November 6

Ah… Kamu!

Dekat denganmu, itulah yang selalu aku mau

Meski ketika sudah berhadapan, aku hanya bisa berdiri kaku

Tak mampu mengucap sepatah pun kata

Tubuh sedikit bergetar seperti saat ada di kutub utara

Tapi tetap saja aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk dekat denganmu

 

Selalu melihatmu di setiap waktu, itu juga inginku

Tidak peduli kamu memang benar ada atau hanya ada dalam anganku

Karena tanpa hadirmu pun tetap saja mataku melihatmu

Seperti bayangan yang terasa nyata

Seperti angan karena aku sudah terlalu… cinta?

 

Dan kini…

Pilihan sedang ada dihadapkan padaku

Memilih untuk mendapatkan kesempatan dekat dan selalu melihatmu

Atau…

Sedikit menjauh hanya untuk kebaikan hatiku

 

Ah… kamu!

Ternyata masih terlalu hebat dalam mempengaruhi hidupku

June 11

Jangan Terlalu Sok Akrab Saat Ada Panggilan Interview Kerja

Ketika ada tawaran dari orang yang gue kenal untuk mengisi salah satu lowongan kerja yang kebetulan ada di tempat mereka, gue enggak bisa begitu aja semena-mena dan sok akrab karena merasa sudah mengenal si pemberi kerja.
Gue pasti memilih untuk tetap melamar kerja formal seperti ketika gue enggak mengenal siapa-siapa dari perusahaan yang gue kirimkan lamaran pekerjaan.

Apa yang akan gue lakukan ketika gue tahu kontak si pemberi kerja, tapi tidak mengenal yang bersangkutan?
Gue akan menggunakan kalimat formal ketika bertanya mengenai apa pun seputar lamaran pekerjaan itu.
Sekalipun gue bisa whatsapp yang bersangkutan, gue enggak akan ngajak chat seperti ketika gue ngobrol sama teman, gebetan, atau bahkan pacar. Gue pasti menghindari panggilan kayak “Kakak” atau “Saudara”.
Entah ini cuma terjadi dalam pikiran gue atau enggak, gue gak bisa memastikan, tapi hal itu bisa membuat gue berpikir, “Jadi yang ngelamar kerja ini Adik atau saudara gue ya?”

Okay. Itu masih sopan. Tapi ketika sudah melingkupi soal pekerjaan, kita enggak kenal, gak usah pakai kata itu untuk memanggil orang yang mau interview kamu. Akan jauh lebih baik kalau kamu memanggil yang mau interview kamu itu Bapak atau Ibu, jauh lebih formal dalam lingkup pekerjaan. Pengecualian berlaku ketika mereka dengan sengaja meminta untuk menggunakan nama panggilan yang lain karena merasa terlalu muda atau seumuran. Karena itu sah dan norma ketika kita memanggil orang lain yang lebih muda dengan panggilan Bapak atau Ibu di lingkungan kerja, terlebih jika kamu tahu posisi mereka di perusahaan atau tempat itu berbeda levelnya dengan kamu.
Dan jangan salah ya, bahkan ada yang jabatannya sebagai Bos, tapi tetap memanggil karyawan yang level jabatannya ada di bawahnya, yang jauh lebih muda juga, dengan panggilan Bapak atau Ibu.

Biasakan aja lah menempatkan diri dan tahu diri dengan siapa kamu saat ini.
Kamu sedang membutuhkan pekerjaan, ada panggilan dari perusahaan yang mungkin akan memberikanmu pekerjaan, maka bersikaplah profesional. Kalau memang nantinya perusahaan kamu memang berjalan dengan casual, dan para bos atau orang yang jabatannya lebih tinggi dari kamu gak mau dipanggil bapak atau ibu, barulah kamu menyesuaikan dengan panggilan yang mereka mau.
Tapi ingat, selalu tahu diri dengan apa posisimu.

Gue sendiri memutuskan untuk menulis ini karena kemarin pernah dengan sengaja mencantumkan kontak pribadi ketika ingin memanggil calon karyawan, dan kurang lebih seperti itulah yang mereka lakukan.

Jadilah gue merasa harus memberikan tips yang mungkin akan memperbesar peluang mereka mendapatkan pekerjaan yang mereka harapkan. Sekalipun enggak semua perusahaan mencari karyawan seperti kriteria yang gue tetapkan, tapi sepertinya itu masih bisa disesuaikan untuk mereka yang bingung harus melakukan apa ketika ada panggilan interview kerja.
If you want to have a better jobs, at least show them that you’re capable to do it. You can start it from how you should act and know how you should call them.

June 5

Bayar Kartu Kredit via Transfer Bank?

Gue udah terbiasa untuk melakukan pembayaran tagihan kartu kredit melalui menu “pembayaran”, meskipun gue tahu kalau gue pakai bank yang berbeda.

Karena gue cuma tahu itu adalah satu-satunya cara untuk bayar kartu kredit.
Ternyata gue salah.

Kemarin gue tanya ke Call Center CIMB Niaga 14041, kenapa pembayaran gue belum masuk juga?
Ternyata, kalau kita bayar tagihan melalui menu pembayaran untuk bank berbeda itu nanti jadinya kliring, jadi pembayaran baru masuk sekitar 3 hari setelah kita bayarkan.
Lama ya?
Memang.

Tapi ada cara lebih cepat kalau kamu mau bayar tagihan kartu kredit, dan dalam waktu satu hari bisa langsung diproses.
Gimana caranya?
Dengan membayarkan tagihan melalui menu “Transfer ke Bank Lain”, lalu masukkan kode bank, lalu masukkan nomor tagihan dan jumlah yang ingin kita bayarkan.
Kata Call Centernya, itu bisa langsung diproses dalam waktu satu hari.

Gue enggak tahu ya kalau itu berlaku juga untuk bank lain atau enggak, soalnya belum pernah coba juga.

Kalau ada yang ingin share pengalaman bayar tagihan kartu kredit dari bank yang berbeda, silakan di tab comment aja ya.

May 10

kejutan

enggak terlalu banyak yang ingin gue tulis kali ini.

Gue cuma mau bilang,
“Siapa pun kamu, selalulah percaya kepada kebaikan, jangan pernah berhenti berjuang keras untuk sebuah harapan, karena jika sudah waktunya, kamu pasti akan menemukan jalan.”

mungkin hal itu terasa seperti motivasi yang klise, atau bahkan remeh.
tapi tidak semua orang berkesempatan untuk selalu mendapatkan hal besar dengan usaha seadanya. bisa jadi kamu adalah salah satu orang yang harus berjuang lebih keras dari yang lainnya, tidak terlalu cepat mengalami perubahan baik seperti yang lainnya, atau bahkan harus berulang kali jatuh dan terinjak ketika memperjuangkannya…
tapi itu tidak berarti jika kamu tidak layak mendapatkan kebaikan seperti yang kamu harapkan.

selalulah ingat jika kebaikan tidak pernah datang di waktu yang salah. karena mungkin saja yang kita anggap baik untuk kita, yang kita inginkan namun tidak bisa kita dapatkan, memang bukan hal yang baik untuk kita. karena, kadang, hanya waktu yang bisa menyadarkan dan membuat kita ingin menertawakan apa yang pernah kita lakukan.

October 2

Memories of You

It looks like a small thing

That’s what I’m ever thinking

Until I realize it’s everything

 

Your smile…

Your laugh…

It’s all I’m trying to remember

When I miss you

But can do nothing to meet you

 

Our talks…

Our texts…

It’s something that I don’t care

When I’m still with you

When I think I’m never gonna lose you

 

And now…

We can’t together anymore

 

So many thing ever happens between us

And I wasn’t appreciate it at all

Until you’re only part of my memories

And you become something I really miss

September 20

A Letter for B

Ingin rasanya mempertanyakan tentang semua

Tapi apa daya kamu masih ingin membuat semuanya berselimutkan rahasia

Seolah aku bukanlah orang yang pantas untuk kamu percaya

Seolah aku hanya akan membuatmu terluka jika harus mengetahuinya

 

Memaksamu bercerita? Aku tak bisa

Itu sama dengan menciptakan masalah baru

Mengingat emosimu tak pernah bisa diduga kapan datangnya

Mengingat mungkin memang ada alasan yang saat ini belum harus kuketahui itu apa

 

Inginku sederhana

Kamu katakan semua apa adanya

Bercerita jika memang ada apa-apa

Entah aku bisa membantu atau tidak

Setidaknya aku tahu, dan bisa memastikan

Kalau memang aku ingin selalu ada

Kalau memang aku belum memiliki alasan untuk pergi meninggalkanmu begitu saja

Kalau memang aku akan bertahan dan menerima seburuk apa pun masa lalu yang kamu sendiri tidak bisa terima

 

B…

Aku akan memanggilmu seperti itu

Mulai saat ini dan seterusnya

 

B…

Aku sudah jatuh cinta

Mulailah bercerita tentang siapa kamu sebenarnya

 

September 10

Mungkinkah Kamu…?

Aku tahu siapa yang kumau

Untuk ada dalam hidupku

Untuk selalu di sampingku

Untuk menghabiskan waktu bersamaku

Sedari dulu…

 

Pertemuan denganmu menggoyahkanku

Semua yang pernah kuinginkan…

Semua yang selalu kuharapkan…

Dari seorang yang lama aku tahu…

Ada di kamu…

 

Pelengkap yang bisa mengisi hidup…

Penyempurna yang bisa membuatku cukup…

Semuanya ada di kamu.

 

Dulu, hampir semuaku adalah dia…

Sekarang, semua berubah setelah hadirmu…

Mungkinkah kamu…?

September 7

Mempertanyakan Kita

Aku lupa apa yang mengawali kita bersama

Tapi aku ingat sejak awal aku sudah ada rasa

Yang membuatku ingin selalu dekat kamu

Meski sadar takkan ada kesempatan kita bersama

Meski tahu memaksakan kita sama dengan mempersiapkan diri untuk terluka

 

Kemungkinan untuk terjadinya sesuatu memang selalu ada

Tapi itu tidak akan berlaku untuk kita

Karena bukan hanya kecil peluang untuk kita berdua

Tapi memang itu sudah tidak lagi ada

 

 

Kita dekat

Kita sama-sama ada rasa

Tapi tak ada hubungan istimewa

 

Aku…

Mempertanyakan kita

September 4

Keinginan Hati

Kau memilih pergi

Tinggalkanku di sini

Sendiri

Dengan penuh gores luka hati

 

Kau memilih pergi

Saat inginku kau di sini

Menemani

Bahagiakan hati ini

 

Ingin kau kembali, tapi hati tak mau lagi

Inginnya kamu di sini, tapi hati takut sakit lagi

Mungkin yang terbaik jika kamu tetap pergi

Karena hati ini masih layak untuk bahagia, dan tidak terus disakiti

 

 

 

August 29

Dewanggara Aditama

Aditama.

Gue lupa alasan kenapa gue suka nama itu.

Yang gue ingat betul, nama itu sudah 2x gue pakai untuk hal yang menurut gue penting.

Pertama, ketika gue buat CV untuk mendaftarkan perusahaan gue.

Kedua, ketika gue memutuskan nama itu menjadi nama belakang karakter utama gue yang ada di naskah pertama (yang berkali-kali ditolak oleh penerbit hingga sekarang gue memutuskan untuk kembali menulis ulang ceritanya.)

 

Ketika ada teman yang bertanya soal nama anak untuk anak pertamanya pun gue kembali memilih nama itu sebagai rekomendasi utama.

Aditama sendiri (kalau versi gue) berarti orang pertama yang akan menjadi besar.

Adi: Besar. Tama: diambil dari kata Pertama.

 

Jadilah gue akan tetap pada pendirian gue akan memberi nama Aditama untuk sekian orang yang meminta rekomendasi nama untuk anaknya. Karena gue percaya, bukan cuma perusahaan gue (nanti) dan tokoh utama di novel fiksi gue (yang juga mungkin akan terbit nanti-nanti) yang akan besar, tapi juga anak-anak yang gue percayakan dengan “titipan nama” itu. Insya Allah.

 

Gue sendiri enggak akan pakai nama Aditama kalau Tuhan memberikan kesempatan untuk gue menjadi seorang ayah. Alasannya sederhana, bukan karena gue enggak suka nama itu atau gue enggak mau anak gue jadi orang besar, tapi karena gue mau anak gue menyandang nama Alamsyah sebagai nama akhirnya, sama seperti gue. Gue yakin nama akhir gue masih cocok untuk mereka dan akan membuat mereka menjadi seseorang yang jauh lebih baik dalam segala hal dibanding gue.

 

Sekian dulu deh ceritanya.

Terima kasih untuk kalian yang sudah mau meluangkan waktu membaca tulisan iseng gue yang satu ini.

 

btw, salam kenal dari karakter utama dari cerita fiksi yang sedang gue garap saat ini, Dewanggara Aditama.

Semoga akan segera tiba waktunya buat gue mengenalkan dia dan kisahnya sama kalian.

 

See you!