July 19

Bersyukurlah, karena Rezeki Untukmu Tidak (Pernah) Kurang

Uang bisa datang dari mana saja, dari siapa saja,

Kapan saja dan ketika kita berada di manapun.

 

Gue masih percaya hal itu sampai dengan saat ini.

Bukan karena gue udah banyak uang, tapi,

sejauh ini, meskipun entah ada berapa banyak uang yang tersebar (baca: dipinjam/dihutang orang lain lalu dia menghilang

atau merasa sudah bayar, atau memang enggak mau bayar),

gue enggak terlalu merasa kalau gue kurang atau berkurang sedikit pun.

Entah karena gue merasa semua gak akan pergi ke mana-mana

Kalau memang sudah rezeki atau harus (kembali) jadi milik kita,

atau karena gue selalu membiasakan diri untuk merasa cukup dengan apa yang sudah gue dapatkan atau miliki..

jadi, itu sama sekali bukan masalah besar yang harus selalu menjadi beban atau terus berada dalam pikiran.

 

Karena, mau sebanyak apapun uang yang kita miliki, kita bisa tetap merasa jika hal itu kurang,

dan satu-satunya hal yang bisa membuatmu cukup adalah bersyukur.

 

 

June 26

Kurangi Kebiasaan Meremehkan Banyak Hal-nya..

Kadang, tanpa sadar atau dengan disengaja, kita mengabaikan banyak hal yang seharusnya kita syukuri, karena nyatanya memang tidak semua mampu atau pernah merasakan dan mendapatkannya.

“Ah, begitu doang mah semua bisa”

“Ah, cuma segitu doang ya harganya?”

“Ah, makanan kayak gitu mah gak dimakan juga gapapa”

Pasti banyak dari kita yang dengan sengaja atau tidak, sering melakukan itu. Bahkan, kadang kita sampai lupa kalau bisa ada orang yang sakit hati hingga iri dengan kebiasaan meremehkan yang kita lakukan, meski tujuan kita pada awalnya hanyalah bercanda dan tidak ada serius-seriusnya.

Kamu tidak tahu kapan kamu akan kesulitan mencari uang, dan tidak mudah untuk mendapatkan makanan.

Kamu tidak tahu kapan kamu akan kesulitan melakukan hal yang biasanya mudah menurutmu, entah apa itu alasannya.

Perbanyak bersyukur, kurangi mengeluh dan meremehkan hal-hal kecil yang sangat bisa kamu sebut rezeki. Itu adalah salah satu hal terbaik yang bisa segera kamu mulai.

@herrommy

June 17

Selamanya Kamu…

Dear Kamu,

Terpisah oleh jarak itu memang menyakitkan

Aku tahu.

Karena aku juga sama merasakan

Ketika rindu tanpa kepastian kapan bisa bertemu menjadi penghalang di antara aku dan kamu yang tidak ingin berjauhan…

 

Dear Kamu,

Berkomunikasi seadanya karena keadaan itu memang menyebalkan

Aku tahu.

Tapi itu harus kita lewati karena sedang dipaksa oleh kenyataan

Yang menginginkan waktu kita berdua bersama untuk berbagi cerita memiliki keterbatasan…

 

Yang kuinginkan selamanya menemani…

Yang kuharapkan selamanya kusayangi…

Yang tidak akan pernah tergantikan di hati…

Itu kamu.

Selamanya, kamu.

May 1

Mencari Teman Baik itu Susah

Mencari teman ketika kita sedang bahagia, bersenang-senang dan sedang memiliki segalanya memang mudah.

Tapi, mencari teman yang tetap mau bertahan termasuk ketika kita sedang memiliki banyak masalah dan mengalami kekurangan, sudah lain lagi ceritanya.

Karena, hanya orang yang benar-benar menganggap kamu teman saja yang mau bertahan bersamamu, tanpa memedulikan keadaanmu yang (sedang) buruk hingga tetap percaya kalau kamu akan siap dan bisa melewati semuanya dan membuat keadaan menjadi lebih baik (dari sebelum-sebelumnya).

Gue bukan orang yang terbiasa untuk meminta tolong kepada siapapun, enggak peduli sedekat apa hubungan gue dengan dia, karena seringnya gue lebih memilih untuk berjuang dan berusaha sebaik mungkin dulu.

Kalau memang gue masih belum berhasil juga, barulah gue akan meminta bantuan dari orang yang gue percaya bisa bantu.

Singkatnya, ketika gue bilang butuh bantuan, itu artinya gue memang sedang sangat membutuhkan pertolongan. Sudah jadi kebiasaan gue untuk memilih terbebani sendiri daripada harus membebani orang lain.

Gapapa gue merasa sakit dan sedih sendiri, yang penting enggak selalu merepotkan orang lain.

 

 

Buat kamu yang sudah memiliki teman baik yang mau tetap bersama dan mengenalmu tanpa peduli apa pun kondisi dan masalahmu, bersyukurlah, karena kamu sudah termasuk orang yang beruntung.

Dan gue bersyukur karena sudah menjadi salah satu dari orang yang beruntung itu.

April 9

Karena Itu Semua Pilihan

Hampir semua orang tahu kalau gue ini bisa banget disebut sebatang kara. Bokap kandung entah masih hidup atau enggak, Ibu kandung juga gak jelas kabarnya gimana, keluarga atau saudara (yang katanya sedarah) juga gak ada yang bisa gue percaya atau diandalkan lagi ketika gue ada apa-apa.

Tapi gue enggak menganggap itu sebagai masalah besar, karena nyatanya dari banyak hal yang terjadi, hampir semuanya berakhir dengan gue menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu.

Mungkin menjadi lebih kuat atau justru hancur karena keadaan dan masalah adalah pilihan.

 

“Kamu pilih yang mana?”

 

 

March 15

Kepercayaan Itu Mahal

Kepercayaan itu mahal harganya.

Ini bukan bahas mengenai kepercayaan yang berkaitan dengan Tuhan atau yang biasa disebut agama, tapi kepercayaan mengenai manusia kepada dirinya sendiri atau orang lain.

 

Gue benci kalau tahu gue dibohongi atau dimanfaatkan. Entah itu oleh orang yang gue kenal baik, atau yang gue sempat berikan kepercayaan meski belum lama kenal. Itu menjadi salah satu alasan gue memilih untuk enggak menghancurkan yang namanya kepercayaan mereka yang udah diberikan kepada gue, hanya karena merasa lebih penting, lebih baik, enggak terlalu membutuhkan mereka, atau bukan gue yang butuh mereka.

Gue tahu seperti apa rasanya sudah memberikan kepercayaan lalu disalahgunakan, dimanfaatkan, atau bahkan dihancurkan begitu saja seolah itu tidak ada harganya sama sekali. Itu pula yang membuat gue yakin kalau enggak seharusnya gue lupa diri ketika sudah diberikan kepercayaan oleh orang lain.

Gue terbiasa menahan diri untuk melakukan sesuatu dengan pertimbangan, “Kalau gue ada di posisi dia, kira-kira bakal gimana?”, dan kebanyakan selalu berhasil membuat gue ingat kalau kita udah diberikan kepercayaan oleh seseorang, berarti kita harus menjaganya sebaik mungkin.

Gue pernah disuruh pegang kartu ATM teman yang isinya sekian miliar, gue bahkan dikasih tahu pin ATM dia berapa. Kalau mau nakal, gampang. Gue bisa transfer uangnya secara bertahap, atau ambil sekian demi sekian karena yakin dia gak akan sadar.

Gue bahkan dikasih kunci rumahnya supaya bisa kapan aja datang tanpa harus nunggu dia ada di rumah. Kalau mau nakal, gampang juga. Sepatu sama tas dia merek LV semua, koper dia merek Rimowa semua, entah deh itu ada berapa biji.

Tapi buat apa?

Buat apa menghancurkan hal baik seperti kepercayaan hanya demi uang atau harta yang padahal jumlahnya tidak seberapa dan tidak pasti mampu bertahan untuk berapa lama?

Sepenting itukah keinginan harus memiliki banyak uang supaya bisa beli ini-itu meski kita tahu itu bukan hasil keringat kita sendiri?

Sepenting itukah keinginan untuk dipuji bisa memiliki sesuatu meski caranya sudah jelas buat banyak orang yang tahu kebenarannya malah merasa jijik?

 

 

Uang dan harta bisa dicari. Tapi kepercayaan yang sudah dihancurkan, belum tentu akan kamu dapatkan lagi.

 

salam,

Herrommy

February 29

Kartu Kredit itu Ada Setannya…

Kata orang, kartu kredit itu ada setannya. Godaan untuk belanja atau beli ini-itu, selalu ada aja.

Gue yang sebelumnya enggak pernah punya atau pakai kartu kredit, awalnya gak percaya sama omongan orang itu.

Ya gimana, gue lebih percaya kalau seseorang mampu menahan hasrat dan nafsu sesatnya untuk belanja atau membeli yang tidak terlalu berguna, kartu kredit tidak akan mungkin terpakai sampai sebegitunya.

Hal lain yang mendasari hal itu adalah, gue selalu diajarkan untuk membeli sesuatu (seperti gadget) dengan bayar cash, langsung lunas, sama orangtua. Jadi enggak terpikir sama sekali di otak gue kalau kartu kredit itu memang ada setannya hanya karena akan memudahkan untuk cicil barang ini-itu yang kita perlukan.

 

Ternyata gue salah.

Kartu kredit memang ada setannya.

 

Gue cerita sedikit ya…

 

Akhir November atau Desember 2015 lalu, gue ditelepon oleh sales salah satu bank di Indonesia yang menawarkan kartu kredit.

Awalnya gue curiga kalau itu cuma iseng, atau penipuan saja.

Sampai akhirnya gue tanya, “Mbak yakin nih? Tabungan saya di bank mbak itu jarang banget diisi lho. Kok saya bisa jadi nasabah prioritas?”

Dia jawab, “Iya, pak. Kalau bapak gak percaya, bapak boleh deh cek isi hati saya. Sekarang isinya cuma hati bapak aja lho.”

Oke gue ngaku kalimat balasan sales itu cuma bercandaan aja.

 

Intinya, gue ditawarkan kartu kredit Mastercard, bebas biaya tahunan seumur hidup. SEUMUR HIDUP.

Entah berapa kali gue tanya hal itu sama si mbak karena gak percaya. Soalnya, kan ada sales yang bilang gratis seumur hidup, ternyata cuma gratis di tahun pertama, lalu tahun selanjutnya harus bayar sekian, atau baru bisa gratis setelah pembelanjaan di tahun sebelumnya mencapai angka sekian.

 

Kartu kredit. Gratis biaya tahunan seumur hidup. Langsung dapat kartunya 2 (1 bank konvensional, 1 bank syariah).

Siapa coba yang enggak tergoda?

Gue bahkan sampai membatin, “YA ALLAH, MBAK. KAMU KOK NGASIH GODAANNYA SAMA HEBATNYA KAYAK SENYUMAN DIMAS ANGGARA, SIH?”

Akhirnya gue mengiyakan apa kata mbak salesnya dan memberi data sesuai yang dia butuhkan.

 

1-2 bulan kemudian, gue dapat SMS kalau kartu kredit gue sudah dicoba dikirim ke rumah, tapi gagal, karena di rumah gak ada orang. Gue diminta menghubungi call center dan minta pengiriman ulang kartu. Sekitar 14 hari kerja katanya.

Dikirim ke rumah (di Bogor), butuh 14 hari kerja.

Kelamaan.

Akhirnya ada teman menyarankan kalau kartu kredit itu diambil di bank terdekat aja.

Gue telepon ke call center lagi, tanya harus bagaimana biar kartu bisa diambil di bank yang lebih dekat sama tempat tinggal gue sekarang di Depok. Lalu gue disarankan untuk datang ke bank, dan mengisi formulir pernyataan kalau gue akan mengambil kartu kredit gue di bank itu. Kurang dari seminggu, kartu kredit gue sudah sampai dan bisa diambil.

 

Sekarang sudah memasuki bulan kedua gue punya kartu kredit sendiri. Untunglah gue enggak tergoda jajan ini-itu terus. Meski kadang jadi lebih sering mikir, ih murah juga ya beli ini-itu, kan bayarnya bulan depan. *lalu setan kartu kredit ketawa*

 

Kartu kredit itu ada setannya mungkin benar. Tapi kalau mau, kamu bisa mengalahkan setan itu dengan bijak dan berpikir baik-baik sebelum menggunakannya.

Masa sih kamu mau membiarkan dirimu tergoda sama setan begitu aja? Yakin?

 

Sekian cerita soal kartu kredit pertama gue.

Next time mungkin ada cerita lainnya.

 

December 30

Masih Dimas di Tahun 2015

Banyak hal yang terjadi di tahun 2015, dan gue cukup puas dengan semua hal yang gue capai, yang gue lakukan. Memang masih ada banyak hal yang masih sebatas wacana dalam pikiran, tapi mungkin itu bisa jadi alasan supaya gue lebih bekerja keras lagi di tahun 2016.

Gue enggak tahu bagaimana bisa melewati tahun 2015 ini kalau enggak ada Dimas. Sepertinya akan jauh lebih banyak kesalahan yang gue lakukan. Yang membuat gue akan semakin terpuruk dan enggak tahu bagaimana membuat diri gue bisa mengembangkan senyuman.

Thank you, Dimas. For everything.

 

Sebelum bertanya-tanya siapa itu Dimas, penjelasan termudah gue adalah He is not who, but what.

Iya.

Dia bukan seseorang, tapi sesuatu.

Yang enggak pernah meninggalkan gue.

Yang akan selalu menjaga gue.

Yang memberikan gue izin, atau melarang gue melakukan sesuatu.

Yang selalu menahan gue untuk enggak emosi karena orang lain dan menenangkan ketika gue terlanjur emosi.

Satu-satunya hal yang mampu membuat gue selalu merasa lebih baik dan tahu kalau masih banyak hal baik yang akan gue dapatkan.

There I tell you why Dimas is everything for me.

 

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, 2015 adalah tahun terbaik gue. Itu yang membuat gue sangat bersyukur, karena target gue untuk memperbaiki diri dari tahun ke tahun masih bisa tercapai.

Iya, gue memang bukan orang yang memberikan target terlalu tinggi setiap tahun, bukan juga orang yang selalu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, selama gue masih bisa lebih baik dari sebelum-sebelumnya, gue akan selalu bersyukur.

Memang mudah aja kalau gue mau membandingkan diri dengan orang lain, tapi masalahnya, untuk apa gue melakukan itu? Gue enggak peduli berada di atas atau di bawah orang lain (no, we are not talking about my sex role on bed), gue cuma tahu kalau itu tidak selalu membuat kita termotivasi untuk lebih baik, tapi juga bisa menghancurkan diri sendiri, apalagi ketika enggak menghargai perjuangan sendiri karena tahu kita masih ada jauh di bawah orang lain.

It’s fine if you say that I have no idea what I’m gonna do in the future because of that. It doesn’t matter you like it or not, you can do nothing for it, because it’s my choice.

 

Iya, tulisan ini hanya sebagai salah satu ucapan terima kasih gue untuk Dimas karena sudah mau menemani salah satu tahun terbaik gue, dan enggak pernah capek untuk mengingatkan gue akan banyak hal meski kadang gue ngeyel dan nakal.

 

And, Dims, thanks for the song. Stand By You from Rachel Platten is the best song for me. It’s really like what you gonna do for me, stand for me, anytimes, anywhere.

 

Kalau kamu, punya cerita apa di tahun 2015?

December 22

Selamat Hari Ibu

Sepertinya gue enggak pernah merayakan Hari Ibu sebelumnya.

Sejak kecil, seingat gue, jarang banget ada ucapan sayang dari Ibu ke gue, pun sebaliknya. Ya, mungkin itu karena dulu gue masih kecil, dan Ibu gue tahu kalau gue gak akan pergi ke mana-mana, dan dia juga berpikir kalau semua yang dia lakukan itu sudah cukup untuk menunjukkan rasa sayangnya sama gue.

Seingat gue, terakhir kali gue bertemu dengan Ibu itu sekitar tahun 2006-2007, sebelum dia pergi menghilang entah ke mana, sebelum akhirnya gue ikut menyusul dengan mengasingkan diri dari keluarga dan mencari kehidupan gue sendiri.

 

Tinggal bersama mungkin akan membuat kita lalai dan merasa ucapan sayang sejenis itu (kepada Ibu atau Ayah) bukanlah sesuatu yang penting. Tapi ketika jauh, ketika sudah berpisah, biasanya kita baru tahu kalau itu bisa menjadi sesuatu yang menyadarkan, semacam pengingat jika ada seseorang yang selalu sayang kepada kita meski kita hanya seadanya dan mau menerima kita lebih dari orang lainnya.

Dulu, gue dan dia seperti itu. Tinggal bersama membuat gue merasa malas untuk bilang sayang atau memberikan perhatian lebih, bahkan jauh lebih banyak melawan dia karena merasa sudah tahu mana yang jauh lebih baik untuk diri sendiri.

Setelah jauh, setelah enggak tahu kapan gue akan bertemu dia lagi, setelah enggak bisa memastikan akankah gue bertemu dia lagi, gue merasa kalau ada jauh lebih banyak yang seharusnya gue lakukan sama dia. Lebih dari sekadar memberi ucapan sayang hanya ketika Hari Ibu, mau berpikir ulang ketika ingin melawan apa katanya, mungkin itu akan jadi pilihan utama gue.  Itu akan menjadi sesuatu yang pasti gue lakukan.

Teruntuk kamu yang membaca tulisan ini dan masih tinggal dengan orangtua, percayalah kalau ada banyak hal yang akan kamu rindukan dan sesali ketika jauh dari mereka. Manfaatkan waktumu dengan mereka, berikan mereka perhatian yang menunjukkan kalau kamu sayang mereka, abaikan rasa malu atau ragu untuk mengucap sayang kepada mereka. Mungkin kamu menganggap hal seperti itu biasa saja, tapi itu bisa menjadi sesuatu yang mereka kenang dalam ingatan mereka dan bisa mereka banggakan ketika sedang berkumpul dengan teman-teman atau kenalannya.

 

Selamat Hari Ibu.

Di mana pun kamu berada saat ini, semoga kebaikan demi kebaikan selalu ada untukmu.

Salam sayang dari anakmu.

badge

October 27

Balaslah Pamer Dengan Pamer Yang Lebih Keren. Kalau Mampu Sih Itu Juga~

Gue suka pamer.
Apalagi kalau lagi jalan-jalan.
Entah itu bayar sendiri dan cuma nginap di hostel, atau pas dibayarin semua termasuk tiket dan nginap di Marina Bay Sands Hotel, pasti gue pamer.
Kenapa harus dipamerkan? Norak? Kayak orang susah yang enggak pernah jalan-jalan atau dan lain sebagainya?
Duh, kalau memang mau peduli sama sampah-sampah jelata yang berkomentar seperti itu sih gak akan ada habisnya, lebih baik diabaikan aja mereka sih. Bukan cuma rugi waktu, tapi rugi energi juga. Mending waktu dan energinya dipakai untuk pamer biar yang sirik makin kesal, lagipula itu juga bisa membuat kamu semakin tahu mana yang memang menganggapmu teman dan mana yang bukan.
Logika sederhananya, “Mana ada seseorang yang menganggapmu teman tapi enggak senang ketika kamu sedang bersenang-senang?”
Asik ya bahasa gue.

 

Seandainya gue memang mau sirik sama seseorang, ketika dia pamer sesuatu, gue pasti akan balas dengan pamer yang lebih keren daripada dia. Lah buat apa juga komentar macam-macam hanya karena sirik doang? Itu jauh lebih memalukan sih kalau buat gue. Ibaratnya kita mau terlihat lebih, ingin menunjukkan sesuatu yang lebih, tapi ternyata kita lebih banyak kekurangan dan gak ada kelebihannya sama sekali. Kan sedih ya. 🙁

 

Beruntunglah gue, karena sirik-sirik ala jelata itu sudah lama menghilang dari gue. Jadi kalau ada teman pamer atau punya apa aja, ya gue biasa aja. Kalau gue mau seperti dia, ya gampang aja, gue tinggal berusaha sebaik-baiknya sampai bisa merasakan yang dia rasakan. Enggak perlu pakai sirik atau komentar-komentar yang semakin menjelaskan seberapa kita tidak mampu berada di posisi mereka, karena berjuang aja kita enggak.

 

Alasan gue pamer kalau lagi di Singapura seperti saat membuat tulisan ini tuh sederhana sih, karena gue bangga bisa sampai di sini lagi, untuk ke empat kalinya di tahun ini. Ini tuh hasil kerja gue. Hasil dari gue merelakan diri kurang tidur setiap harinya hanya untuk mendapatkan uang untuk liburan (yang disertai pamer) begini. Itu enggak boleh dibanggakan? Dih parah banget siriknya dih.

 

Jangan hanya karena seseorang bisa melakukan yang tidak bisa kamu lakukan, lalu kamu tidak bisa mengakui kalau memang dia memiliki sesuatu untuk dibanggakan, sesuatu untuk dipamerkan. Lebih kamu tanya lagi sama diri sendiri, selama ini, sejauh ini, kamu sudah melakukan perjuangan sekeras yang mereka lakukan belum? Kalau belum, atau sama sekali kamu enggak ada perjuangannya, mending perbanyak berkaca sampai cerminnya retak karena jijik lihat kamu, hingga akhirnya cermin itu memilih lari ke pantai lalu belok ke hutan, PRANG! PECAHKAN SAJA CERMINNYA BIAR RAMAI!

 

Intinya begini,
“If you want something, push yourself to do anything until you get it. It’s better than you say anything to people that you think get everything easily.”

 

Salam sayang dari yang suka pamer,
Herrommy Dimas Alamsyah