaannya. Mereka pantas dan sangat layak menjadi juara FFI 2015.

Sumpah. Gue bengong ketika tahu film itu ternyata seluruh scene-nya hitam putih, tidak berwarna lain seperti film-film masa kini pada umumnya. Gue sempat menunggu, ah mungkin awalnya aja yang hitam putih, lalu akhirnya berwarna kayak film The Giver gitu, eh ternyata enggak. Tapi serius, gue merasa itu juga yang buat film ini jadi istimewa luar biasa. Ketidakbiasaan ini membuat film ini bisa membuat beberapa anak masa lalu (yang sudah tidak muda-muda amat lagi) jadi terkenang sama zaman dahulu.

Cerita SITI sendiri sederhana. Bercerita tentang seorang wanita yang sudah memiliki anak, dengan rumah seadanya, hidup seadanya, lalu harus mau mengerjakan banyak hal hanya untuk mendapatkan uang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, karena suaminya tidak lagi bisa apa-apa.

Dan jujur aja, itu mengingatkan kehidupan gue dulu, ketika masih hidup dengan Ibu (yang sekarang entah di mana) dan Nenek (yang sudah meninggal), sementara gue adalah Bagas yang sedang nakal-nakalnya.

Sepanjang film SITI, entah berapa kali gue harus menghela napas, tertawa, lalu menahan air mata. Film ini cukup menguras emosi gue. Kalau kamu bisa Bahasa Jawa, akan jauh lebih banyak lagi yang bisa membuatmu cekikikan atau senyum-senyum di dalam bioskop. Iya, memang ada subtitle di filmnya, tapi itu tidak terlalu penting kalau kamu bisa Bahasa Jawa.

 

Sekian dulu cerita gue soal film SITI.

Segera tonton filmnya kalau masih ada di bioskop terdekat di kotamu. Sama sekali tidak sia-sia mengeluarkan uang sekian untuk film seperti ini.

January 13

NGENEST Movie Itu BUKAN Film Komedi

Iya. Begitu.

Gue enggak menganggap NGENEST Movie sepenuhnya film komedi, karena hanya di sedikit bagian yang buat gue tertawa. Kebanyakan hanya senyum, senyum, dan senyum. Buat gue, NGENEST itu lebih masuk ke film drama, lalu di dalamnya diselipkan beberapa hal yang buat beberapa orang lucu, dan buat beberapa orang lain seperti gue biasa aja, cuma bisa buat senyum.

 

Gue enggak pernah baca buku NGENEST. Tapi gue beberapa kali nonton Stand Up Ernest Prakasa (termasuk special show-nya), dan gue juga punya beberapa digital download yang dijual di HAHAHA Store. Mungkin itu adalah salah satu penyebab gue enggak terlalu banyak tertawa ketika nonton NGENEST Movie.

Satu hal yang harus gue akui, film ini bisa menyampaikan poin-poin yang biasa dibawakan Ernest ketika sedang stand up. Mulai dari bahasan tentang alat kontrasepsi seperti kondom, dan tentang istrinya ketika melahirkan seperti apa. Semua pesan itu sampai. Boleh dibilang, jika Stand Up gue cuma bisa membayangkan apa yang diceritakan Ernest, maka di NGENEST Movie ini gue bisa melihat langsung gambaran yang sering dibicarakan oleh Ernest.

 

Sebelum gue spoiler, gue mau ngasih tahu sedikit lagi aja soal film NGENEST Movie ini.

Jadi, film NGENEST ini diangkat dari trilogi buku NGENEST, yang ditulis oleh Ernest Prakasa. Lalu Ernest juga yang menulis skenario, jadi sutradara, sampai jadi pemainnya.

Multi talenta banget ya, Ernest. *tepuk tangan*

Film NGENEST sendiri menceritakan tentang Ernest, mulai dari saat dia bayi. Sebagian perjalanan Ernest diceritakan di sini. Mulai dari pengalamannya ketika SD, SMP, sampai dengan ketika dia kuliah lalu menikah. Harus gue akui, penyampaian ceritanya halus banget. Enggak terlalu terasa ada dialog yang dipaksakan masuk hanya untuk membuat penonton tertawa. Itu hal yang bagus banget buat gue, yang kadang kesal kalau melihat satu film lalu ada dialog yang “dipaksakan” masuk hanya untuk membuat film menjadi lucu atau membuat penonton terharu.

Gue suka lihat pasangan Ernest dan Lala Karmela di film ini. Lala yang manis banget, membuat Ernest semakin biasa aja. #eh *ditabok Ernest*

Gue juga suka sama Morgan Oey di film ini, meski di beberapa adegan gue sempat berpikir, “Ini Ernest yang kelihatan muda banget, atau memang Morgan yang mukanya lebih tua dari seharusnya?” *sungkem ke Morgan*

Dedek Brandon Salim cakep banget. Muhadkly Acho tetap lucu seperti biasanya. Adjis Doa Ibu dan Awwe juga lumayan bisa buat senyum sama keanehannya. Ge Pamungkas tetap konsisten nyebelinnya. Debby Permata yang judes tapi dimaafin aja lah karena dia cantik. Dwika Putra biar sebentar banget tapi dapat aja penyampaian “sindirannya”. Kayaknya semua cast di film ini tuh porsinya sesuai aja gitu.

 

Intinya, film ini layak banget ditonton. Karena Ngenest Movie ini bukan cuma menghibur, tapi juga mengajarkan kita untuk merasakan bagaimana rasanya jika kita ada di posisi Ernest yang terlahir sebagai Cina. Dan semua itu disampaikan tanpa terkesan menggurui, atau membela diri sendiri, tapi cukup untuk membuat kita mengerti jika ada beberapa hal dalam hidup yang memang seharusnya ditertawakan daripada terus dianggap sebagai beban.

December 17

IKAN PAUS ITU BERZODIAK SCORPIO

Iya.

Gue yakin seyakin-yakinnya kalau ikan paus yang disebut setan oleh orang-orang itu berzodiak Scorpio. Enggak salah lagi. PASTI SCORPIO.

Sebelum bingung ikan paus mana yang gue maksud, gue mau ngasih tahu kalau tulisan ini adalah review ala-ala tentang film In The Heart Of The Sea yang gue tonton beberapa hari lalu.

Ketika nonton trailernya, gue pikir ini akan jadi film seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, kan ada kapal yang tahu-tahu tenggelam ya, eh ternyata gue salah. Sempat berpikir kalau ikan paus yang ada di trailer itu cuma untuk hiburan seperti di film Life Of Pi, eh ternyata masih salah juga.

JADI KENAPA GUE SALAH TERUS? MASA CUMA GUE YANG SALAH TERUS?

Oke maaf.

In The Heart Of The Sea itu diangkat dari novel legendaris Moby Dick, yang bercerita tentang kapal yang hancur karena ikan paus besar. Di film ini, diceritakan kalau ada satu kota yang menjadi terkenal karena memiliki banyak minyak ikan paus.

Iya. Minyak Ikan Paus. Minyak yang diambil dari dalam tubuh ikan paus. Yang digunakan untuk penerangan kota, dan lain-lain.

Seiring banyaknya pemesanan dari kota lain, akhirnya diberangkatkanlah kapal dengan nama yang tidak mancung alias Essex (Oke maaf) untuk berlayar dan mencari ikan paus untuk dibunuh dan diambil minyaknya.

Film ini cukup buat gue emosi dan mau nangis ketika melihat cara mereka membunuh paus-paus tidak berdosa yang sedang asik bermain di laut lepas dengan anak-anak ataupun gerombolannya.

SEDIH YA ALLAH. MASA SEJAHAT ITU SIH MANUSIA SAMA IKAN PAUS? MASA IKAN PAUS BERDARAH SAMPAI MATI TAPI MEREKA MALAH KETAWA BAHAGIA?

Sampai akhirnya, setelah frustasi karena dalam beberapa bulan tidak menemukan paus sama sekali, Kapten Pollard (yang memimpin armada kapal Essex) dan Owen Chase (anak buah, kelasi satu) yang sepanjang pelayaran berantem terus tapi enggak bisa putus dan berpisah begitu aja karena masih di tengah laut dan enggak merasa pacaran sama sekali, memilih untuk menepi ke salah satu kota untuk membeli persediaan makanan yang kebetulan juga sudah mulai habis.

Ketika membeli persediaan makanan, Kapten Pollard dan Owen Chase bertemu dengan kapten dari kapal lain, yang lagi sedih karena kapalnya hancur karena ikan paus berzodiak scorpio tadi. IYA DIHANCURKAN GITU AJA. HEBAT YA IKAN PAUSNYA. HAIL SCORPIO!

Dari cerita kapten yang kapalnya hancur tadi, Kapten Pollard dan Owen Chase akhirnya memutuskan untuk datang ke lokasi yang katanya ada banyak paus, tapi jarang selamat karena ada ikan paus scorpio tadi.

Sepertinya sekian aja ceritanya. Kalau mau tahu bagaimana cerita selengkapnya, tonton langsung aja film In The Heart Of The Sea ya.

 

Sekarang gue mau menjelaskan alasan kenapa gue yakin kalau ikan paus itu Scorpio:

  1. Karena dia sering dianggap setan sama yang enggak kenal,
  2. Karena dia enggak peduli apa pun yang terjadi, tapi menjaga teman-teman dan keluarga tersayangnya adalah pasti.
  3. Enggak jahat kalau enggak dijahatin.

 

Kalau sudah nonton filmnya, mungkin kamu akan mengerti alasan-alasan yang barusan gue tulis.

 

Salam,

Herrommy

 

December 3

SKAKMAT! Film Komedi Yang Jujur dan Menghibur


Kalau kata peribahasa sih, “Skakmat itu pangkal kaya.”

Entahlah. Yang pasti gue cuma bisa bilang kalau SKAKMAT ini adalah THE BEST ACTION COMEDY OF THE YEARS!

Masuk ke dalam bioskop tanpa berharap apa-apa, tapi saat di dalam bioskop, tanpa sadar gue banyak tertawa, bahkan beberapa kali mengeluarkan air mata. Dan semua itu terjadi karena dialog-dialog sederhana dengan sisipan jokes recehan, hasilnya terasa sangat nyata dan sungguh luar biasa. Kalau ada yang bisa menandingi lucunya dialog di film ini, untuk saat ini, pastilah itu cuma pertanyaan-pertanyaan dari anggota MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) kepada Sudirman Said di tanggal 2 Desember 2015 kemarin.

 

Sekarang gue cerita lebih mendalam sedikit tentang filmnya ya.

Jadi, SKAKMAT itu bercerita tentang 2 orang lelaki, yang satu berprofesi sebagai tukang ojek yang gak pintar-pintar amat tapi lumayan sotoy, yang satu lagi pernah berprofesi sebagai mantan pengedar narkoba yang kurang perawatan (di filmnya diomongin gitu, padahal dia cakep, eh tapi lebih lucu Ivan sih, eh, kok malah curhat sih? Aduh maaf.)

Tukang ojek itu sedang mencari jati dirinya, dia punya mimpi, tapi tidak tahu bagaimana cara memulai semua itu. Sampai akhirnya dia bertemu Ivan, lalu terjadilah cinta lokasi antara mereka. #ehsalah

Setelah bertemu Ivan yang kalau dilihat sekilas mirip banget sama Tom Hardy, tumbuhlah rasa cinta di hati tukang ojek itu. Bukan. Bukan sama Ivan. Gue yang jatuh cinta sama Ivan. #lah #malahcurhat.

Maafkan, sepertinya gue sudah mulai bingung mau cerita bagian mananya karena film ini jauh lebih enak untuk ditonton langsung daripada cuma baca review atau komentar-komentar tentangnya. Lagipula filmnya rawan spoiler jika diceritakan lebih jauh karena jalan ceritanya itu ya mengalir begitu saja. Benar-benar enggak dibuat mikir akan dibawa ke mana ceritanya, akan seperti apa akhir ceritanya, jadi benar-benar jaminan akan menikmati kalau fokus nonton tanpa mainan henpon.

 

Berikut ini gue mengutip beberapa pesan keren yang ada di film SKAKMAT:

  1. Semua mimpi bisa menjadi nyata kalau enggak berhenti percaya dan mau terus memperjuangkannya.
  2. Menjadi orangtua itu tidak mudah. Karena kadang kita merasa bisa mengerti seorang anak, padahal mengenal apa yang mereka bisa lakukan saja tidak.
  3. Jangan pernah melewatkan tumbuhnya seorang anak, karena mengetahui apa saja yang terjadi saat mereka tumbuh itu menyenangkan.
  4. Mau sejahat dan segarang apa pun dirimu, jangan pernah lupa perawatan tubuh.
  5. Fadi Gunawan yang jadi Ivan cakep kayak Tom Hardy. #teteup

 

Oke. Sepertinya itu aja review gue soal SKAKMAT. Kalau mau mengabaikan poin nomor 5, itu hak kalian.

Yang pasti, gue cuma mau bilang, “Kalau memang ada kesempatan untuk menonton SKAKMAT di bioskop terdekat, segeralah lakukan. Menunda menonton hanya akan membuatmu kehilangan kesempatan menikmati film keren yang jam tayangnya sudah semakin berkurang ini. Percayalah, kamu akan bangga kalau bisa menonton film ini.”

November 25

Mockingjay Part 2 is the Best Ending for The Hunger Games Movie Series

Buat gue yang mengikuti dan menonton berulang-ulang film trilogi The Hunger Games, Mockingjay part 2 itu bisa dibilang sebagai akhir yang memuaskan. Itu juga yang membuat gue masih belum paham ketika ada yang bilang kalau Mockingjay Part 2 itu mengecewakan. Di bagian mananya sih yang mengecewakan?

Kalau memang cuma mengikuti “tren” atau antusiasme sesaat biar dibilang keren dan gaul, atau ketika di dalam bioskop lebih sibuk mainin handphone, ya memang memungkinkan banget sih untuk mereka bilang kecewa atau filmnya enggak bagus. Wajar kan ya kalau tiba-tiba mereka bingung kenapa ada perang mendadak, kenapa Katniss Everdeen lebih “gagah” daripada Peeta Mellark, lalu kenapa setiap melihat Gale Hawthorne bawaannya selalu mau buat anak. #okemaap

Mockingjay part 2 itu akhir yang sangat masuk akal untuk gue. Berkali-kali setelah menonton film itu, gue mencoba mencari kesalahan dalam ceritanya yang membuatnya tidak masuk akal (kata beberapa orang kan begitu ya), dan gue enggak mendapatkan kesalahan itu. Gue masih tetap beranggapan kalau film ini adalah akhir yang sempurna untuk sebuah trilogi The Hunger Games. Gue enggak menyesal dan bangga banget bisa menjadi salah satu orang yang mengikuti film ini dari awal, meski di Indonesia jauh lebih booming ketika mereka memasuki film kedua, Catching Fire.

What?

 

Oke. Mari cerita sedikit soal Mockingjay part 2 ini daripada gue ngeyel ngasih tahu kalau film ini memang keren.

Film Mockingjay Part 2 ini cerita lanjutan dari Mockingjay part 1. (Kali aja enggak tahu, kan, ya.)

Mockingjay Part 2 ini adalah film terakhir dari Trilogi The Hunger Games yang diangkat dari buku berjudul sama.  Kalau bukunya ada 3, tapi filmnya ada 4. (Kali aja masih enggak tahu, kan, ya.)

Oke serius.

 

The Hunger Games ini ceritanya tentang cewek bernama Katniss Everdeen yang tinggal di distrik dua belas, distrik yang enggak akan cukup kalau dikasih minum air hanya satu belas, (krik, krik, terdengarlah suara jangkrik). Cewek yang mengorbankan dirinya untuk menggantikan adiknya yang terpilih melalui undian mengikuti turnamen The Hunger Games yang diadakan oleh Capitol, sebuah pusat pemerintahan di mana lebih banyak kemewahan, jauh berbeda dengan distrik 12 yang digambarkan sebagai daerah termiskin hingga kebanyakan dari mereka kelaparan dan tulang belulang pun masih sempat diemut-emut.

Karena The Hunger Games ini mengutus 2 orang dari setiap distrik, satu cewek satu cowok, selain Katniss Everdeen ini terpilihlah Peeta Mellark, seorang lelaki anak tukang roti, untuk mengikuti turnamen.

Untuk cerita lengkapnya, silakan nonton film The Hunger Games.

 

Lanjut ke film kedua, Catching Fire.

Setelah menjadi pemenang di turnamen The Hunger Games, Katniss dan Peeta melakukan tour ke setiap distrik. Mereka mendatangi setiap distrik dengan kereta api tut tut tut, siapa hendak turut,,, *malah nyanyi*

Harapan untuk menikmati fasilitas mewah sebagai pemenang The Hunger Games harus dikubur oleh Katniss dan Peeta karena Capitol (lagi-lagi) mengadakan turnamen Quartel Quell, turnamen The Hunger Games yang diadakan setiap 25 tahun sekali, dengan kontestan adalah mereka-mereka yang sebelumnya pernah menjadi pemenang The Hunger Games.

Quartel Quell ini mengundang emosi dari banyak peserta karena mereka tidak mendapatkan apa yang sebelumnya dijanjikan jika mereka menang berarti mereka bisa menikmati hidup mereka di Capitol.

Untuk cerita lengkapnya silakan tonton film The Hunger Games: Catching Fire.

 

Lanjut ke film ketiga, Mockingjay Part 1.

Film ini menceritakan tentang awal mula pemberontakan dari semua distrik, tentang pertarungan mereka dengan Capitol yang ingin tetap berkuasa. Film yang gue anggap hanya sebagai jembatan karena puncak pertarungannya ada di Mockingjay part 2.

Di film ini, digambarkan ada distrik 13, distrik yang sebelumnya dianggap sudah hilang, tapi ternyata cuma tersembunyi dan menunggu waktu yang tepat untuk pemberontakan.

Tonton selengkapnya di The Hunger Games: Mockingjay Part 1 ya.

 

Film terakhir, Mockingjay part 2.

Kelanjutan perjuangan Katniss Everdeen untuk menjadi “simbol” dari pemberontakan, menjadi salah satu “selebriti” di garis depan yang suka ngomporin biar semuanya menjadi semangat untuk memenangkan pertarungan dengan Capitol yang dipimpin Snow.

 

Untuk menghindari spoiler, itu aja yang bisa gue tulis.

Tips dari gue, sebelum nonton Mockingjay part 2, pastikan kamu sudah mengingat betul apa aja yang terjadi di Mockingjay part 1. Kalau kamu lupa, atau enggak tahu sama sekali, mungkin banget cerita Mockingjay part 2 ini terasa aneh dan enggak masuk akal. Ibaratnya begini, Mockingjay part 1 ini menimbulkan banyak pertanyaan, dan Mockingjay part 2 kamu akan mendapatkan jawabannya. Jadi sebelum berkomentar Mockingjay part 2 itu enggak keren, tolong ingat dan perhatikan baik-baik semua scene di Mockingjay part 1, supaya kamu tahu kalau Mockingjay part 2 itu keren. #maksa #bodoamat

 

Maafkan tulisan ini panjang banget.

Semoga kamu tidak menyesal sudah membacanya.

Kalau mau berpendapat Mockingjay part 2 itu keren, silakan isi di tab comments ya.

October 25

Goosebumps Movie itu…

Mungkin enggak banyak anak zaman sekarang yang mengenal apa itu Goosebumps. Gue pun sebenarnya sudah hampir lupa kalau dulu, saat masih SD dan SMP, buku itu termasuk paling rajin menemani gue setiap harinya. Bukan karena ceritanya menarik banget sampai gue berulang kali membacanya, tapi karena buku itu memiliki banyak banget seri, banyak judul, dan semuanya memiliki monster yang berbeda-beda. Ada beberapa yang menyeramkan, tapi ada juga yang (menurut gue) enggak tahu di bagian mana mengerikannya.

Jujur, ketika tahu ada film Goosebumps di bioskop, sampai dengan gue udah membeli tiketnya, gue pikir itu adalah film soal pemburu hantu. Ghostbusters dan Goosebumps mirip, kan? BILANG MIRIP DONG BIAR GUE ENGGAK MALU-MALU AMAT!

Gue baru sadar kalau Goosebumps adalah Goosebumps setelah beberapa menit film tayang. Ketika ada yang menyebutkan R.L. Stine. Ketika gue melihat tumpukan buku dengan judul-judul menyeramkan di rak, saat itulah gue sadar kalau yang gue tonton bukanlah soal film pemburu hantu, tapi soal monster dari cerita-cerita yang sebelumnya dibukukan.

Hal paling mengganggu untuk gue sendiri di film itu adalah CHUMP, atau CHAMP. Satu karakter yang enggak tahu lucunya di mana, kegunaannya di film itu apa, bahkan ,menurut gue sih, tanpa ada dia pun akan jauh lebih baik ceritanya. Iya, gue sebegitu terganggunya dengan karakter Chump di film itu.

Kalau dari segi akting, sebagai pengganggu cerita, yang memerankan Chump itu keren. Tapi kalau dari segi menikmati cerita, gue merasa terganggu luar biasa. KENAPA HARUS ADA DIA? KENAPA ENGGAK SEMUANYA CAKEP, KALEM, DAN LUCU KAYAK DEDE ZACH AJA??

Enggak adil kalau gue cuma bahas soal jeleknya ada, sekarang gue bahas (yang lumayan) bagusnya. Sesuatu yang membuat gue betah nonton sampai akhir.

 

Hal terbaik dari film Goosebumps ini adalah ada Zach Cooper yang diperankan oleh Dylan Minnette. Kalau enggak ada dia, kalau enggak karena mau lihat dia, pasti gue udah pergi deh. Seandainya di film Goosebumps itu cuma ada dia lari ke sana kemari dikejar monster lalu cari solusinya sendiri juga kayaknya gue bakal betah deh nonton filmnya. *shameless*

“Ya ampun Dede Zach, sini kakak pangku.”

Oke maaf.

 

Bahas ke soal cerita, sebenarnya Goosebumps ini menaikkan tensi ketegangannya secara perlahan-lahan, makanya bisa dinikmati. Cuma ya itu, ketika udah tegang  banget, lalu ada Chump, buyar semua deh tegangnya. *nangis*

Karakter-karakternya pun secara singkat bisa dibilang cukup melengkapi cerita, KECUALI CHUMP. #teteup

Jadi kalau kamu butuh hiburan, pengin lihat banyak monster tapi enggak mau cerita yang seram-seram amat, Goosebumps ini bisa banget kamu tonton.

***