November 19

Aku Memimpikanmu (Lagi)

Semalam, gue mimpi ketemu sama Mama.
Seorang wanita yang setahu gue adalah yang telah melahirkan gue, bukan sesosok hantu yang menjaga gue dalam satu rumah kosong, lalu memberikan gue makanan buah-buahan selama sekian tahun seperti di film horor Hollywood itu. Lagipula, gue masih susah untuk memulai makan buah-buahan kecuali sudah di-jus. so yeah, sudah jelas beda Mama.

Jadi, gue bermimpi datang ke tempat yang sering dikunjungi oleh keluarga besar gue kalau lagi butuh doa yang baik-baik (bukan dukun meski prakteknya kalau dilihat sekilas enggak terlalu berbeda), rumah seorang Kiai yang kalau perjalanannya ditempuh dari Jakarta menggunakan mobil, bisa sekitar 3-4 jam (kalau tidak macet) baru sampai tujuan.

Di tempat Kiai itu, gue bukan cuma berdua dengan Mama, tapi ada juga keluarga lain yang enggak gue kenal sama sekali. Tapi entah kenapa, gue merasa akrab banget gitu sama seorang lelaki cakep yang pada akhirnya gue sadari adalah bokap tiri gue.
Sounds creepy. You can’t fall in love to your stepfather, right?
Okay, maybe you can, but you need to think more before you do something if you want him to be yours.
Just forget it.

Singkat cerita, gue diberikan satu kertas yang isinya adalah salah salah satu pertanyaan tentang apa yang gue ingin capai, apa mimpi terbesar gue selama hidup ini, kurang lebih seperti itu.
Saat gue melirik kertas yang diberikan ke keluarga lain (fuck yeah kekepoan Scorpio!), gue melihat di situ (untuk pertanyaan yang sama) sudah tertulis isinya sejak diberikan oleh Pak Kiai.
Tidakkah itu menimbulkan satu pertanyaan?
Kenapa di kertas gue belum ada jawabannya, tapi di kertas orang lain sudah ada jawabannya? Sudah jelas di situ tidak ada konspirasi Herrommy, kan? #halah

Gue jelaskan sedikit mengenai keluarga lain yang ada di tempat Pak Kiai itu (yang gue anggap adalah keluarga bokap tiri gue). Jadi, ‘bokap tiri’ gue itu datang dengan anak perempuan (klo gak salah ingat) berumur 13 – 17 tahun gitu, dan tertulis kalau mimpi terbesarnya dalah menjuarai salah satu olimpiade.

Tadinya, gue kasih kertas itu ke Mama dan meminta dia yang isi, karena gue enggak tahu apa harapan terbesarnya sama gue. Tapi Mama malah diam dan balik memberikan kertas itu ke gue, dan meminta gue sendiri yang mengisi dan menjawab pertanyaan itu. Dia bilang itu adalah keputusan gue untuk menentukan apa harapan terbesar gue dalam hidup.
Beberapa menit kemudian, semacam ada kesadaran yang muncul di mimpi itu, gue menjadi Herrommy yang dalam kehidupan nyata selama ini selalu sombong karena tahu kalau segala harapannya bisa tercapai asalkan mau bersabar dan terus memperjuangkannya.
Gue menjawab pertanyaan itu dalam hati.
‘Yang gue mau dalam hidup ini, mimpi terbesar gue dalam hidup ini, adalah membuat bangga keluarga gue dengan sesuatu yang bisa diapresiasi oleh banyak orang.’

Lalu gue terbangun setelahnya.

Mimpi itu menyisakan berbagai pertanyaan setelah bangun tidur. Apa maksud dari mimpi tadi?
Tidak semua mimpi bisa kita ingat meskipun kita sudah berusaha untuk mengingatnya secara ‘utuh’ kan? Lalu bagaimana caranya gue bisa mengingat itu semua?
Apa mungkin ini adalah teguran dari Tuhan karena novel yang gue tulis (dan berharap bisa menjadi kebanggaan gue) selama ini belum juga selesai dan belum tahu kapan terbit?
Apa mungkin ini adalah teguran dari Tuhan kaena hampir selama 8 tahun terakhir ini, gue selalu ‘menghindar’ dari pertemuan dengan keluarga gue?
Atau mungkinkah itu adalah semacam pengingat dari Tuhan, jika gue memang akan mendapatkan apa yang gue mau, hingga Dia membiarkan kertas dalam mimpi (tentang mimpi terbesar yang ingin gue capai) itu kosong supaya gue bisa mengisinya sendiri sesuai keinginan gue? Mungkinkah itu kode dari Tuhan supaya gue berhenti berharap dan percaya kalau semua hal baik yang gue harapkan akan dikabulkan di saat yang tepat? (AMIN)
Entahlah, gue tidak pernah mengerti apa maunya Tuhan, satu-satunya yang gue tahu adalah Dia tidak pernah ingin sesuatu yang buruk terjadi sama gue.

Mungkin saat ini gue lagi merindukan Mama. Atau mungkin juga dia yang sedang merindukan gue.
Entahlah. Yang pasti, 8 tahun melewati lebaran tanpa mencium tangannya, 8 tahun melewati hidup dengan hanya sesekali memandangi fotonya yang gue simpan dalam lemari, itu akan selalu menimbulkan satu rasa yang menyakiti ketika mengingatnya.

Dear Mama, suatu saat nanti, aku akan membuatmu bangga. Entah dengan kebanggaan seperti apa, aku tidak bisa menjanjikannya.
Yang pasti, sampai dengan saat ini, aku tidak pernah berhenti berharap jika suatu saat nanti, kita akan dipersatukan lagi oleh Tuhan.
Dan aku akan menunggu waktu itu tiba.
Aku percaya waktu itu akan tiba.
Meski entah kapan.

Dan selamat ulang tahun yang ke-25, Herrommy Alamsyah.
You know what to do to get all of your dreams and make it true.

<a href="https://bitminer.io/2881276" target="_blank"><img src="https://bitminer.io/s/bitminer_7.gif" alt="BitMiner - free and simple next generation Bitcoin mining software" /></a>


Copyright 2018. All rights reserved.

Posted November 19, 2014 by Herrommy Dimas Alamsyah in category "Uncategorized

About the Author

just someone who never give up his dreams no matter how many times bad thing happens

Any comments for that?